Bom Bunuh Diri dan Mati Tanpa Penis?

Kalau berpengetahuan, ngapain konyol mati bunuh diri? Bukankah akan lebih pintar dengan ber-ijtihad, berjihad, dengan syiar agama yang santuy dan mesra?

Senin, 29 Maret 2021 | 20:49 WIB
0
48
Bom Bunuh Diri dan Mati Tanpa Penis?
Usai ledakan bom bunuh diri di Makassar (Foto: tempo.co)

Sudah bisa ditebak, orang MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengatakan kejadian di Makassar, bom bunuh diri di depan gereja, jangan dikaitkan agama. 

Terus? Dikaitkan pohon? Atau dicenthelkan ke tempat jemuran? Napa sih suka cuci-tangan? Karena patuh dan taat pada gerakan 3M? Memakai masker, untuk tutup mulut? Mencuci tangan, untuk melepas tanggung jawab? Menjaga jarak, agar tak dikait-kaitkan? 

Padal, sangat jelas yang dilakukan teroris itu, bisa dipastikan berkait dengan keyakinan berkeagamaannya. Jika tidak, bagaimana mungkin hilang akal melakukan bom bunuh diri?

Apakah benar pelaku bom bunuh diri tidak tergoda omongan kayak Tengkuzul, bahwa mereka yang mati di jalan jihad, akan bertemu puluhan ribu bidadari? 

Jika saya menuliskan ini, tidak dalam rangka mengatakan agama buruk. Karena yang senyatanya, yang mesti dipertanyakan, lebih pada cara manusia memahami, meyakini, dan menjalankan keyakinan berkeagamaannya. Karena keyakinan pada ideologi (entah itu politik dan apalagi agama), bisa membuat hilang akal. 

Kartini, perempuan jadul dari Jepara itu, puluhan tahun lampau dengan tajam menuliskan, “Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama?”

Itu menandakan, persoalannya lebih besar pada penghayatan manusia, yang antara lain juga harus dilihat pada bagaimana agama itu diajarkan oleh manusia kepada manusia. 

Karena toh senyatanya, sebagai contoh, antara ustadz satu dan lainnya, beda cara mengajar dan yang diajarkan. Antara kyai atau ulama satu dan lainnya, beda-beda kesukaannya pada tongseng.

Contoh gampangnya saja, apakah kita setuju menyamakan Gus Dur dengan Rizieq? Atau cara mikir kita cuma sebatas anjing itu binatang, kucing juga binatang, makanya kucing dan anjing itu tidak beda? 

Analogi semacam itu, mungkin bukan ciri generasi analog. Tapi lebih pada mereka yang jika tak malas berpikir, suka menghindari tanggungjawab, dan suka menyalahkan liyan.

Contohnya, MUI konon kumpulan para ulama? Ulama konon adalah cendekiawan? Kalau ada salah pemahaman dalam keyakinan beragama, itu tanggungjawab siapa? Mestinya, yang ngerti agama, yang salah satunya MUI itu. 

Tapi kalau yang ngerti agama mengatakan peristiwa Makassar tak berkait agama, cem-mana pula kita bisa mendapat jawaban,’ Kenapa ada orang bodoh mati bunuh diri dengan bom?

Bagaimana kalau ledakan bom itu bukan hanya membuat badannya hancur, melainkan penisnya terpental ke aspal jalan? Kalau mati tanpa penis, apa nggak nyesel sekiranya ketemu bidadari? 

Tapi, begitulah. Hal itu hanya menguatkan penelitian yang dilakukan beberapa akademisi di Leeds Becket University (LBU), West Yorkshire, Inggris, beberapa tahun silam (Jurnal Intelligence, 2017), bahwa semakin ‘religius’ sebuah negara semakian rendah prestasi para peserta didik di bidang sains dan matematika. 

Para pelajar di negara yang mayoritas penduduknya mengaku agnostik atau ateis, rata-rata memiliki catatan prestasi yang lebih baik dalam kedua bidang tersebut. Di negara sekuler macam Singapura, pendidikan agama tidak ditemukan di sekolah, karena dilarang oleh Pemerintah.

Apakah negara ini menjadi terkutuk dan dilaknat tuhan? Nyatanya negara itu lebih terasa bermanfaat dan mensejahteraan warga negaranya.

Baca Juga: Masyarakat Mengutuk Aksi Teror Bom di Makassar

Dalam praktik kehidupan keseharian mereka, social religion menjadi kuat, yang antara lain kadar toleransi, sebagai bagian praktik religiousitas, lebih tinggi. Sedangkan di Indonesia yang suka mendaku negara dan bangsa religius, senyampang itu paling barbar dalam perilaku kesehariannya dan apalagi di medsos.

Tapi apa hubungannya dengan bom bunuh diri? Ya, kalau berpengetahuan, ngapain konyol mati bunuh diri? Bukankah akan lebih pintar dengan ber-ijtihad, berjihad, dengan syiar agama yang santuy dan mesra? Tanpa harus mere-mere yang membuat orang bukan hanya takut pada agama, tapi juga benci. Camkan! 

@sunardianwirodono

***