PR Besar Membentang di Depan Ganjar

Ganjar harus meyakinkan rakyat Indonesia bahwa ia bertarung untuk seluruh rakyat, dan tidak hanya sekadar bertindak sebagai petugas partai PDIP, atau menganggap PDIP harga mati.

Jumat, 21 April 2023 | 21:39 WIB
0
305
PR Besar Membentang di Depan Ganjar
Ganjar Pranowo (Foto: Fajar.co.id)

Pada tanggal 21 April 2023 pukul 13.45, Megawati Soekarnoputri menetapkan Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, menjadi calon Presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pertanyaan yang langsung memasuki benak saya adalah… jika akhirnya menunjuk Ganjar Pranowo, mengapa PDIP harus menunggu begitu lama. Kenapa tidak dulu-dulu…

Saya tadinya berharap ada beberapa nama yang dimiliki PDIP, dan Ganjar Pranowo yang dipilih… (baca: Presiden bisa datang dari kalangan manapun) tetapi rupanya bukan itu yang terjadi.

Kita masih berkutat pada asumsi bahwa calon Presiden 2024-2029 itu kalau bukan dari elite militer, ya dari Gubernur. Yah memang masih ada waktu, dan juga mungkin ada partai besar lain yang memiliki calon Presiden yang tidak datang dari dua jalur itu.

Jangan dianggap saya menentang pencalonan Ganjar Pranowo oleh PDIP. Sama sekali tidak. Bagaimanapun Ganjar Pranowo pernah dianggap sebagai calon yang populer. Yang akan saya tentang (lawan) jika Megawati Soekarnoputri menetapkan putrinya, Puan Maharani, sebagai calon Presiden dari PDIP.

Alasannya, Puan sama sekali tidak punya nilai jual untuk meraup suara yang besar, yang dapat membawanya menjadi Presiden periode 2024-2029.

Perlu disadari bahwa jalan yang menghadang di depan Ganjar Pranowo amat sangat berat. Itu sebabnya, pekerjaan rumah (PR) amat sangat besar.

Dalam kasus penolakan terhadap tim sepakbola U-20 Israel, yang dinilai tidak dapat menunjukkan dirinya sebagai seorang negarawan. Ia seharusnya mampu melakukan penolakan itu secara elegan. Tapi seperti yang ditunjukkannya pada saat itu (baca: Ganjaran blunder Ganjar), ia hanya politisi biasa-biasa, yang hanya secara normatif mengikuti arahan partai. Ia bahkan tidak mencoba untuk mengusut soal Palestina lebih dalam.

Tentunya, sikap yang ditunjukkan Ganjar itu baik bagi posisinya di PDIP, ia pasti akan dipuji oleh Megawati Soekarnoputri. Apalagi dalam suatu wawancara, Ganjar Pranowo menegaskan dirinya tidak menyesal dengan pernyataannya, dan jika ada kesempatan kedua ia akan melakukan hal yang sama. Cocok sekali dengan apa yang disebut Megawati, Ganjar Pranowo sebagai kader partai dan petugas partai. 

Kepatuhannya pada PDIP (Megawati Soekarnoputri) telah mendapatkan hasil seperti yang dia inginkan. Tinggal kini, ia meyakinkan rakyat Indonesia bahwa ia bertarung untuk seluruh rakyat, dan tidak hanya sekadar bertindak sebagai petugas partai PDIP, atau menganggap PDIP harga mati. Tugas itu sungguh tidak mudah, apalagi kepopulerannya pada saat ini sedang menurun.

Beruntung bagi Ganjar Pranowo, Presiden Jokowi mendukung penuh pencalonan dia sebagai calon Presiden 2024-2029. Akankah Ganjar Pranowo memiliki garis tangan yang sama dengan Jokowi? Itu yang masih harus kita tunggu.

Bila kata petugas partai disematkan kepada Ganjar Pranowo pada tahapan sekarang ini masih okey-okey saja. Akan tetapi, bila disematkan pada Presiden Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi, kok rasanya kurang pas, apapun alasan yang dikemukakan sebagai pembelaan.

Oleh karena, kita harus cermat dalam melihat hal itu. Yang diberikan PDIP kepada Jokowi adalah endorsement untuk maju dalam pemilihan Presiden. Bukan mengangkat Jokowi sebagai Presiden.

Soal menang dan kalahnya, atau perolehan suara yang didapat Jokowi dalam pemilihan Presiden pada tahun 2014 dan tahun 2019 itu adalah pencapaian Jokowi sendiri. Mengingat jumlah suara yang diperoleh Jokowi amat sangat jauh di atas perolehan suara PDIP dalam pemilihan umum (pemilu).

Apalagi, walaupun Jokowi di-endorse oleh PDIP tetapi pada saat terpilih menjadi Presiden, ia adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Ia tidak lagi hanya merupakan milik PDIP. Kalau disebut sebagai kader PDIP itu masih terterima. 

Tetapi, kita mengenal Jokowi sebagai sosok yang rendah hati, ia santai-santai saja menyikapinya. Dan, itu justru membuat penghargaan terhadap dirinya semakin tinggi.

***