Selembar Surat untuk Arif Poyuono

"Terus terang saya kecewa dengan manuver-manuver politik anda. Anda bisa belajar pada perjuangan I.J Kasimo tentang bagaimana berpolitik".

Sabtu, 18 Mei 2019 | 07:44 WIB
0
444
Selembar Surat untuk Arif Poyuono
karikatur karya Joko Dwiatmoko. (foto By Joko Dwiatmoko)

Tidak salah sih anda memilih jalur politik, dan tidak pula saya akan campur tangan masalah pilihan anda  di Gerindra. Semua orang mempunyai hak untuk memilih partai. Itu adalah hak warga negara. Tidak pula saya memprotes bahwa anda adalah salah satu pengagum Prabowo Subianto.

Cuma dari rekam jejak anda saya tahu ada ambisi kuat untuk malang melintang di dunia politik. Sepertinya anda sangat berbakat sekali untuk masuk dalam dunia politik Indonesia yang penuh intrik. Lebih sering mengandalkan otot dan “ngeyel” daripada logika berpikir sehat.

Debat menjadi sebuah tamasya, dan anda sangat mendalami peran dalam perdebatan. Entah bagi penonton yang melihatmu, anda itu seperti waton suloyo, itu karena dalam hati saya mungkin saya lebih mirip cebong daripada kampret. Setiap kali bicara, setiap kali berdebat anda begitu ajaib dengan berondongan kata-katamu.

Tapi itulah bakat anda sebagai jajaran petinggi partai yang tugasnya memang membobardir penonton dengan debat-debat yang bikin panas. Dan sampai saat ini berkat perdebatan adu otot leher itu membuat televisi menjadi magnet luar biasa bagi orang- orang yang memang suka debat politik, kecuali saya, mending ganti chanel cari frekwensi yang menayangkan cerita inspiratif.

Melihat wajah anda memang tampak lucu untuk ukuran politisi, anda lebih mirip pelawak daripada juru bicara partai politik. Saya berpikir betapa beruntungnya anda bisa sering- sering menjadi pusat perhatian media. Wajah anda terpampang di mana- mana dan kata- kata anda seperti sebuah mata air bagi media. Anggaplah anda sebagai media darling.

Baca Juga: Semburkan Narasi Hoaks, Elektabilitas Gerindra Melorot

Saya malah tahu bahwa anda mempunyai nama babtis mentereng di belakang nama. F.X (Fransiskus Xaverius, rohaniwan pejuang dan mionaris penyebar ajaran Kristus yang tangguh. yang mengabdikan hidupnya untuk pelayanan Misi di Asia).

Menyandang babtis bagi umat Katolik itu sebetulnya berat. Latar belakang babtis itu bisa memberi spirit perjuangan seseorang. Saya juga Katolik dengan babtis Ignatius. Saya tahu cerita tentang Ignasius dari orang tua, saya membaca sejarahnya dan mencoba meresapi sedikit filosofi kehidupannya. Saya pikir orang katolik mampu memaknai perjuangan nama babtisnya bukan sekedar menempelkannya sebelum nama pemberian orang tua.

Jejak politik anda memang kontroversial, banyak sekali kata- kata anda yang tidak tercermin dalam ajaran kasih. Mungkin karena anda politisi maka segala cara dlakukan. Karena banyak orang mengatakan politik dan agama itu seperti air dan api. Tetapi di Indonesia politik dan agama campur baur. Agama begitu masuk dalam hiruk pikuk politik. Dan politik berusaha menggunakan jalur agama untuk mempengaruhi masyarakat dan menangguk suara.

Saya tertegun, kaget dan bingung saat dalam banyak media anda mengatakan bahwa masyarakt tidak perlu membayar pajak karena dipimpin pemerintahan yang tidak sah.

Di situ saya merasa anda salah memahami konteks. Apalagi jika anda mengaitkan dengan ajaran Kristus, Kristiani. Kristus selalu mengajarkan untuk umatnya untuk taat pada negara, membayar pajak karena itu memang kewajiban warga negara. Sebagai umat yang taat seharusnya selain taat pada ajaran agama juga taat pada negara.

Di situ saya menjadi tidak habis pikir bagaimana anda memahami ajaran agama anda. Saya pikir anda belum sadar bahwa nama babtis di belakang anda adalah pengingat untuk terus mewartakan ajaran lewat jalur politik, bukan berarti melakukan upaya kristenisasi, tapi membumikan ajaran hidup Kristus pada teman- teman anda orang- orang partai untuk mengedepankan perilaku baik sebagai warga negara yang taat pada negara dan taat pada agama.

Baca Juga: Koalisi Gerindra Retak, Demokrat Minta Talak?

Saya tidak berani mengkotbahi anda sebab sayapun masih terlalu cetek dalam mendalami agama. Tetapi paling tidak anda mengurangi blunder untuk mempermalukan ajaran Kristiani yang mengutamakan kasih sayang. 100 persen Indonesia seratus persen katolik. Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar  dan berikan kepada Allah apa yang  wajib kamu berikan pada Allah”…(Injil Markus 12:17)

Bila anda sedikit mengingatkan kepada teman teman anda untuk taat aturan saja maka negara ini akan damai. Terus terang saya kecewa dengan manuver-manuver politik anda. Anda bisa belajar pada perjuangan I.J Kasimo tentang bagaimana berpolitik.

Terimakasih. Semoga anda mendengar suara sayup sayup warga negara yang rindu Indonesia damai dan jauh dari hiruk pikuk politik yang mencemaskan.

***