Mata Gus Dur

Mata fisik Gus Dur boleh buta, tetapi mata hatinya tajam dan benderang. Mata hati seorang wali yang mampu melihat sebelum sesuatu terjadi, ngerti sadurunge winarah, kalau kata orang Jawa.

Jumat, 29 Mei 2020 | 10:48 WIB
0
422
Mata Gus Dur
Foto: indonesia.go.id

Banyak peristiwa di dunia ini terjadi secara unpredictable. Seperti pandemi Corona di tahun 2020 ini, nyaris tak ada yang memprediksi sebelumnya sehingga penduduk dunia seolah gagap dan tak siap menghadapi.

Begitu juga peristiwa-peristiwa politik di tanah air. Di tahun 1998, sebagian besar masyarakat Indonesia merasakan bagaimana hidup dalam cengkeraman kekuasaan orde baru yang penuh ancaman dan ketakutan. Ormas dan partai politik dibuat tak berkutik. Mahasiswa dibungkam. Media massa sedikit saja sumbang atau mengkritik pemerintah langsung dibredel.

Dengan kekuasaan otoriter tanpa oposisi, tak terlintas dalam benak masyarakat kala itu, rezim Soeharto akan tumbang dalam waktu dekat. Bahkan tak terlintas dalam pikiran, kejatuhan rezim penguasa orde baru itu akan dipicu oleh faktor eksternal yang tak terduga, yaitu krisis moneter. Krisis yang memantik api dalam sekam yang kian membara di ujung kekuasaan The Smiling General.

Naiknya Gus Dur menjadi Presiden RI di tahun 1999 juga terjadi di luar nalar dan prediksi banyak orang. Seorang Gus Dur dengan kondisi fisik yang tidak ideal untuk memangku jabatan tertinggi sebuah negara, ternyata bisa terpilih menjadi presiden. Meski dalam prosesnya Gus Dur mengaku tak memiliki modal apa-apa kecuali modal dengkul. Itupun dengkulnya Amien Rais.

Peristiwa lainnya adalah ketika Joko Widodo yang berasal dari kalangan rakyat jelata, pernah tinggal di bantaran kali dan hidup miskin di masa kecilnya. Dengan kerja keras dan keuletan ia berhasil menjadi pengusaha mebel yang sukses lalu memasuki dunia politik. Siapa sangka dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun karirnya melesat. Mulai dari Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga jabatan tertinggi, Presiden Republik Indonesia.

Naiknya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi gubernur DKI dan kekalahannya dengan rival yang tak diunggulkan di awal pencalonan, Anies Baswedan, juga menjadi peristiwa politik yang penuh kejutan. Gerakan 212 dan politik identitas menambah suasana politik semakin panas hingga akhirnya menciptakan dua kubu militan di tataran akar rumput yang sampai hari ini tak kunjung berhenti berseteru. Seperti minyak dan air.

Semua kejutan dan peristiwa-peristiwa tak terprediksi di atas boleh jadi luput dari pandangan mata manusia biasa atau Mata Najwa sekalipun, tetapi tidak dengan mata Gus Dur.

Banyak peristiwa terjadi setelah beberapa waktu sebelumnya Gus Dur sempat menyinggung lewat ucapan atau dialog santai dengan para tokoh masyarakat atau politisi. Seperti peristiwa jatuhnya rezim Soeharto, naiknya Gus Dur sendiri menjadi RI-1, KH. Said Aqil Siraj menjadi ketua PBNU, Jendral Polisi Sutarman menjadi Kapolri, Ahok menjadi gubernur DKI dan Jokowi menjadi presiden.

Sulit dipungkiri memang, bila pembuktian-pembuktian itu menjadi alasan banyak orang untuk mengatakan bahwa Gus Dur memiliki kemampuan melihat masa depan. Banyak yang mempercayai beliau adalah seorang waliyullah. Di dunia sufi waliyullah adalah orang yang sangat dekat dengan Allah. Ia dikaruniai karomah sehingga memiliki kelebihan spiritual di atas rata-rata manusia.

Boleh jadi Gus Dur ditakdirkan hidup dalam keadaan buta dan sakit-sakitan di separuh hidupnya, tetapi barangkali itu dikehendaki oleh Allah sebagai hijab atau tabir kewaliannya. Meskipun sakit-sakitan beliau tak pernah mengeluh, tak pernah bersedih dan tak pernah takut menghadapi apapun juga siapapun kecuali Allah. Ciri-ciri seorang wali kabarnya seperti itu.

Mata fisik Gus Dur boleh buta, tetapi mata hatinya tajam dan terang benderang. Mata hati seorang wali yang mampu melihat sebelum sesuatu terjadi, ngerti sadurunge winarah, kalau kata orang Jawa.

Kiranya masih akan ada ucapan-ucapan beliau yang rasanya kelak akan menyusul terjadi.

Beliau pernah membesarkan hati Ahok saat mengatakan orang Cina tak mungkin jadi gubernur. Apa kata Gus Dur? : Jangankan jadi gubernur, jadi presiden saja kamu bisa.

Atau, saat Gus Dur berkata kepada Prabowo: Kamu sabar dulu, di usia matang nanti kamu akan menjadi pemimpin.  

Kita lihat saja nanti. Kalau benar itu terjadi, betapa negeri ini sangat kaya akan humor, saat menyaksikan Prabowo atau Ahok menjadi presiden di tengah isu anti Cina yang selalu menjadi dagangan politik paling seksi selain isu kebangkitan PKI. Tetapi kalau tidak terjadi, ya tidak apa-apa.

Begitu saja kok repot. 

****