Pemerintah dan Rakyat Harus Berterimakasih pada Anggota DPR Ini

Sulit membayangkan kalau tidak ada sosok FH dan FZ di DPR? Apakah DPR menarik untuk selalu disimak dan publik akan tahu banyak soal politik dan kritik politik?

Kamis, 3 Oktober 2019 | 06:07 WIB
0
279
Pemerintah dan Rakyat Harus Berterimakasih pada Anggota DPR Ini
Fahri Hamzah dan Fadli Zon (Foto: Tempo.co)

Kalau rakyat Indonesia ditanya, apakah citra anggota DPR bagus? Kemungkinan besar jawabannya "Tidak!"

Kalau ditanyakan apa pendapat mereka saat bayangkan Gedung DPR dan anggota DPR? Banyak. Negatif. Bikin ilfil.

Tapi apa mau dikata, toh para anggota DPR itu bisa duduk manis di dalam gedung DPR karena pilihan rakyat juga.

Namun dari sekian banyak penilaian negatif itu, bukan tidak ada pembelajaran yang di dapatkan. Seperti kata bijak ; "Hal negatif bisa memberikan pembelajaran positif". Apa itu?

Citra minor lembaga DPR tak menyurutkan perhatian publik pada lembaga tersebut. Kadarnya tidak main-main. Hampir setiap hari dan bila ada kejadian besar terkait sosial politik, mata rakyat tertuju kepada DPR.

"Kalau nggak ada lu, nggak rame!"

Slogan iklan itu mungkin cocok disematkan pada dua anggota DPR hebat ini. Tanpa mereka berdua, DPR tidak menarik bagi rakyat dan pemerintah.

Mereka adalah Fadli Zon dan Fahri Hamzah (FZ dan FH). Walau mereka berbeda partai, tapi terlihat selalu kompak "mengkritisi" kebijakan pemerintah. Kritiknya seringkali sangat keras, dan "tak masuk akal sehat". Asal Bacot. Konyol. Tidak etis. Terlalu dangkal. Pragmatis.

Ibarat sebuah filem, FH dan FZ adalah pemain antagonis. Publik dan pemerintah dibikin dongkol selama "filem demokrasi" berlangsung. Namun didalam kedongkolan, publik "dipaksa" mencari tahu lebih dalam  persoalan politik.  Publik "dipaksa" mau menatap DPR. Publik jadi banyak tahu kebijakan pemerintah yang kiranya tidak sempurna.

Secara langsung atau tidak langsung, FH dan FZ telah menjadi inspirator pembelajaran politik bagi rakyat. Sementara di sisi lain menjadikan pemerintah (semakin) hati-hati dalam melaksanakan kebijakan pembangunan. Bagi sesama anggota DPR lain, FH dan FZ menjadi rujukan serta kawan dan lawan dalam dinamika kerja parlementer.

Apa yang anda bayangkan kalau tidak ada sosok FH dan FZ di DPR? Apakah DPR menarik untuk selalu disimak? Apakah publik akan tahu banyak soal politik dan kritik politik?

Walau menjadi peran antagonis yang "nyebelin", harus diakui, FH dan FZ berkontribusi bagi pendidikan politik bagi masyarakat awam. 

Kalau mereka tetap jadi pemeran antagonis di DPR, aku sih rapopo.

***