Korupsi, Sangking Pinter & Bodonya

Di situ tampak, justeru Anies Baswedan menunggangi ‘penderitaan’ Johny G. Plate untuk kampanye politiknya. Teganya!

Sabtu, 20 Mei 2023 | 05:58 WIB
0
136
Korupsi, Sangking Pinter & Bodonya
Johnny G. Plate dengan Maybach-nya (Foto: solopos.com)

Apakah politisasi hukum atau atau hukumisasi politik, korupsi adalah korupsi. Dan kita tahu apa itu korupsi. 

Dari rangkaian pidato reaksi dari Willy Aditya, Surya Paloh, kemudian Anies Baswedan, justeru merekalah yang mempolitikkan kasus Johny G. Plate sebagai tersangka korupsi. Bahkan, Anies Baswedan mengatakan; “Tuhan akan berpihak kepada kebenaran!” 

Ya, iyalah. Mongsok tuhan berpihak kepada yang salah? Itu pernyataan yang tak kalah korupnya. Karena menjadi bias justeru ketika mencomot kalimat normatif itu. Secara normatif, tak ada yang salah bahwa “tuhan akan berpihak kepada kebenaran”. 

Mangsalahnya, siapa berada di pihak yang benar di situ? Siapa pula dipihak yang kalah di situ? Yang diucapkan Anies, ingin memberi kesan bahwa merekalah dipihak benar. Yang salah? Yang menersangkakan Johny G. Plate sebagai pelaku tindak korupsi.

Di situ tampak, justeru Anies Baswedan menunggangi ‘penderitaan’ Johny G. Plate untuk kampanye politiknya. Teganya! 

Willy Aditya, sebagai aktivis Reformasi 98 dan kemudian pimpinan DPP Partai Nasdem, bangga mengaku sahabat karib Budiman Sudjatmiko, memakai kasus penangkapan Johny G. Plate sebagai kesempatan untuk menghina Presiden sebagai petugas partai. 

Sebagai kader partai, dalam istilah PDIP, Jokowi adalah petugas partai. Namun meski sebagai petugas partai dari PDIP, karena memenangkan Pilpres, maka oleh konstitusi Jokowi diangkat sebagai presiden. Kepala pemerintahan sekaligus kepala negara.

Untuk itu, Jokowi selaku presiden, bersumpah dalam posisi sebagai presiden, bukan sebagai kader partai atau petugas partai. Secara konstitusional, Jokowi tunduk pada aturan hukum di atasnya. 

Jika Willy Aditya tidak sependapat dengan istilah itu, ia bisa menyarankan Surya Paloh untuk ‘ngapain berkoalisi dengan petugas partai’?

Ketika mencapreskan Anies, dengan sembari menyatakan keluar dari koalisi pemerintah, akan memberi poin plus pada Nasdem. Apalagi jika Nasdem berani mengatakan berdiri sebagai oposan. 

Pernyataan Surya Paloh mungkin justeru yang paling terlihat proporsional. Silakan periksa, dari ujung kiri ke ujung kanan, atas-bawah, muka-belakang dan lain sebagainya. Kenapa harus dengan kata-kata bersayap yang hiperbolik? Supaya gesture tangannya bisa teatrikal; kiri-kanan, atas-bawah, muka-belakang. Nggak Cuma garuk-garuk tangan kayak Jokowi. Untuk apa? 

Untuk mengesankan bahwa Surya Paloh seorang aktor politik yang demokratis, proporsional, tidak emosional, matang, dewasa, bersih. Sehingga dengan impresi itu, ia tentu tidak akan membubarkan partainya, sebagaimana disumbarkan dulu jika ada kader tersangkut korupsi. Kenapa begitu? Karena dulu dia masih sangat emosional. Bewoknya belum terlalu lebat. Sekarang sudah lebih matang. 

Tetapi apapun, korupsi adalah korupsi. Johny G. Plate sendiri, dari gerak-gerik dan perilakunya, sudah menunjukkan ciri pejabat publik bermasalah. Pejabat publik yang bergaya-hidup arogan. Tidak sensitif. Sensibilitas sosialnya rendah. Ia berkali berangkat kerja dengan mobil pribadi super mewah, yang tak ada dalam daftar LHKPN. Nilai korupsi yang mencapai 80% dari besaran anggaran, menunjukkan keparahan perilaku yang diperlihatkannya itu. 

Pertanyaan kritisnya, yang tak banyak ditanyakan wartawan dan para analis politik; Kenapa untuk proyek strategis nasional, terkesan pengawasannya tidak ketat? Sebagai jebakan betmen, atau sangking pinternya Johny G. Plate? Atau sangking bodonya?

Sunardian Wirodono