Pada Akhirnya Prabowo Akan "Legowo" Menerima Kekalahan

Sebagai seorang Ksatria, negarawan yang nasionalis, Prabowo bisa menerima kekalahannya, itu kalau legitimasi kemenangan Jokowi bisa diyakininya.

Jumat, 19 April 2019 | 08:54 WIB
0
231
Pada Akhirnya Prabowo Akan "Legowo" Menerima Kekalahan
Foto: Detik.com

Sekeras-kerasnya hati seseorang, tetap saja mempunyai sisi kelembutan, dan Prabowo juga punya sisi kelembutan. Itu terbukti ketika Ustadz Abdul Somad atau UAS mampu menyentuh sisi itu, sehingga Prabowo sempat mengusap matanya.

Memang tidak semua orang bisa legowo menerima sebuah kekalahan, sementara meyakini kalau dia adalah pemenang, padahal seharusnya menang pun butuh legitimasi sesuai dengan Konstitusi, bukan atas dasar pernyataan orang perorang.

Sisi inilah yang membuat Prabowo bersikap keras, karena semua orang yang ada dilingkungannya, meyakini dia adalah pemenang. Disinilah dibutuhkan mediator untuk meyakini dia, bahwa legitimasi kemenangannya tidak bisa diakui negara, karena bertentangan dengan Konstitusi yang ada.

Sebagai seorang Ksatria, Negarawan yang Nasionalis, saya yakin Prabowo bisa menerima kekalahannya, itu kalau legitimasi kemenangan Jokowi bisa diyakininya. Seperti halnya ketika Pilpres 2014, dengan kebesaran jiwanya Prabowo menerima kekalahannya.

Disinilah peranan tokoh masyarakat yang ada disekitarnya, menjembatani untuk meyakini dia bahwa negara ini diselenggarakan atas dasar pijakan pada amanat konsititusi, bukan malah mengajaknya untuk bertindak melawan amanat konsititusi.

Yang seperti ini sebetulnya bukan sesuatu yang perlu diingatkan, karena setiap politisi, calon pemimpin negara sudah memahami pijakan berpolitik dan bernegara. Tidak satupun tindakan yang bisa dilakukan tanpa pijakan Konstitusi. Kalau itu dilakukan, maka dianggap sebagai tindakan inskonstitusional.

Lingkungan orang besar, harusnya banyak orang-orang bijak yang berpikir dan berjiwa besar, bukan malah mengajak calonnya melanggar hukum dan Undang-Undang. Perbuatan itu hanya akan semakin menghancurkannya, bukan memperbaiki keadaan.

Kita tidak bisa hanya berpikir tentang kepentingan yang bersifat sesaat, diatas kepentingan itu ada kepentingan bersama yang perlu dipikirkan secara dewasa. Negara ini tidak berdiri begitu saja, negara ini berdiri atas perjuangan para pahlawan yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya.

Kita bisa menghancurkan negara ini Dalam sekejab, itu kalau kita hanya berpikir pada kepentingan sesaat. Negara ini harus di Rahmati Allah, untuk itu sebagai bangsa kita harus mendekati cara-cara yang diridhoi-Nya, bukan malah bertindak melawan kehendak-Nya.

Yang hak tetaplah akan menjadi hak, bagi yang memang berhak, dan itu tidak bisa dipakasakan dengan Cara memaksakan kehendak. Biarkanlah Tuhan memenuhi haknya, sebagai manusia kita mengikuti kehendak-Nya. Tidak ada yang bisa kita paksakan kalau memang belum waktunya.

Tuhan mempunyai hak untuk menunda apa yang ingin kita segerakan, sebaliknya Tuhan juga berhak mensegerakan apa yang akan kita tunda. Begitulah keterbatan kita sebagai manusia, tidak ada yang bisa kita lakukan tanpa Ridho-Nya.

***