Sang Mayor

kita akan menyaksikan ini di hari-hari ke depan bagaimana kiprah AHY yang makin dewasa dalam membentuk citra politiknya. Yang perlahan keluar dari lindungan ketek Bapaknya.

Minggu, 7 Februari 2021 | 07:29 WIB
0
128
Sang Mayor
Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: Kompas.com)

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kini sedang menempuh takdirnya. Menjadi politisi yang sebenarnya. Yang harus menghadapi pertempuran mempertahankan reputasinya sebagai pewaris partai politik ayahandanya.

Sama seperti Gibran, anak Presiden yang moncer lebih dahulu lewat pengaruh Bapaknya. Bedanya Gibran tidak berdarah-darah. Sementara AHY berjuang mati-matian untuk naik dari bawah.

Dia dipaksa masuk gelanggang pertempuran politik yang maha kejam. Yang penuh penghianatan. Tapi juga kenikmatan berupa kemenangan.

Untuk mencapai kemenangan itu, dia menurunkan sifat Bapaknya. Yang penuh kalkulasi, timbang sana timbang sini yang membosankan. Terkesan lambat dan malas yang tidak bisa ditutupi oleh bahasa yang berbunga-bunga.

Terkait dengan konfliknya dengan Jenderal Moeldoko, ayahandanya dulu yang maju. Pak SBY menyindir Jenderal Moeldoko agar tidak menjadi the ugly in government.

Pak SBY pada 31 Januari mencuit:

"Bagi siapapun yang memegang kekuasaan politik, pada tingkat apapun, banyak cara berpolitik yang lebih bermoral & lebih beradab. Ada 3 golongan manusia, yaitu "the good", "the bad" & "the ugly". Kalau tidak bisa menjadi "the good" janganlah menjadi "the ugly". *SBY* 

Sinyal ini rupanya tidak ditangkap baik oleh Jenderal Moeldoko. Yang naik pangkatnya dan menduduki jabatan Panglima TNI karena jasa dan keputusan pak SBY. Yang mencium tangan SBY tanda takzim.

Baca Juga: Kudeta di Tumapel

Karena tidak ditanggapi, akhirnya sang jenderal memerintah anaknya sang mayor untuk tampil menggebrak.

Namun dia mayor. Hanya komandan kompi beranggotakan 80 sampai 225 prajurit. Sementara yang dihadapi adalah jenderal besar yang berwenang memerintahkan tentara Mandala berkekuatan 3 sampai 10 juta prajurit.

Karenanya dia langsung bergerak ke arah inti pusat sang jenderal dengan mengirimkan surat ke Panglima Tertinggi untuk menegor sang jenderal. Ini bagus buat menciptakan citra politik bahwa seorang mayor ternyata bisa menembus basis utama sang Jenderal.

Kita tidak tahu apa isi surat itu. Tapi tentunya disertai dengan aneka barang bukti yang menguatkan sinyalemen bahwa Jenderal Moeldoko setidaknya mengetahui atau bahkan merestui atau malahan berminat menumbangkan AHY lewat Munaslub.

Untuk memenangkan pertempuran ini, sebagai komandan kompi mesti bertindak taktis.

Para komandan pleton AHY diminta menyerang langsung ke jantung pertahanan sang jenderal yang punya kekuatan dan politik yang jauh lebih besar. Secara simultan dan terus menerus.

Itu sebabnya, para komandan peleton AHY mengeluarkan kartu demi kartu setelahnya Jenderal Moeldoko nampak mengecilkan manuver sang Mayor.

Pak Jenderal berkomentar dengan nada melecehkan sang Mayor, seperti diborgol saja jika anak buahnya tidak boleh kemana-mana. Atau jadi pemimpin jangan cengeng. Dan sebagainya.

Yang kemudian disambut dengan tepukan riuh rendah para pendukung jenderal lengkap dengan aneka hinaan yang menyakitkan.

Dan sang Mayor kini berada di tengah pertempuran yang sebenarnya. Mereka yang tidak puas dengan kepemimpinannya turun gunung. Ramai ramai menggebuki AHY.

Sikap sang Jenderal dan barisan sakit hati inilah yang justru diharapkan sang Mayor. Dan memastikan kemenangan AHY di gelanggang pertempuran politik.

Kontroversi soal perebutan paksa atau kudeta atau hostile take over, dipastikan membuat Jenderal Moeldoko mundur. Tidak cawe-cawe lagi.

Baca Juga: AHY versus Moeldoko di Antara Isu Kudeta dan Pandemi

Hingga yang tersisa hanya barisan sakit hati. Yang gelagapan karena manuver mereka ketahuan dan diketahui publik. Yang dengan mudah dipatahkan oleh AHY dengan dukungan kuat dari pendukung militan SBY baik di pusat maupun daerah.

Jadi Munaslub yang diharapkan kemungkinan besar tidak akan terjadi. Mereka yang tadinya termakan oleh aksi persiapan kudeta mungkin akan dicopot.

Dari hasil ini, dia akan menegaskan kepada semua pendukung Partai Demokrat bahwa meski dia mayor yang cuma komandan kompi mampu mengalahkan seorang jenderal yang punya pasukan jutaan.

Pensiunan mayor berhasil gebrak seorang pensiunan jenderal yang bintangnya naik dan jadi Panglima TNI karena jasa bapak sang mayor yang juga jenderal.

Lewat cara-cara yang cantik dan strategis.

Ini akan terpatri dibenak pendukung Partai Demokrat dan bisa menarik simpati publik yang lebih luas.

Dari itu, kita akan menyaksikan ini di hari-hari ke depan bagaimana kiprah AHY yang makin dewasa dalam membentuk citra politiknya. Yang perlahan keluar dari lindungan ketek Bapaknya.

Yang akan terus memperjuangkan keutuhan partai keluarganya dan membesarkannya dengan sekuat tenaga. Sambil menegaskan kepada publik bahwa dia memang putra presiden.

Tapi dia berjuang berdarah-darah meniti karir politiknya. Bukan meraih kekuasaan dengan mudah melalui pinggan emas.

Dia mengedepankan citra ini tanpa harus menunjuk hidung siapa yang menerima berkah dari pinggan emas itu. Karena dia tahu. Itu tidak ada gunanya.

***