Mengurus dan Memboyong 3 Anaknya Sambil Berpolitik, Ibu Mega Perempuan Tangguh!

Kamis, 10 Januari 2019 | 18:13 WIB
0
100
Mengurus dan Memboyong 3 Anaknya Sambil Berpolitik, Ibu Mega Perempuan Tangguh!
Megawati dan anak-anaknya (Foto: Poskota News)

Mereka duduk berformasi setengah lingkaran menghadap ke arah kursi Megawati Soekarnoputri. Terlihat sosok-sosok pemuda dan pemudi mewakili hampir semua wilayah Indonesia yang hadir pada saat itu untuk lebih mengenal dan mendengar pesan seorang Ibu yang juga Presiden RI ke-5 dan Ketua Umum partai terbesar di Indonesia saat ini yaitu PDIP.

Sosok kharismatik ini terus bercerita dengan semangatnya. Banyak pesan yang ibu Mega sampaikan di acara yang saya ikuti melalui video siaran langsung di sebuah media sosial ini.
Tetiba suaranya meninggi saat ia mengomentari bagaimana perempuan kita saat ini.

Menurutnya, perempuan Indonesia kini cenderung hanya bisa mendengar, kurang bertindak aktif. Sejenak saya pun ikut tersentil sendiri. Ibu Mega menginginkan perempuan Indonesia untuk jadi cerdas, sadar dan aktif memperjuangkan diri dan menyampaikan aspirasi. Beliau ingin perempuan sadar akan hak-haknya.

Saya sempat berpikir mengenai bagaimana dengan nasib ibu rumah tangga biasa yang harus mengurus anaknya. Sekejap pertanyaan hati saya pun terjawab ketika beliau menceritakan pengalamannya. Saat ketiga anaknya masih kecil, ia mengurus mereka tanpa menggunakan jasa pengasuh atau pembantu rumah tangga.

Ibu Mega mengisahkan bagaimana ia memboyong ketiga putra putrinya ke arisan dan berbagai kegiatan. Sementara itu, di rumah Ia tetap juga mengurus segala kebutuhan mereka termasuk memasak makanan untuk mereka. Salut! Bahkan beberapa temannya terheran-heran melihatnya membawa ketiga anaknya kesana kemari di antara banyak kegiatannya.

Kecenderungan saat ini menuntut perempuan untuk tampil cantik baik secara fisik, pakaian maupun tata krama. Ibu Mega setuju perempuan harus tampil cantik dan anggun untuk dirinya sendiri dengan catatan: harus diimbangi otak yang cerdas!

Cerdas yang dimaksud ibu Mega yaitu perempuan yang sadar akan hak-haknya, bukan pasif dan pasrah pada nasib. Menurutnya, perempuan yang cerdas adalah yang pintar berbicara dan berekspresi di saat dibutuhkan.

Ibu Megawati Soekarnoputri memang sosok yang sangat peduli kepada kaum perempuan. Di akhir masa ia menjabat sebagai presiden, ibu Mega menerbitkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Undang-undang ini ia keluarkan karena geramnya melihat kasus pemukulan terhadap perempuan oleh suaminya dan ketidakberdayaan perempuan membela nasibnya.

Diceritakan pula oleh beliau, seorang sahabatnya pernah menghampirinya sambil menangis dan mengeluhkan bahwa dirinya akan diceraikan suaminya. Sahabat ibu Mega itu seperti putus harapan dan khawatir tak akan sanggup hidup jika kelak ditinggal sang suami. Dengan lantang ibu Mega pun meminta sahabatnya untuk bangkit membela diri. Ibu Mega bahkan mengancam tak ingin lagi jadi sahabat ibu itu jika ia tak mampu bangkit dari situasinya saat ini.

Ibu Megawati sendiri sudah tiga kali melalui bahtera rumah tangga. Ia harus tegar kehilangan suami pertamanya Letnan Satu (Penerbang) Surindro Supjarso, seorang pilot pesawat AURI dan perwira pertama di TNI-AU. Ibu Mega menikah dengannya pada tanggal 1 Juni 1968. Megawati sempat ikut suaminya tinggal di Madiun. Di sana ibu Mega menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak pertamanya, Mohammad Rizky Pratama.

Tapi kebahagiaan ibu Mega dengan suami pertamanya tidak berlangsung lama. Saat ibu Mega mengandung anak keduanya, Mohammad Prananda Prabowo, suami ibu Mega, Lettu Surindro, mengalami kecelakaan pesawat yang merenggut nyawanya. Pesawat yang dikendalikan Lettu Surindro terhempas ke laut di sekitar perairan pulau Biak, Irian Jaya pada tanggal 22 Januari 1970.

Surindro dan tujuh orang awak pesawatnya hilang. Yang ditemukan di sekitar lokasi hanya serpihan puing pesawat. Ibu Mega dipaksa menghadapi kesedihan dan ketidakpastian dengan jabang bayi yang masih ada dalam kandungannya.

Beberapa tahun sejak peristiwa itu, saat usia ibu Mega masih awal 20-an dengan dua anak balitanya, beliau kembali membangun rumah tangga dengan seorang yang konon adalah pengusaha asal Mesir bernama Hassan Gamal Ahmad Hasan. Namun, pernikahan di masa ibu Mega masih gamang sejak ditinggal suami pertamanya ini hanya bertahan 3 bulan.

Perkawinan ibu Mega yang kedua ini jadi sorotan media massa padahal ia masih berstatus istri Surindro yang belum jelas nasibnya. Keluarga besar Bung Karno sampai menyewa pengacara untuk membatalkan pernikahan ibu Mega yang kedua itu. Sang suami Hassan pun menyerah pada keputusan Pengadilan Agama.

Ibu Mega baru merasakan kedamaian rumah tangga saat ia bertemu Mohammad Taufiq Kiemas, rekannya sesama aktifis di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dulu.

Tokoh yang kemudian dikenal dengan nama Taufiq Kiemas ini juga seorang penggerak PDIP. Ibu Mega dan Taufiq Kiemas menikah di akhir Maret 1973. Dari pernikahannya dengan Taufiq Kiemas lahirlah Puan Maharani. Taufiq Kiemas meninggal pada 8 Juni 2013 di sebuah Rumah Sakit di Singapura karena penyakit kelainan pada ginjalnya.

Melalui berbagai kesulitan yang dilewati, ibu Mega tetap telaten merawat anak-anaknya. Beliau merasa miris ketika aktif menolong bayi-bayi yang ditelantarkan oleh ibu penderita HIV/Aids. Beliau mempertanyakan rasa keibuan mereka yang tega membuang anaknya sendiri.

Menurut ibu Mega, banyaknya bayi HIV/Aids yang ditelantarkan disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai HIV/Aids dari para ibu.

Pesan seorang ibu Mega bagi saya terdengar seperti nasihat dari seorang ibu kepada anaknya. Mengikuti perjuangan panjangnya rasanya malu bagi saya untuk mengeluh. Sungguh seorang perempuan itu istimewa karena kodratnya.

Ibu Mega meyakinkan bahwa perangkat undang-undang di negara kita sudah memberi ruang gerak yang luas untuk perempuan berkegiatan dan berperan di masyarakat. Seorang ibu Mega saja sudah membuktikan beliau mampu, kenapa kita tidak?

***