Puan: Darah Biru dan Problema Elektabilitasnya

Dalam kacamata Jawa, yang dibutuhkannya adalah "pulung kawahyon". Keberuntungan dan pilihan alam semesta. Dan khusus untuk dirinya hal ini justru adalah usaha yang super sulit, butuh kerja keras, dan ketulusan hati...

Selasa, 31 Mei 2022 | 09:20 WIB
0
78
Puan: Darah Biru dan Problema Elektabilitasnya
Puan Maharani (Foto: suara.com)

Secara pribadi saya sangat berharap bahwa di tahun 2024, yang muncul sebagai Presiden adalah figur perempuan. Hal ini bukan saja ditandai dengan banyaknya muncul tokoh perempuan hebat baik di dalam birokrasi pemerintahan maupun mereka yang berada dalam wilayah privat (baca: swasta, LSM, wirausaha). 

Dalam Kabinet Jokowi, di luar Luhut B. Panjaitan yang seolah adalah seorang "Prime Minister". Sengaja saya sebut demikian, karena bila menyebutnya sebagai Perdana Menteri mosok iya? Watak pemerintahan kita kan Presidensial, bukan Parlementer. Fenomena Luhut itu sendiri menunjukkan, betapa sulitnya mencari seorang "tangan kanan", orang yang bukan sekedar bisa dipercaya, tetapi bisa bisa bekerja dengan efektif dan efisien.

Konteks inilah yang memberi tempat pada dua perempuan hebat menjadi dua menteri terbaik Jokowi. Yaitu Sri Mulyani dan Retno Marsudi. Sulit dipungkiri, keduanya adalah tandem paling membanggakan dalam Kabinet Jokowi. Yang satu "urusan daleman", urusan keuangan negara yang sangat dinamis dan selalu bikin kaget itu. Sedang yang satunya mengurus "urusan luar". Hubungan luar negeri yang setahu saya tanpa kita sadari sedang masuk pada periode tersulitnya. 

Selebihnya, atau bahkan sebagian besar menteri yang lainnya. Terutama yang berkelamin laki-laki dan berasal dari partai-partai politik. Tak lebih "musang berbulu domba", yang menjalankan funsinya sebagai Robin Hood di dunia Politik. Loyalitasnya selalu bersifat float, kerja ala kadarnya, dan prestasinya minim, tetapi watak menggarong duit negaranya sangat mencolok mata. 

Di luar Kabinet, sangat banyak figur perempuan yang muncul di permukaan. Mereka merupakan kekayaan laten dan tersembunyi, namun alam semesta memberinya kesempatan naik ke permukaan. Hal ini bukan saja sangat menggembirakan, karena mereka berasal dari lingkungan Perguruan Tinggi Negeri terbaik. Tetapi terutama muncul di saat kampus-kampus tersebut terpapar gerakan radikalisme dan sektarianime. Yang suka tidak suka tendensi menempatkan perempuan pada sisi "pakiwan" sebagai suatu bentuk ancaman yang nyata dan di depan mata.  

ITB dan UGM muncul sebagai pelopor! Membuktikan bahwa di kedua PTN tersebut, kesadaran bahwa perempuan sebagai pilar lembaga, sosok pemersatu, manajer yang handal sekaligus tukang bersih-bersih itu sebuah kebutuhan kongkrit dan nyata arti pentingnya. 

Di sini, saya secara khsusus ingin membahas tentang sosok Puan Maharani yang dalam dunia politik Indonesia kontemporer dianggap sebagai sosok terdepan yang dianggap memiliki potensi untuk "dicapreskan".

Sayangnya, yah sekali sayangnya elektabilitasnya tak kunjung naik. Bahkan kalah jauh dari sosok Ganjar Pranowo yang merupakan kader partai seinduk. Sesuatu yang makin absurd, karena munculnya dua sosok dari rahim yang sama itu justru berpotensi memecah belah suara partai di masa datang. 

Tulisan ini bermaksud membahas rendahnya elektabiltas Puan dari pendekatan sejarah, dan sedikit ilmu sosial politik yang saya miliki. 

Pertama, dari sisi sejarah adalah adanya sejenis kutukan generasi ketiga. Atau ketidakmungkinan jika bukan akibat keterpaksaan. bahwa dalam era demokrasi, tak banyak ada sebuah pemerintahan negara yang bisa secara berturut-turut. Dalam istilah olahraga melakukan "hattrick" menjadi pemimpin tertinggi negara. Bahwa seorang pemimpin berhasil mengkloning dirinya pada sosok anaknya itu sudah biasa. 

Bahkan pada negara adidaya dan acuan demokrasi global seperti Amerika Serikat pun pernah melakukannnya pada sosok George Bush. Sangat aneh, karena namanya plek ketipleks. Sehingga pada diri mereka dibedakan dengan sebutan Bush Senior dan Junior. Sayang citra keduanya sangat buruk. Keduanya akan selalu diingat baik oleh sejarah dunia maupun AS sendiri, sebagai tangannya berlumuran darah. Merekalah inisiator yang membuat AS sebagai agen invasi militer di banyak negara terutama di negeri-negeri muslim. 

Mungkin hanya di India yang pernah terjadi. Di mana kepemimpinan dinasti itu berhasil terjadi di era modern yang demokratis. Ketika Jawaharlal Nehru menelorkan anak Indira Gandhi, yang kemudian kelak digantikan cucunya Rajiv Gandhi, bahkan estafet ini pernah "dipaksakan" turun pada sang istri yaitu Sonia Gandhi. Yang notabene sesungguhnya adalah warga asing yang keturunan Italia. Tapi hal ini tejadi melulu karena masalah emosional dan romantisme. Sebagaimana kita tahu Indira sang ibu dan Rajiv sang anak, mati karena dibunuh rival politiknya. 

Dalam konteks Sukarno-Mega-Puan, sisi tragis itu juga ada. Tapi tidak berujung dengan kematian. Justru, pada konteks Sukarno dan Mega, sisi tragik peristiwa penyingkirannya dianggap sebagai alasan yang membuat sejarah untuk memberi tempat pada keduanya. Tapi akan mengalami jalan terjal, karena ketiadaan "momentum" yang sama pada diri Puan Maharani.

Kedua, dalam konteks politik Indonesia, terutama setelah era reformasi. Tampak bahwa fenomena "playing victims" adalah metode paling ampuh untuk mengangkat nasib, dukungan publik, dan elektabilitas seseorang tokoh. Pelopornya tentu saja adalah SBY, yang terlalu mencolok bahwa hal tersebut murni sebagai by design. Ia sengaja "melawan" Megawati, sedikit berbohong untuk dijudge tidak bisa dipercaya. Lalu ketika ia disingkirkan, dengan wajah "sendu mendayu tanpa perasaan bersalah" ia kemudian keluar dari kabinet lalu membangun partainya sendiri. 

Baca Juga: Akhirnya Ganjar Pranowo Buka Suara, Tanggapi Sindiran Puan Maharani

Karena itulah kelak walau dianggap sebagai presiden yang paling boros dalam memberi subsidi dan menebar gratis duit politik. Ia dikenal Sebagai "The Lonely President". Presiden yang Kesepian, tak ada yang mengenangnya secara terhormat, dianggap peletak dasar intoleransi, dan bahkan penghabis uang negara. Ironis!

Dalam konteks Jokowi, sebenarnya tendensi dan trend yang sama juga sulit dipungkiri. Ia diasosiasikan dan dicitrakan oleh rival politiknya sebagai sosok "ndeso", keturunan PKI, kerempeng, tidak berdarah biru-politik, bahkan yang paling body shaming yang tak pantas sebagai "plonga-plongo". Tapi tuduhan seperti ini, bukan saja tak mempan tapi berbalik menjadikannya bukan saja "media darling", tetapi berbuah dukungan yang sangat masif. Ia meroket sedemikian cepat dari titik paling bawah: walikota, gubernur, dan akhirnya presiden. 

Di sinilah, hal tersebut tak dimiliki Puan dan sebaliknya (maaf) justru dimiliki oleh Ganjar!

Dalam hubungan keduanya, Puan justru memposisikan diri sebagai "penindas". Figurnya yang secara genetis berdarah biru, cucu bapak bangsa, anak dari mantan presiden, dan jabatannya yang mentereng sebagai Ketua DPR RI. Membuatnya berada di atas awan, duduk dalam singgasana kekuasaannya, dengan wajah yang angkuh. Karena itu, ketika baliho-nya muncul dimana-mana, bukan respon positif yang didapatnya tetapi dianggap blunder yang justru mempermalukannya.

Ia sangat sulit membalikkan keadaan dan mebuatnya sebagai "media darling" justru karena amunisinya terlalu lengkap. Kita harusnya tahu, sosok seperti ini sangat tidak disukaa oleh rakyat Indonesia, yang selalu butuh melo-drama.  

Ketiga, dan ini (barangkali) sedikit banyak sejenis sisi genetis yang menurun pada keluarga politikus trah Sukarno. Betapa sulitnya publik maupun media mengungkap kehidupan pribadinya. Tradisi kawin cerai, yang entah kenapa justru menjadi "obat kuat" dibanding "kartu mati". Pada Sukarno, baru jauh setelah ia wafat kegemarannya kawin cerai dipersoalkan secara serius. Itu pun sekedar romantisme, yang berbingkai cerita-cerita cinta yang melodius dan mengiris-iris sebaga seorang "don juan". Daripada sebuah petualangan politik dalam bentuk yang lain. 

Pun pada Megawati, yang perkawinannya juga tak hanya sekali. OK, itu adalah wilayah privat. Tapi karena tak terkonfirmasi, sehingga informasi liar muncul dengan bumbu-bumbu cerita yang pernah bersliweran. Mengindikasi bahwa "perkawinan yang tidak satu" justru adalah semacam kawah candradimuka untuk menempa kuatnya mental dalam mengarungi dunia banal dan kerasnya perpolitikan nasional. 

Megawati memang muncul dan kemudian jadi tokoh sentral yang seolah tak tergantikan. Walau menyandang predikat "demokrasi", yang bermakna berbatas, saling bergantian. Namun realitasnya ia muskil digantikan. Tak hanya sekali, banyak tokoh menawarkan diri untuk menggantikannya. Tak mempan, tak pantas, tak mampu.

Jika Sukarno muncul sebagai Bapak Bangsa, Megawati adalah seorang "Ibu Pertiwi" dalam wadah dan lingkup partainya: PDI-Perjuangan. Partai yang tanpa sengaja justru dibesarkan oleh sosok rejim yang sangat takut dan manaruh rasa khawatir kepadanya. Saya yakin hanya kematian yang kelak memisahkan keduanya.  

Di sinilah sejarah tidak berulang. Bila pada Megawati karena ia dianiaya dan dipersekusi. Hal ini tak terjadi pada Puan Maharani sang anak. Ia tiba-tiba berperan sebagai "cah gede, wong mapan", orang besar dan terlanjur mapan (dalam hal segalanya) dan punya kuasa yang tak lagi harus diperebutkan secara gila-gilaan. Segalanya tampak terlalu mudah bagi dirinya. Akibatnya ia mewarisi psikologis para penguasa yang serba ragu, gampang gamang, dan takut kehilangan semuanya.  

Sebuah cermin apa yang dalam budaya Jawa disebut "yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi". Intinya mereka ini akan mudah bingung dan gamang bagaimana menafsirkan rival-rival politiknya. Tak hanya di luar, tetapi justru ketika muncul di dalam. Dulu ketika yang dihadapi Jokowi, Mega mudah mengalah. Tapi ketika Puan harus menghadapi Ganjar. Semua kerumitan itu munculk secara lebih keras, cadas, dan wadas. 

Apakah hanya dianggap enteng, atau ditanggapi secara serius, atau apa. Lalu harus bagaimana....

**

NB: Beberapa hari terakhir, saya banyak sekali dikirimi link-link berita atau caption foto yang tentu saja membuat saya secara pribadi kaget dan mersa tak nyaman. Tak sekali saya mencoba mengecek balik dan mengkonfirmasi pada orang-orang yang dekat dengan Puan Maharani. Ketika ia dicitrakan dan diberitakan sebagai berbaju muslim, dengan jilbab yang kaffah. Gaya berkerudung, dengan jilbab panjang walau (masih) tanpa burqa. 

Di banyak caption, dikatakan beginilah cara ia merayu dan merajuk pada kalangan Islam. Dengan komentar bahwa upayanya tersebut tak bakal mempan dan berujung unfaedah. Karena ia dianggap memiliki jejak sebagai musuh Islam, orang yang tak ramah khilafah, dan bla bla. Dan sialnya banyak sekali yang percaya. 

Dari beberapa informasi yang bisa saya percaya. Tentu saja, ini adalah berita hoax. 

Baca Juga: Di Balik Diamnya Puan dan Strategi Baliho

Masalahnya siapa yang membuatnya? Mereka yang membencinya, yang tentu saja bukan sesuatu yang sulit untuk membuat editan foto untuk mendeskreditkannya. Atau ini justru sebuah operasi senyap intelijen, apa yang disebut "kontra-intelejen" untuk sebuah preseden yang mengarah pada "playing victims". Sebagaimana dulu SBY dianggap sebagai pengkianat yang teraniaya, atau Jokowi sebagai anak turunnya PKI. 

Agar muncul perhatian padanya, untuk mengasihaninya, agar kemudian muncul simpati dan dukungan. 

Bila tujuannya menghancurkan elektabilitas, hawong angkanya belum kemana-mana. Atau sebaliknya hanya sekedar sebuah isu agar ia ramai dibicarakan? Di dunia dimana haters dan buzzer adalah pekerjaan yang menjanjikan secara finansial semuanya sangat memungkinkan terjadi. Namun bagi saya pribadi, jadi agak sulit karena ia seorang perempuan yang berdarah biru secara politik. Yang sesungguhnya tak terlalu butuh isu murahan kayak begini. 

Dalam kacamata Jawa, yang dibutuhkannya adalah "pulung kawahyon". Keberuntungan dan pilihan alam semesta. Dan khusus untuk dirinya hal ini justru adalah usaha yang super sulit, butuh kerja keras, dan ketulusan hati...

***