Akhirnya Ganjar Pranowo Buka Suara, Tanggapi Sindiran Puan Maharani

Bagaimana elektabilitas mau meningkat atau naik kalau malah membuat publik jadi tidak bersimpati dan malah cenderung nyinyir kepada Puan.

Selasa, 15 Februari 2022 | 16:47 WIB
0
223
Akhirnya Ganjar Pranowo Buka Suara, Tanggapi Sindiran Puan Maharani
Puan Maharani (Foto: jawapos.com)

Gubernur Ganjar Pranowo akhirnya buka suara, menanggapi pernyataan Puan Maharani. Mungkin saking sudah gatal ingin bicara. Beberapa hari lalu Puan mengeluh atau curhat dihadapan kader PDIP Sulawesi Utara di Luwansa Hotel, Manado.

Seperti kita ketahui, dalam curahan hati itu Puan mengeluh ada gubernur atau kepala daerah yang tidak menyambut dirinya saat kunjungan ke daerah. Padahal ia ketua DPR.

Intinya ,Puan minta disambut dan dijemput atau untuk ngurusi yang bersangkutan saat kunjungan ke daerah.

Karena curhatan tersebut, Gubernur Ganjar Pranowo yang notabene kader PDIP merasa curahan hari Puan ditujukan kepada dirinya.

Dalam kunjungan kerja di Purworejo, Ganjar Pranowo memberikan tanggapan atau pernyataan bahwa ia siap akan menyambut paling depan, jika Puan Maharani datang ke Jawa Tengah.

"Siap nanti kalau (Ketua DPR Puan Maharani) ke Jawa Tengah, saya sambut paling depan," kata Ganjar Pranowo di Purworejo dalam kunjungan kerjanya.

Pernyataan tegas Ganjar Pranowo ini untuk menjawab teka-teki siapa sebenarnya yang dimaksdud Puan Maharani dalam curahaan hatinya yaitu ada gubernur yang tidak menyambut atau menjemput dirinya dalam kunjungan kerja ke daerah.

Bahkan mantan walikota Solo yang juga sebgai Ketua DPC yaitu FX Hadi Rudyatmo juga membenarkan bahwa curhatan atau sindiran Puan itu ditujukan untuk Ganjar Pranowo.

Mengapa curahan hati Puan Maharani yang juga Ketua DPR di lakukan di internal partai, bukan di luar internal partai, karena ia memposisikan dirinya sebagai Ketua DPR bukan sebagai kader Partai PDIP?

Puan minta disambut atau dijemput sebagai kapasitas Ketua DPR bukan sebagai petinggi partai atau DPP PDIP Pusat. Tetapi curahan hatinya malah dalam internal partai.

Dari sinilah, curahan hati Puan itu ditafsirkan atau ditujukan kepada Gubernur Ganjar Pranowo yang juga sebagai kader PDIP.

Dalam konsolidasi partai yang diadakan di Luwansa Hotel Manado turut hadir dan diundang yaitu Gubernur Olly Dondokambey yang juga sebagai kader PDIP.

Mengapa hal itu juga tidak dilakukan kepada Gubernur Ganjar Pranowo yang juga sebagai kader partai PDIP, waktu Puan mengadakan rapat konsolidasi kader partai yang diadakan di Jawa Tengah?

Saat itu Ganjar Pranowo tidak diundang dalam rapat konsolidasi partai, baik sebagai gubernur atau sebagai kader partai. Malah dalam rapat konsolidasi partai tersebut, Puan juga menyindir atau curhat, tugas kepala daerah bukan main di medsos tapi turun di tengah-tengah masyarakat.

Rupanya curahan hati Puan itu bukan pertama dan terkakhir, malah diulangi lagi dalam rapat konsolidasi partai di Provinsi Sulawesi Utara.

Sindiran atau curahan hati Puan ini malah mendapat respon negatif dari publik atau masyarakat. Publik atau masyarakat menilai, keinginan disambut atau dijemput dalam kujungan kerja sebagai feodalistik. Karena hanya mempermasalahkan hal yang tidak penting atau seremonial belaka.

Bagaimana elektabilitas mau meningkat atau naik kalau malah membuat publik jadi tidak bersimpati dan malah cenderung nyinyir kepada Puan.

Tetapi mungkin itulah cara yang harus ditempuh, tidak peduli elektabilitasnya masih elek, yaitu masih "baskom", barisan satu koma.

***