Di Balik Diamnya Puan dan Strategi Baliho

Tiga macam strategi politik di atas sah-sah saja dilakukan. Tidak ada yang menjamin strategi mana yang paling efektif dari ketiganya karena belum ada penelitiannya.

Jumat, 20 Agustus 2021 | 17:30 WIB
0
107
Di Balik Diamnya Puan dan Strategi Baliho
Baliho Puan Maharani (Foto: joglosemarnews.com)

Orang-orang membully Puan Maharani. Netizen beramai-ramai menjadikan slogan pada baliho Puan sebagai lucu-lucuan. Jagat media sosial ramai dengan olok-olokan tentang Puan. Gambar Puan di baliho dipelesetkan jadi bergambar Suzana si Sundel Bolong dll.

Dengan terus mencela, mengecam dan menghina Puan sambil mengunggulkan dan mengelu-elukan figur lain, sadar atau tidak kita telah melakukan pembunuhan karakter terhadap cucu proklamator ini.

Tapi Puan bergeming. Dia pilih diam. Tak ada tanggapan sedikitpun dari mulutnya. Tak ada pembelaan sedikit pun dari orang-orang partai. Tak ada balasan dari pasukan buzzer seperti figur lain di sebelah. Sepertinya memang Puan tidak punya buzzer sih.

Dia membiarkan netizen mencaci makinya. Dia biarkan orang-orang puas menghina dan merendahkan dirinya. Dia tak keberatan orang menyebutnya bodoh bahkan julukan-julukan lain yang lebih menyakitkan lagi. Dia biarkan aneka spekulasi tentang dirinya berkembang liar. Ada yang benar ada yang ngawur. Kenapa? Apakah Puan benar-benar bodoh? Apakah Anda berpikir demikian?

Untuk diketahui, Puan lulusan S1 Komunikasi Massa dari Universitas Indonesia. Ini nggak main-main. Sebagai orang Komunikasi, dia paham betul Teori Spiral of Silent. Puan pun memilih bersikap hening, karena tidak ada gunanya melawan opini mayoritas yang bertubi-tubi. Tidak ada gunanya melawan netizen yang lagi tergila-gila terhadap satu figur, yang tak pernah merasa bersalah melakukan bully beramai-ramai terhadap figur yang dibencinya.

Jangan lupa, selepas meninggalkan jabatan Menteri Koordinator PMK saat sudah menjabat Ketua DPR RI, Puan juga menerima gelar doktor dari Universitas Diponegoro. Anda kira ini juga main-main hanya karena dia anak mantan Presiden?

Untuk diketahui, memperoleh gelar doktor normalnya harus meyakinkan setidaknya 5 guru besar/profesor. Namun untuk memperoleh gelar doktor honoris causa, harus meyakinkan mayoritas guru besar/ anggota senat yang ada di sebuah perguruan tinggi. Anda tidak percaya pada kredibilitas Undip?

Untuk mengetahui apakah Puan pintar atau tidak, juga bisa disimak rekaman saat dia hadir pada Indonesian Women's Forum 2018 sebagai keynote speaker. Puan tampil di podium memaparkan tentang bagaimana perempuan bisa memberikan makna dan kesejahteraan, tanpa menggunkan teks. Puan fasih dan sangat paham bagaimana di era industri 4.0 perempuan harus berdaya dengan memanfaatan gadget dan teknologi digital demi memberi manfaat ekonomi. Puan tampil memukau di hadapan audiens berjumlah 1.000 lebih, para tokoh wanita terpenting Indonesia.

Jadi, apakah Anda masih beranggapan Puan bodoh?

Apakah Puan langsung jadi fungsionaris partai? Tidak. Selepas lulus kuliah, Puan mencoba peruntungan menjadi buruh perusahaan pers, tepatnya jurnalis majalah Forum Keadilan, sambil mendampingi ibunya dalam acara-acara politik. Kegiatan mendampingi Megawati dijadikan ajang bagi dirinya sendiri untuk belajar politik.

Kesibukan mendampingi sang ibu dan ketertarikannya dalam politik membuat dia akhirnya ikut terjun di partai banteng, PDIP. Dari jabatan yang tidak terlalu penting, meningkat dan akhirnya dia sekarang adalah Ketua Bidang Politik & Hubungan Antar Lembaga di DPP PDIP. Jadi ketika akhirnya para penggede PDIP berniat mencalonkan Puan sebagai calon Presiden dalam Pemilu 2024, ya sah-sah saja, to?

Kalaupun sekarang baliho-baliho Puan bertebaran di pinggir-pinggir jalan, sah-sah juga, wong tidak pakai duit Anda juga. Yang jelas, Puan sudah pasti akan mendapat dukungan partai nasionalis di belakangnya. Mesin partai akan bekerja saat waktunya nanti dibutuhkan. Tapi walau tidak/belum didukung partai, kan figur sebelah didukung rakyat…? Ya baiklah, tapi harap diketahui, untuk mencalonkan sebagai presiden, mekanismenya harus mendapat dukungan partai.

Saya terkesan belain Mbak Puan banget ya? Yang jelas saya sampai sekarang masih netral. Saya manusia merdeka. Saya masih wait and see. Kalau saya menulis sesuatu, itu karena ingin menuangkan gagasan yang berkecamuk di pikiran saya.

Tapi dituding membela Mbak Puan juag nggak apa-apa, anggap saja solidaritas sesama perempuan dan sesama anak Komunikasi Massa. Perempuan bela perempuan. Heheheee…

Pada satu sisi, yang justru cukup menarik dibahas sebenarnya adalah mengapa strategi politik konvensional seperti pemasangan baliho masih digunakan di era medsos saatb ini? Tak hanya Puan. Tapi lihatlah di sudut jalan-jalan.

Ada juga gambar AHY (Demokrat), Airlangga Hartarto (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB). Tak ketinggalan Salim Segaf Al Jufri (PKS) dan lain-lain. Mereka semua pakai strategi baliho. Mereka menghabiskan banyak uang untuk itu. Mereka tidak memilih medsos. Sstttt, jangan terlalu lugu dan mengira bahwa untuk populer melalui medsos itu tidak ada biayanya, ya!

Jadi kenapa Puan, AHY, Airlangga dkk masih menggunakan baliho? Fenomena baliho di tengah riuhnya dunia media sosial ini menarik. Ya karena kenyataannya baliho itu memang masih efektif.

Untuk diketahui, masyarakat Indonesia 80% adalah kelas menengah bawah. Mereka tinggal di pedalaman-pedalaman, sudut-sudut desa. Jangankan main medsos. Sinyal saja susah. Mereka tidak menyimak perang buzzer medsos di Twitter, Facebook ataupun Tiktok.

Makanya masih ada strategi baliho yang menyasar berbagai tempat termasuk lokasi-lokasi susah sinyal. Ya karena mayoritas penduduk kelas menengah bawah cuma nonton berita dari TV. Itu juga sebagian besar lagi lebih memilih nonton “Ikatan Cinta” daripada berita yang bikin pusing. Strategi baliho ini telah sukses memenangkan para caleg menjadi anggota legislatif. Juga memenangkan orang-orang dalam Pilkada.

Jadi di era digital seperti sekarang, tampil bersedekah di jalan lalu diunggah di medsos, masih bukan satu-satunya cara untuk memenangkan hati publik. Itu hanya satu di antara sejumlah cara. Masih ada cara-cara lain. Seutuhnya, untuk menjadi populer, seorang politisi bisa melakukan cara ini:

1. Jadi seleb medsos. Terus muncul terus di linimasa berbagai platform medsos dengan informasi positif. Balut dengan isu yang menyentuh bahkan terzalimi. Kerahkan buzzer, influencer Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok, untuk memengaruhi opini kerumunan di media sosial. Kalau beruntung, konten medsos yang menarik juga akan masuk menjadi konten media konvensional.

2. Jadi media darling. Muncul terus di televisi dan media cetak maupun online. Beli media placement. Pasang advertorial. Lakukan kegiatan-kegiatan yang unggul secara nilai berita. Tampillah menyanyi di televisi bersama pasangan dan putar berulang-ulang sampai penonton muntah-muntah.

3. Menjadi bintang baliho. Pasang baliho berukuran besar di lokasi-lokasi strategis. Pasang di pedalaman-pedalaman hingga pelosok-pelosok, yang penting dihuni manusia. Sasaran baliho adalah 80% warga menengah bawah.

Baca Juga: Soal Baliho Bakal Capres Itu

Tiga macam strategi politik di atas sah-sah saja dilakukan. Tidak ada yang menjamin strategi mana yang paling efektif dari ketiganya karena belum ada penelitiannya. Yang pasti semua mengandung biaya tidak sedikit. Tak ada yang gratis.

Jangan sok-sokan paling jago karena menggunakan medsos dan meninggalkan baliho. Siapa tahu suatu saat akan membutuhkan baliho juga. Demikian juga sebaliknya, jangan puas sudah memasang baliho di seluruh penjuru Tanah Air. Masukan bahwa politisi era kekinian harus masuk medsos, itu ada benarnya.

Jadi di tengah hujatan, cacian dan makian, tetaplah semangat, Mbak Puan! Salam Komunikasi Massa!

Solo 20 Agustus 2021

Niken Satyawati