Politisasi Cucu dan Mami Semua Untungkan Jokowi

Jumat, 15 Februari 2019 | 09:03 WIB
0
208
Politisasi Cucu dan Mami Semua Untungkan Jokowi
Mien Uno (Foto: Republika)

Cukup menarik apa lucu, pokoknya campur aduklah. Sepanjang gelaran kampanye ini masih miskin esensi. Malah lebih menguar itu pelecehan, saling sikat, saling sindir dan ejek. Lebih memiliku melibatkan keluarga besar. Media sosial yang sering tanpa filter itu menjadi alat efektif untuk menyebarkan dan menebarkan hal yang sering ecek-ecek.

Beberapa waktu yang lalu, riuh rendah baik berita, meme, ataupun pernyataan soal Jan Ethes yang dipersoalkan politikus senior. Jelas karena keberadaan Jan Ethes yang sangat polos itu menjadikan kubu sebelah panas dingin. Usai banyak sorotan, si politikus mengelak dengan ya biasa alay, dan sok bijaknya, ada pula yang khas, media memelintir. Lagu lama.

Kini, terbaru, dan juga malah menggemaskan sebenarnya, ketika ada ibu yang merasa sakit hati dengan sikap dan perlakuan anaknya yang sedang masuk panggung politik nasional. Sangat bisa dipahami ketika seoran ibu ikut pedih karena anaknya diperlakukan dengan begitu keras, atau kejam bisa saja bagi konteks si ibu. Mana ada ibu tega anaknya dijadikan bulan-bulanan apalagi netijen kalau sudah berbuat kadang sudah  menjadi mahabenar itu. Pas dipolisikan mewek-mewek.

Berangkat dari apa yang dinyatakan Ibu Mien Uno, bahwa ia merasa sakit dan pedih, meskipun sang putera mengatakan ikhlas. Cukup menarik apalagi jika mau belajar dan berkaca dari apa yang dirasakan oleh Ibu Sudjiatmi, ibu dari Pak Jokowi. Sekitaran lima tahunan ini, plus masa persiapan dan menjadi presiden.

Posisi yang berbeda, satu ibu sederhana, satunya level sosialita. Santapan menu media sosial tentu yang membuat Ibu Mien sampai tidak tahan dengan apa yang dilihat, dibaca, dan didengar mengenai sang putera.  Berbeda dengan Ibu Sudjiatmi yang memiliki latar belakang Jawa kental dengan keyakinan ngalah dhuwur wekasane, mengalah itu tinggi kehormatannya.  Yang kadang dipelintir menjadi ngalah dhuwur sengsarane, mengalah hanya akan susah. Ternyata bisa menjadi senjata untuk tetap tenang.

Tentu bukan mau mengultuskan atau memuja Jokowi, jujur saja, apa sih yang sudah dilakukan pada minimal netijen lah yang membuat mereka itu begitu keji hingga mengulang-ulang narasi anak PKI, bukan anak kandung, dan seterusnya. Maaf beribu maaf untuk Ibu Mien, Pak Sandi sering menjadi bahan candaan karena perilakunya terlebih dulu yang memang memancing keributan dan kelucuan. Jadi ya maklum kalau pendengar itu menjadi geas dan mengekspresikan dengan gaya masing-masing.

Coba Ibu Mien bayangkan, anaknya seorang presiden, dikatakan hanya plonga-plongo, oleh rakyat yang telah diberikan banyak kemudahan juga kesulitan lho ya, jangan sensi. Atau malah diledek bacaannya Doraemon, oleh elit negeri, dan ngerinya mereka itu tidak melakukan apa-apa malahan. Coba Ibu sharing ke Ibu Sudjiatmi kalau berkenan, palingan saya rasa akan merasa lebih dan enggan untuk itu.

Apa yang selama ini ditampilkan oleh koalisi 02 malah menjadi bumerang sendiri. Menyerang cucu Pak Jokowi, malah mental sendiri, di mana dikulik reputasi mereka di dalam berkampanye sering menggunakan anak –anak dengan atribut kampanye lagi. Beda dengan jalan-jalan dan acara keluarga yang kebetulan masa kampanye. (Eits sengaja yang bisa dikamuflasekan bisa juga).

Babak belur karena apa yang dinyatakan dan diakui atau klaim sebagai kritik itu belepotan dan penuh dengan asumsi serta cenderung asal-asalan. Simpati publik menjadi lemah dan tidak menjadi gerakan yang membuat besar. Mengapa? Politisasi sangat kental tanpa adanya penguat bahwa itu memang sah aksi politik dengan melibatkan anak-anak.

Memang sebuah keuntungan bagi Pak Jokowi memiliki cucu yang sangat menyenangkan, polos, dan politis. He..he...maaf coba jika cucunya seperti kata elit itu, hanya plonga plogo, kan tidak akan jadi polemik.

Kini, ketika kubu 02 hadir dengan ketulusan seorang ibu, malah kembali menjadi bahan candaan, bukan simpati. Apakah ini karena memang anak bangsa sudah lupa adab? Bukan itu tentunya, karena rekam jejak dan reputasi anak si ibu  memang maaf “ngeselin” duluan. Mau memainkan politik korban tidak bisa, karena permainan itu sudah dilakukan terlebih dahulu. 

Apa yang membedakan adalah, rekam jejak yang sudah dilakukan terlebih dahulu yang menjadi pembeda.  Diam, menerima apapun dengan apa adanya, ketika ditambah cucunya jadi bahan sudah tidak lagi kaget. Berbeda dengan Ibu Mien yang biasa memegang kendali, ketika ada usikan dan makin kuat menjadi gelisah.

Sikap reaktif dan menerima itu perlu adanya kecermatan yang tinggi, salah sedikit saja melangkah ini, ranjau politis sudah akan meledak sebagai bahan ledekan atau juga akan menjadi bahan gorengan yang bisa ke mana-mana.

Ketika pembelaan datang lebih baik melibatkan emak dari pada cucu, karena memiliki hak politik, ini kembali menjadi bahan candaan yang tidak ada ujung akhrinya. Mereka sendiri yang mengaitkan, mereka sendiri yang membahas, dan mereka sendiri yang membantah. Aneh dan lucu saja perpolitikan bangsa ini.

Pesta demokrasi kali ini memang memprihatinkan. Jauh dari kegembiraan dan pesta. Yang ada hanya kemuraham. Saling sikut lebih kuat dari pada saling rangkul untuk  kesejahteraan bersama sebagai sebuah bangsa.

Salam...

***