Pandji "The Undecided Voter" Pragiwaksono dan Cognitive Dissonance

Rabu, 13 Februari 2019 | 23:04 WIB
0
906
Pandji "The Undecided Voter" Pragiwaksono dan Cognitive Dissonance
Pandji Pragiwaksono (Foto: Tipsdoktercantik.com)

“Beneran ini, gak bohong gue, gue ngerasa, timsesnya Prabowo tidak memberi cukup alasan untuk membuat orang milih dia. Kita bahas ya.”

Setelah menyimak bahasannya secara lengkap dan serius melalui chanel Youtube-nya yang berjudul “Gak Ada Alasan Untuk Milih Prabowo”, saya akhirnya tertarik juga untuk membahas bahasannya. Kita bahas ya.

Ada beberapa poin yang hendak saya uraikan. Pertama, soal mengapa Pandji berpendapat demikian. Kedua, mengapa Pandji berubah dari pendukung Jokowi menjadi “undecided voter”. Ketiga, kondisi kejiwaan yang bagaimana yang sedang dialami oleh Pandji Pragiwaksono.

Pertama.

“Di antara kedua paslon siapa yang lebih terbebani harus punya program?” Menurutnya, Prabowo. Ok, sampai disini saya sepakat, karena untuk mengganti petahana dibutuhkan program baru, program pengganti yang relatif berbeda dan atau program yang sifatnya meng-upgrade program petahana yang telah, sedang atau akan dilaksanakan.

Pandji menganggap bahwa Prabowo dan timnya tidak memiliki program yang jelas dan seharusnya bisa membuktikan bahwa programnya lebih baik daripada program petahana, sehingga layak jadi pengganti.

Tidak memiliki program yang jelas?

Apakah Pandji udah berusaha mencaritahunya terlebih dahulu atau tidak sebelum mengatakan demikian? Sepertinya gak ya. Asbun aja nih Si Pandji. Padahal ada banyak program-program perbaikan dan pembangunan Prabowo-Sandi yang tersebar di dunia maya. Misalnya yang tertera di situs ini.

Jika diringkas betul, dua kata kunci program Paslon 02 ini adalah efektivitas dan efisiensi.

Pembuktian? Apa sih yang dimaksud Pandji dengan pembuktian? Bukankah sesuatu itu terjadi dahulu sehingga ianya bisa jadi bukti. Sementara hasil kerja Prabowo-Sandi belum ada, belum bisa disaksikan. Lha iya, wong mereka belum memperoleh kesempatan untuk melaksanakannya, kan?

Jikalah yang dimaksudkannya pembuktian berdasarkan logika, program-program mereka tidak ada yang muluk-muluk koq. Lebih logis daripada program-program petahana yang sudah jelas terbukti tidak berjalan dengan baik. Contoh utamanya program Revolusi Mental yang berubah menjadi program Revolusi Infrastruktur, itupun banyak bermasalah, manajemen keuangan dan pelaksanaanya sangat layak dipertanyakan.

Selain memberikan contoh, metode perbandingan adalah metode berpikir yang telah ada sejak manusia ada, karena dari sononya mekanisme kerja otak dalam hal belajar memang demikian jika ditelaah berdasarkan Neurologi.

Kedua.

Pandji Pragiwaksono dulunya adalah seorang pendukung berat dan sekaligus menjadi “opinion leader” atau “buzzer”-nya Jokowi pada Pilpres 2014. Sosok yang memiliki pengaruh yang signifikan, terlepas dari apakah beliau dibayar atau tidak untuk itu.

Baiklah kita asumsikan bahwa ia adalah pendukung murni tanpa bayaran.

Yang jadi pertanyaan, mengapa menjelang semakin dekatnya Pilpres 2019 ia jadi berubah? Dari seorang pendukung menjadi seseorang yang belum punya pilihan, “undecided voter”, “swing voter” atau apapun istilahnya, yang sama saja dengan mengatakan bahwa Pandji tidak lagi atau setidak-tidaknya jadi ragu mendukung Jokowi jadi presiden lagi.

Secara logika, satu-satunya alasan beliau berubah dikarenakan oleh kekecewaannya kepada petahana, tidak terwujudnya berbagai keinginan atau harapan-harapan yang dulu diamanahkannya kepada Jokowi. Cak sebutkan alasan lain klo memang ada. Sangat sulit, bukan?

Ketiga.

Apa yang terjadi dengan kondisi kejiwaan Pandji dan para swing voter atau undecided voter? Cognitive Dissonance!

Istilah psikologis ini pertama kali disebutkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957. Kondisi kejiwaan dimana seseorang sedang kebingungan. Apa yang dipikirkan dan dirasakannya tidak sinkron atau tidak konsisten dengan ucapan atau perbuatannya sendiri. Hal yang membuat penderitanya jadi gegana, galau gelisah merana.

Nah, untuk kasus Pandji dkk, mereka kecewa dan jadi ragu untuk mendukung Jokowi lagi, sementara di sisi lain mereka enggan memilih Prabowo yang kemungkinan besar dikarenakan benaknya telah penuh tercekoki oleh berbagai tudingan negatif dan fitnah terkait beliau.

Pandji dalam videonya mengaku objektif, berada di tengah-tengah, namun pemaparannya mengesankan bahwa ia condong memilih Jokowi lagi karena lawannya gak jelas programnya, dengan pemaparan argumentasi yang rapuh. Jika disimak dari sisi lain, ia mungkin saja akan memilih Prabowo yang terbaca dari keinginannya (yang rancu) supaya Prabowo dan timnya membuktikan programnya terlebih dahulu.

Satu hal lagi terkait Pandji. Katanya ia kecewa kepada Sandi karena jadi cawapres dengan alasan ketidak amanahan. Lha, trus dulu Jokowi ninggalin DKI Jakarta tuk nyapres, gimana dong? Mengapa dulu malah getol banget ngedukung dia jadi presiden?

Sebagai penutup tulisan ini, tidak persis seperti yang dibilang Pandji bahwa kedua paslon hanya memakai konsep “Fear” dalam kampanye mereka. Sesungguhnya jelas ada juga koq konsep “Fun”, “Empathy” dan “Hope” yang mereka mainkan dalam kampanyenya. Untuk ini saya gak mau menjabarkannya. Caritau saja sendiri aja ya. Jika teman-teman pembaca bersungguh-sungguh mencarinya, teman-teman pasti akan mendapatkannya. “Man jadda wa jadda”.

Sikon menjelang Pilpres ini sebenarnya sudah sangat jelas, sudah seperti siang dengan malam. Seharusnya sudah sangat mudah untuk memutuskan pilihan pasangan pemimpin yang mana yang layak untuk memimpin Indonesia pada periode 2019-2024.

***

Rahmad Agus Koto

Ctt.

Pandji Pragiwaksonso adalah sosok multitalenta dengan multiprofesi. Rapper, penyiar radio, pelawak tunggal/komika (“stand up comedy”), presenter, aktor, dan juga seorang penulis.