Hotman, Ismak dan Hanis

Mahar politik, oligarki dalam tubuh partai serta ancaman politik uang membuat anak muda dengan bakat cemerlang terancam tersingkir dari arena jika tidak disokong para bandar politik.

Jumat, 14 Juni 2019 | 14:32 WIB
0
1021
Hotman, Ismak dan Hanis
Hotman Paris Hutapea (Foto: Facebook/Muh Rusdy)

"Di saat semua pengacara masih memeluk istri atau (perempuan) simpanan mereka di pagi hari, aku sudah bekerja dan bergumul dengan kasus." [Hotman Paris Hutapea, New York Times 2010]

Di balik sikap sinis banyak orang terhadap Hotman karena tingkahnya yang terkesan norak dan suka pamer, tidak banyak yang tahu bagaimana ia meniti karirnya. Kehidupan glamor Hotman seakan menggelinding begitu saja karena faktor keberuntungan semata. Satu di antara kunci suksesnya adalah kebiasaannya bangun pagi dan langsung bekerja.

Sayang publik lebih mengenalnya sebagai lawyer yang hobi mengoleksi mobil mewah, barang branded dan selalu dikerubuti perempuan-perempuan super seksi. "Saya sudah mendapatkan apa yang diidamkan oleh seorang laki-laki," sesumbar Hotman suatu ketika.

Hotman Paris meraih Magister Ilmu Hukum dari Univeristy of Technoology, Sydney, Australia serta pernah bekerja pada law firm raksasa Free Hill Hollingdale & Page di kota yang sama. Bahwa Hotman suka pamer iya, namun bisa saja itu bagian dari strategi marketingnya. Hotman seakan ia ingin mengatakan pada semua orang, jika anda lawyer hebat dan sukses mestinya anda juga kaya raya.

Kita boleh tidak sepakat dengan mazhab yang dianut Hotman, namun faktanya dunia lawyer mengamini indikator ini.

Kisah Hotman adalah cerita sukses pemuda desa dari Tapanuli Utara yang merajut mimpinya di kota besar dunia. Balik ke Indonesia dan menjadi lawyer para taipan membuat 'cemburu' banyak lawyer, terutama lawyer muda. Wara-wiri dengan lambo sambil merangkul seleb cantik nan seksi membuat mata anak muda berbinar, Hotman Paris Hutapea adalah icon.

Kritik terhadap Hotman datang dari mereka yang memosisikan lawyer sebagai profesi agung yang memihak pada mereka yang lemah dan papa. Membandingkan profesi lawyer di awal kemerdekaan dan di era 60-an dengan lawyer yang lahir dan tumbuh dalam iklim pasar bebas yang keras dan serba transaksional tentu tidak adil. Laiknya profesi lain, lawyer tunduk pada hukum ekonomi, pada supply dan demand.

Baca Juga: Mengapa Imbauan Hotman Paris Hutapea Tak Disambut Keluarga Korban Lion Air?

Kemunculan law firm di kota-kota besar menunjukkan pergeseran dunia hukum ke arah bisnis. Fenomena ini seiring munculnya praktek mega-lawyering, di mana praktek hukum tidak lagi dipandang sebagai profesi hukum semata melainkan didesak untuk memfasilitasi kepentingan perusahaan multinasional dan pergerakan modal yang melintasi sekat negara.

Lantas, apakah situasi ini membuat para lawyer jadi kehilangan empati? Saya kira tidak.

Jika di era sebelum reformasi perjuangan terhadap ketidakadilan, terutama yang berbau struktural di masa orde baru dimonopoli NGO seperti lembaga bantuan hukum yang dikawal para lawyer publik yang mendedikasikan hidupnya untuk rakyat kecil. Hari ini kita menyaksikan bukan hanya para lawyer yang digembleng di lembaga-lembaga bantuan hukum yang bersedia menceburkan diri pada kasus ketidakadilan yang menyita perhatian publik tapi juga mereka dengan tipikal lawyer komersil seperti Hotman Paris.

Fenomena 'Kopi Johni' di mana Hotman menerima keluhan publik secara live menjadi alternatif penyelesaian yang cerdas dan efektif. Sebaliknya publik menyaksikan mereka yang selama ini aktif memperjuangkan dan membela hak-hak publik ternyata juga terlibat aktif membela kasus korupsi di pengadilan.

Akibatnya kategori lawyer publik dan lawyer profesional dalam arti komersil yang cukup ketat di masa lalu menjadi sangat cair hari ini.

Di tengah hiruk-pikuk menjelang pemilihan Wali Kota Makassar tahun depan, dari lima tokoh muda dengan latar pendidikan hukum yang mencoba menjajal kemampuan, dua di antaranya lawyer profesional.

Adalah Muhammad Ismak, Ketua Umum Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Kurator sekaligus Konsultan Hukum Pasar Modal serta Arman Hanis, Ketua DPC PERADI Jakarta Pusat yang juga seorang Kurator adalah dua anak muda Makassar dengan jabatan prestisius di ibu kota.

Halnya Hotman Paris yang digelar raja pailit, dengan rentang usia yang terpaut jauh, Ismak dan Hanis adalah dua nama yang nyaris bisa disebut dalam satu tarikan nafas dengan Hotman dalam hal kepailitan. Bedanya, jika Hotman memunggungi politik, Ismak dan Hanis justru sedang menceburkan diri.

Reformasi membuka pintu pada setiap orang mengekspresikan diri dan mengejar mimpinya, sialnya pada saat bersamaan kecemasan pada kemungkinan pesta demokrasi dihadang politik transaksional yang belakangan makin vulgar dan brutal. Mahar politik, oligarki dalam tubuh partai serta ancaman politik uang membuat anak muda dengan bakat cemerlang terancam tersingkir dari arena jika tidak disokong para bandar politik.

Jargon kedaulatan rakyat sebagai pondasi negara demokrasi mungkin ada baiknya dirumuskan ulang.

Selamat berjuang bung...

***