Mars ABRI, antara Jenderal Endriartono dan Robertus Robet

Kamis, 7 Maret 2019 | 19:07 WIB
0
389
Mars ABRI, antara Jenderal Endriartono dan Robertus Robet
Robertus Robet (Foto: Detik.com)

Saya mengidentikkan Mars ABRI dengan Kamera Ria di TVRI pada era 1980-an. Di acara itulah lagu tersebut kerap berkumandang di awal atau akhir acara. Di ujung kekuasaan Orde Baru mars tersebut kerap diplesetkan oleh para mahasiswa setiap kali berunjuk rasa. Pada 2003, Panglima ABRI Jenderal Endriartono Sutarto (ES) meminta musisi Addie MS untuk membuat Mars baru, Mars TNI.

Saya pernah mengintili Pak ES hingga ke toilet DPR di sela rapat kerja dengan Komisi I. Waktu itu persisnya saya lupa, tapi saat itu sudah menjelang tengah malam. "Ngapain lu?"

"Pipis juga, Pak," jawab saya seraya berdiri di urinoir persis di sebelahnya. Di depan pintu, seorang pengawal menatap dengan awas. Ketika Pak ES selesai dengan hajatnya, saya pun buru-buru seolah mengancingkan celana yang sebenarnya memang tak dibuka untuk pipis.

Sambil berjalan di sampingnya saya mengkonfirmasi, “Benarkah Mars ABRI akan diganti. Kenapa?”

Sambil berjalan menuju ruang rapat, Jenderal Endriartono menjelaskan dua-tiga kalimat pendek. Salah satu alasannya, ya karena sudah biasa diplesetkan dan sangat mengganggu mental para prajurit. Selain itu, ABRI sudah berganti nama dengan TNI, karena Polri dikeluarkan sebagai matra pemegang senjata.

Soal alasan memilih Addie MS untuk membuat lagu, Endriartono menukas, "Tanya Sjafrie!"

Usai rapat yang berakhir dini hari, saya langsung mendekati Kapuspen ABRI, Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin. Menurut mantan Pangdam Jaya itu, Addie dipilih karena memang sudah diakui sebagai musisi mumpuni. Karya-karyanya selalu berkelas.

Para kepala staf angkatan, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu (Angkatan Darat, Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh (Angkatan Laut), dan Marsekal TNI Chappy Hakim (Angkatan Laut) setuju dengan penunjukkan itu. Lagu karyanya pun sudah diperdengarkan dan tinggal memoles sedikit-sedikit sesuai masukan dari para kepala staf dan Panglima TNI. "Nanti dimainkan pas Hari ABRI," ujarnya.

Artikel tentang lagu perubahan Mars ABRI itu dimuat di Majalah Tempo. Saya lupa persisnya. Semula saya mendapatkan nilai 'A' untuk tulisan ini. Selain dianggap eksklusif, juga berhasil menembus narasumber kualifikasi sulit. Tapi kemudian direvisi karena pencetus usulan adalah teman saya, Telni Rusmitantri. Dia yang menembus Addie MS.

Tapi sebelum menangani rubrik hiburan dan gaya hidup di Tempo, Telni dikenal sebagai wartawati jempolan untuk liputan-liputan di lingkungan ABRI ketika masih di majalah Ummat dan tabloid Tekad (Republika).

Begitulah di Tempo. Nilai A harus benar-benar sempurna. Mulai usulan milik sendiri, menembus sendiri nara sumber utama, hingga menuliskannya dengan standar, ‘Enak Dibaca dan Perlu’. Salah satu tak dipenuhi, ya harus puas dengan nilai B.

Begitulah yang terjadi dengan saya. Usulan begitu sangat dihargai dan diperhitungkan. Datang ke ruang rapat tanpa punya usulan, rasanya tak punya muka.

Setelah 15 tahun, Addie MS sebagai pencipta Mars TNI mendapatkan penghargaan dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Cilangkap, 5 Oktober 2018.

Sepanjang Kamis (7/3/2019), tersiar kabar aktivis Robertus Robet ditangkap polisi. Salah satu penyebabnya konon terkait plesetan Mars ABRI. Setelah belasan tahun nyaris dilupakan para aktivis, Robertus Robet justru mengumandangkannya dalam sebuah aksi Kamisan.

Ah, ada-ada saja Pak Polisi ini, eh kau Robet!

***