Habis ISIS Terbitlah HTS di Suriah

HTS ini hampir mirip dengan ISIS. Ia memiliki sejumlah besar pejuang asing, kemungkinan sekitar 20 persen dari total pasukannya. HTS sekarang menguasai hampir 60 persen wilayah provinsi Idlib.

Sabtu, 10 Agustus 2019 | 09:09 WIB
0
351
Habis ISIS Terbitlah HTS di Suriah
Hayat Tahrir al-Sham (Foto: The Arab Weekly)

Utusan Rusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di twitter, Kamis, 1 Agustus 2019,  terlihat sedang mengemukakan pendapatnya tentang konflik bersenjata di Suriah. 

Ia mengatakan tujuan beberapa negara Barat - untuk tetap mempertahankan kehadiran teroris "Idlib." Situasi di sana menyebabkan kekhawatiran nyata tetapi untuk alasan selain yang disajikan dalam berita palsu. Masalah sebenarnya adalah aktivitas teroris "Hayat Tahrir al-Sham."

Hayat Tahrir al-Sham, yang biasa disebut Tahrir al-Sham dan disingkat HTS, adalah kelompok militan jihad Salafi aktif yang terlibat dalam Perang Sipil Suriah.

HTS pertama kali muncul di Suriah pada Januari 2012 dengan nama Fron Al-Nusra. Baik presiden Bashar al-Assad dan Rusia masih menyebut kelompok jihadis itu dengan nama tersebut.  

AS memang menyatakan telah melemahkan kekuatan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) di Raqqa, Suriah, tetapi sekarang yang terjadi malah militan HTS menyusun kekuatan baru di bagian Idlib.

Idlib, sebuah kota di barat laut Suriah, beroperasi sebagai ibukota Kegubernuran Idlib dan daerah itu terletak 59 kilometer barat daya Aleppo, di ketinggian hampir 500 meter di atas permukaan laut. 

Amerika Serikat, Uni Eropa dan PBB memasukkan kelompok ini ke dalam daftar "teroris" dan kelompok ini muncul di Suriah sebagai cabang dari kelompok al Qaedah di Irak. Ini yang menurut saya, pernyataan utusan khusus di PBB bahwa AS dan sekutunya memunculkan berita palsu. 

Coba simak, misalnya ISIS. AS dan sekutunya menganggap ISIS kelompok teroris yang harus dimusnahkan. Tetapi catat pernyataan Presiden AS Donald Trump ketika sebelumnya berkampanye menjadi Presiden AS. "Barack Obama yang ciptakan ISIS, " ujar Trump.

Sekarang menurut Utusan Khusus Rusia di PBB, "AS memelihara HTS." Pemimpin HTS saat ini, warga Suriah dengan nama alias Abu Mohammad al-Jolani, adalah seorang veteran perang Irak. 

Pada 2013 kelompok ini berbaiat dengan al Qaedah sebelum pecah kongsi dengan sindikasi jihadis global itu pada Juli 2016 dan mengganti nama menjadi Front Fatah al-Sham. 

Pada 2017, kelompok ini bubar untuk membentuk Hayat Tahrir al-Sham (HTS). Rusia menggempur wilayah Idlib, markas HTS, karena jetnya jatuh ditembak pemberontak Suriah. 

Perlu dicatat, sebenarnya sewaktu ISI (Negara Islam di Irak) masuk ke wilayah itu setelah Presiden Irak Saddam Hussein digantung, maka Rusia mendukung kepemimpinan Presiden Suriah Bashar al-Assad, hingga nasibnya tidak seperti Saddam Hussein. 

Bashar al-Assad bisa meneruskan pemerintahannya hingga sekarang Tetapi HTS yang didukung AS ini menjadi pekerjaan rumah baru untuk Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pendukungnya Rusia.

HTS ini hampir mirip dengan ISIS. Ia memiliki sejumlah besar pejuang asing, kemungkinan sekitar 20 persen dari total pasukannya. HTS sekarang menguasai hampir 60 persen wilayah provinsi Idlib. Kelompok ini telah membentuk pemerintahan sipil yang menarik pajak cukai di perbatasan dengan Turki. 

Jika mengamati dan menyimak perkembangan di Suriah, dunia semakin cemas akan terjadinya pertarungan besar-besaran di antara Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, dengan Rusia, juga dengan sekutunya.

Sudah tentu masyarakat internasional masih ingat pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar jangan menyulut pertikaian di Suriah.

Sudah tentu peringatan Presiden Putin ini terjadi setelah pesawat tempur Israel ditembak jatuh oleh pasukan militer Suriah. Peringatan ini boleh jadi bisa diterima oleh Israel, sebaliknya boleh jadi ditolak. Saya memprediksi akan diabaikan saja oleh Israel. Bukankah Israel merupakan sekutu terdekat AS?

Selanjutnya, Jerman, sekutu AS sudah mengingatkan Suriah bahwa negara itu telah menggunakan senjata kimia. Sebelumnya Ban Ki Moon, ketika masih sebagai Sekretaris Jenderal PBB, ikut mengecam Suriah menggunakan senjata kimia.

Peristiwa ini sudah tentu mengingatkan kita akan invasi AS dan sekutunya ke Irak. Alasan penyerangan itu, Irak nemiliki senjata pemusnah massal. Meski kemudian tidak ada bukti yang kuat, Presiden Irak tetap saja dinyatakan membantai suku Kurdi dan Syiah. Akhirnya, ia dihukum gantung di negaranya sendiri.

Baca Juga: Masuknya Alumni ISIS ke Indonesia, Sebuah Pekerjaan Rumah yang Tak Mudah

Apakah dunia, termasuk Indonesia memprotesnya, di mana pimpinan negara yang secara legal dipilih rakyatnya kemudian dihukum gantung oleh rakyatnya, dalam tanda kutip diperintahkan AS, memprotes? Tidak, termasuk Indonesia.

Saya masih ingat bagaimana Menteri Luar Negeri kita Hassan Wirajuda meng-ubah kebijakan luar negeri RI dengan memaklumi apa yang terjadi di Irak.

Sebelumnya? Sesuai isi buku yang saya tulis tahun 1998 "Saddam Hussein Menghalau Tantangan," halaman 134 di sub bab "Sikap Indonesia Terhadap Irak," yang penterjemahan dari bahasa Arab dibantu Kedutaan Besar Irak di Jakarta, dikutip pernyataan Menlu RI Ali Alatas:

"Tujuan utama Resolusi Dewan Keamanan PBB adalah penarikan mundur pasukan Irak dari Kuwait dan mengembalikan pemerintah Kuwait yang sah. Tetapi tujuan perang ini tidak menghendaki Kuwait hancur, maka jangan buat Irak hancur. Bukan kehancuran Irak yang dikehendaki, bukan pula penyerahan Irak, terapi pengusiran Irak. Penghancuran pemerintah Irak tidak termasuk dalam resolusi PBB," ujar Ali Alatas.

Kemudian yang kita saksikan, Irak hancur dan himbauan Menlu RI diabaikan. Apalagi setelah Negara Islam di Irak dihancurkan Irak, negara Seribu Satu Malam" itu semakin hancur. Pemerintah Irak sekarang sedang sibuk mencari dana untuk membangun Irak.

Itu contoh di Irak, di mana AS dan sekutunya sendiri yang menyerang Irak. Memang waktu ini tidak ada kekuatan Rusia membantu Irak. Hal ini dikarenakan Rusia baru mulai bangkit setelah ambruknya perekonomiaan Rusia di masa pembaharuan yang dijalankan mantan Pemimpin Uni Soviet (nama Rusia kala itu) Mikhail Gorbachev.

Ketika terjadi konflik di Suriah, perekonomian Rusia sudah pulih. Lihatlah produksi senjatanya semakin modern untuk membela Presiden Suriah sekarang, Bashar al-Assad. Itulah yang kita cemaskan. Apakah Perang Dunia III akan betul-betul bermula di Suriah?

***