Program Strategis Nasional (PSN) yang digulirkan di Papua menghadirkan momentum penting bagi percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. PSN bukan sekadar daftar proyek di atas kertas, melainkan cetak biru pembangunan yang menyasar berbagai sektor vital, mulai dari infrastruktur, ketahanan pangan, energi, hingga transformasi digital dan pengembangan sumber daya manusia unggul. Dengan skala dan cakupan yang luas, PSN diharapkan menjadi penggerak ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menghadirkan akses kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat Papua.
Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Papua Tengah, Melkisedek Rumawai, menekankan bahwa keberhasilan PSN bergantung pada sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat. Dukungan masyarakat, mulai dari percepatan perizinan, pengadaan lahan, hingga pengawasan proyek, menjadi kunci agar implementasi PSN tepat sasaran. Menurutnya, proyek-proyek strategis nasional yang dijalankan di Papua bukan hanya untuk pembangunan fisik, tetapi juga untuk menumbuhkan kesempatan kerja dan memperkuat kapasitas lokal. Rumawai menegaskan pentingnya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar pembangunan dapat berjalan lancar dan manfaatnya dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Di Papua Pegunungan, PSN juga menunjukkan dampak nyata bagi penguatan ekonomi lokal. Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, menyampaikan bahwa pembukaan lahan persawahan seluas 800 hektare di Tulem, Distrik Witawaya, Kabupaten Jayawijaya, merupakan bagian dari program PSN yang strategis. Kawasan ini dipandang sebagai sentra produksi pangan baru yang mampu mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal maupun nasional. Pemerintah daerah menargetkan total sekitar 2.000 hektare lahan sawah yang tersebar di beberapa distrik untuk digarap, termasuk Piramid, Kurulu, Pisugi, Siepkosi, Pugima, Libarek, Muai, dan Minimo. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat produksi pangan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal, termasuk anak-anak muda yang dapat terlibat sebagai operator alat berat maupun tenaga lapangan.
Program cetak sawah di Papua juga menjadi jawaban atas ketergantungan daerah ini terhadap pasokan beras dari luar. Gubernur Papua Mathius Fakhiri menegaskan bahwa 2026 merupakan periode kerja lapangan yang menentukan keberhasilan PSN. Fase ini menekankan kesiapan lahan, pembangunan infrastruktur pendukung, dan pemanfaatan sumber daya manusia lokal sebagai fondasi jangka panjang. Dengan cetak sawah seluas 5.380 hektare yang direncanakan, Papua tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menumbuhkan peluang kerja baru di sektor pertanian, sehingga memberikan dampak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.
Dampak ekonomi PSN di Papua tidak terbatas pada sektor pertanian. Proyek strategis ini mencakup pembangunan infrastruktur konektivitas dan energi yang membuka ruang bagi aktivitas ekonomi baru, termasuk perdagangan, jasa, dan sektor kreatif. Peningkatan konektivitas antara kota dan distrik memungkinkan distribusi produk lokal lebih efisien dan meminimalkan ketimpangan akses terhadap kebutuhan pokok. Hal ini, pada gilirannya, memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat lokal, terutama generasi muda, yang dapat berperan sebagai tenaga kerja terampil maupun wirausaha baru.
Selain itu, PSN membuka peluang bagi transformasi digital dan pengembangan sumber daya manusia. Program ini mendorong masyarakat Papua untuk menguasai keterampilan baru, termasuk pengoperasian teknologi pertanian modern, manajemen produksi, dan pengelolaan usaha berbasis digital. Dengan demikian, PSN tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun kapasitas lokal agar masyarakat mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional. Peningkatan kemampuan SDM lokal ini sejalan dengan tujuan PSN untuk menciptakan pembangunan yang adil dan berkelanjutan, di mana manfaat ekonomi dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Implementasi PSN di Papua juga menekankan prinsip partisipatif dan keberlanjutan. Pemerintah daerah memastikan tanah yang digunakan tetap menjadi milik warga, sementara penggunaan lahan untuk proyek strategis dilakukan dengan izin dan kerja sama yang mengedepankan kepentingan bersama. Pendekatan ini penting agar masyarakat merasa memiliki proyek tersebut, sehingga menjaga keberlanjutan program sekaligus mengurangi potensi konflik sosial. Selain itu, pengawasan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi mekanisme transparansi yang memastikan setiap proyek berjalan sesuai rencana, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat lokal.
Dengan demikian, PSN di Papua menghadirkan model pembangunan yang holistik: menggabungkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ketahanan pangan, dan pemerataan akses kesejahteraan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal menjadi kunci utama keberhasilan program ini. PSN tidak hanya menghadirkan perubahan fisik dan ekonomi, tetapi juga memperkuat kapasitas lokal sehingga masyarakat Papua dapat berperan aktif dalam proses pembangunan, menciptakan lapangan kerja, dan menikmati manfaat kesejahteraan yang lebih merata.
Keberhasilan PSN di Papua di era pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi bukti bahwa pembangunan yang terencana dan bersinergi dapat membuka peluang baru bagi daerah-daerah yang selama ini tertinggal. Dengan dukungan penuh masyarakat dan implementasi yang konsisten, PSN berpotensi menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan pembangunan berkelanjutan di seluruh Papua, sekaligus menghadirkan contoh pembangunan strategis yang adil dan inklusif bagi daerah lain di Indonesia.
)* Penulis merupakan Mahasiswa Asal Papua di Jawa Timur
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews