Pekan lalu keinginan meng-impeach Trump ini sudah merembet ke Partai Republik. Justin Amash, juga dari Michigan, sudah resmi menyatakan perlunya impeachment itu.
Terjadi lagi. Di Gedung Putih lagi. Rapat kabinet segera dimulai. Para menteri sudah menunggu di ruang rapat. Demikian juga Ketua DPR Nancy Pelosi. Dan ketua fraksi minoritas di DPD Chuck Schumer.
Mereka tinggal menunggu kedatangan Presiden Donald Trump. Mereka sabar menunggu sampai 15 menit. Kamis WIB kemarin.
Yang ditunggu akhirnya tiba. Dengan ekspresi yang geram. Trump tidak menyapa siapa pun yang ada di ruangan itu. Tidak seperti kebiasaan pemimpin Amerika. Ketika memasuki suatu ruang rapat.
Trump tidak jadi memimpin rapat sore itu. Tidak mau. Ia hanya kurang dari tiga menit di ruang rapat itu. Hanya untuk mengatakan: sampai di sini saja kerjasama dengan Partai Demokrat. Tidak akan ada lagi pembicaraan. Sampai Demokrat mengakhiri pengusutan padanya.
Selesai.
Trump meninggalkan ruangan. Ngeloyor ke Rose Garden. Taman yang memisahkan Oval Office dan West Wing di dalam Gedung Putih. Di situ wartawan sudah diminta menunggu. Untuk mendapat keterangan pers dari Presiden. Rose Garden memang sering dipakai konferensi pers. Oleh banyak presiden. Pernah juga untuk pesta perkawinan. Ketika Presiden Richard Nixon mengawinkan putrinya.
Sudah bisa diduga isi keterangan pers Trump di situ: maki-maki Demokrat. Yang ia anggap tidak mau tahu perjuangan kepentingan rakyat Amerika. Hanya bikin buang-buang waktu.
Nancy tidak menyangka terjadi lagi hal seperti itu. Padahal sejak pagi dia sudah menyiapkan materi rapat itu: pembahasan anggaran infrastruktur. Yang diminta Trump. Sebesar Rp 30.000.000.000.000.000. Tepatnya USD 2 triliun. Yang belum disetujui DPR.
Bahkan pagi itu Nancy sampai mengadakan rapat tertutup di DPR. Sebagai persiapan rapat di Gedung Putih. Ternyata materi itu tidak jadi dibahas. Bahkan tidak akan.
DPR, yang dikuasai Demokrat, kini memang lagi mengusut tiga persoalan: ketidakberesan pajak Trump, kolusinya dengan Russia dan money laundering lewat Deutsche Bank.
Nancy begitu yakinnya. Presiden Trump tidak akan bisa lolos dari pengusutan ini. Sampai-sampai Nancy terus mengabaikan desakan internalnya: agar melakukan impeachment kepada Presiden Trump.
Kepada yang mendesaknya itu Nancy teguh. "Trump sedang melakukan impeachment untuk dirinya sendiri," ujar Nancy pekan lalu.
Tiga Srikandi baru DPR Amerika memang sudah berjanji. Sejak masih kampanye dulu: akan menjatuhkan Trump. Yang mereka nilai tidak layak menjadi presiden Amerika. Mereka itu Ocasio-Cortez, anak muda dari New York, dan dua pertama Muslim yang jadi anggota DPR Amerika: Rashida Tlaib dari Michigan dan Ilhan Omar dari Minnesota.
Pekan lalu keinginan meng-impeach Trump ini sudah merembet ke Partai Republik. Justin Amash, juga dari Michigan, sudah resmi menyatakan perlunya impeachment itu.
Baca Juga: Menegangkan, Perjalanan Trump ke Pangkalan Militer AS di Irak
Dengan gagalnya rapat kabinet Kamis kemarin WIB, sudah dua kali Nancy mengalami hal yang sama.
Yang pertama saat pembahasan anggaran tembok perbatasan. Saat itu Trump juga hanya hadir untuk ngomel-ngomel. Lalu pergi. (Lihat DI's Way: Tembok Sorga).
Mungkin banyak juga pemimpin yang menunjukkan kejengkelannya dengan cara itu. Tapi Trump tetap beda: sengaja menunjukkanya ke publik. Agar publik memihak padanya.
Sekaligus ikut membenci tokoh seperti Nancy.
Perang Demokrat lawan Trump kian memuncak. Yang kalah bisa jadi Iran. Atau Tiongkok?
Dahlan Iskan
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews