Tempo Jangan Cari Musuh!

Jangan sampai ada gerakan dari para buzzer yang terluka ini untuk "unsubscribe" berlangganan Tempo. Jika ini terjadi, akan sangat berbahaya dibanding sekadar gerakan "uninstall" aplikasi.

Sabtu, 5 Oktober 2019 | 23:13 WIB
0
15772
Tempo Jangan Cari Musuh!
Ilustrasi buzzer (Foto: Tempo.co)

Tiba-tiba saja Tempo menghajar buzzer dari berbagai sisi, mem-framing sedemikian rupa seolah-olah para pendengung itu barang haram yang merusak dan membahayakan demokrasi. Berbagai senjata dikerahkan. Selain digempur lewat opini di majalah, digelorakan di koran dan online, juga diviralkan lewat twitter dan blog sosial miliknya, Indonesiana. Sistematis sekali.

Belakangan orang sudah mulai jenuh dengan pemberitaan, framing dan opini Tempo mengenai buzzer, khususnya apa yang ia sebut "Buzzer Istana" itu. Mungkin sudah terlalu "over" dan telah melewati batas proporsional. Terlebih lagi para pembaca yang kritis mulai bertanya-tanya, apa maunya Tempo terhadap buzzer? Apa yang ia inginkan?

Besar kemungkinan --dan ini baru dugaan-- Tempo memendam dendam gara-gara netizen di media sosial mengkritik Tempo atas pemuatan karikatur bayangan hidung Pinokio yang bersanding dengan Presiden Joko Widodo. Akibat serangan netizen ini, aplikasi Tempo baik untuk membaca maupun berlangganan di PlayStore maupun AppStore terjun bebas.

Orang tiba-tiba melampiaskan kekesalan, tentu saja para pendukung fanatik Jokowi, dengan meng-uninstall aplikasi Tempo tersebut sehingga ratingnya melorot. Bahkan pada satu titik, aplikasi itu lenyap tak berbekas, meski Tempo punya alasan sendiri tentang lenyapnya aplikasi itu di Android maupun Apple.

Tempo tentu mengira, serangan masif berupa gerakan uninstall aplikasi di kedua platform itu dilakukan oleh apa yang ia sebut sebagai "Buzzer Istana". Di sini Tempo menutup mata dan sama sekali tidak menyinggung soal kemungkinan adanya "Buzzer Kartanegara" atau bahkan "Buzzer Khilafah". Tuduhan dijatuhkan langsung kepada "Buzzer Istana" karena objek yang dipermasalahkan mengenai sosok bayangan hidung Pinokio.

Untuk memperkuat asumsi mengenai keberadaan "Buzzer Istana" ini, tak lupa Tempo mengutip sebuah kajian dari Oxford “The Global Disinformation Order2019 Global Inventory of OrganisedSocial Media Manipulation”. Kajian ini dilakukan oleh Samantha Bradshaw dan Phillip Howard dari University of Oxford dengan framing sangat jelas: “Pasukan Cyber Indonesia Lemahkan Pers” dan “Pro Jokowi Kuasai DPR, Buzzer Kuasai Medsos”.

Uniknya, sumber dari Oxford itu justru menampilkan sejumlah data yang sangat bertolak belakang dari yang diberitakan oleh Tempo secara TSM; terstruktur, sistematis dan masif. Jika Tempo meneguhkan anggapan melalui framing-nya bahwa pemerintah memainkan pasukan cyber,  justru terjawab lewat kajian Oxford itu; bahwa Pemerintah Indonesia tidak menggunakan buzzer. Nah, loh...

Baca Juga: Mengapa Tempo Resah dengan Keberadaan Buzzer?

Soal framing “Buzzer Menguasai Medsos dan Lemahkan Pers”, dari kajian Oxford itu terlihat, buzzer Indonesia yang menyesaki media sosial masih berkategori rendah di mana pers masih mendominasi pemberitaan dan kepercayaan masyarakat akan sebuah pemberitaan sebagai produk jurnalistik masih sangat tinggi.

Saya pernah menulis tentang persoalan ini dengan judul "Buzzer, The Death of Reporter" yang lumayan mendapat perhatian publik, sampai-sampai lima media berusaha mewawancarai saya. Tentu saya tidak selugas Michael Rosenblum yang menulis di Huffington Post empat tahun lalu sebuah artikel yang menohok, “The End of Journalism”.

Sebagai orang yang pernah bekerja di media arus utama selama 26 tahun sebagai jurnalis sebelum akhirnya pensiun dini tiga tahun lalu, saya mengimbau kepada Tempo jangan terlalu frontal menghadapi -apalagi melawan- para pendengung ini!

Mengapa?

Karena buzzer merupakan realitas sosial yang saat ini kehadirannya tidak bisa dihindarkan. Buzzer adalah keniscayaan. Ia lahir karena maraknya media sosial yang bekerja di ranah Internet. Kehadirannya sama dengan warga pewarta (citizen reporter).

Dulu, kehadiran para warga pewarta mendapat kritikan (tepatnya nyinyiran) wartawan profesional media arus utama yang menganggap warga melaporkan peristiwa tanpa etika, sering sesuka hatinya, tidak mengetahui kaidah jurnalistik, mengabarkan hal yang tidak penting dan bahkan tidak tahu bagaimana cara menulis. Toh para warga pewarta ini tidak bisa dilenyapkan begitu saja, malah tulisan mereka makin menjejali Kompasiana dan Facebook, misalnya.

Kini Tempo menggelorakan permusuhan dan serangan frontal kepada buzzer yang mau tidak mau akan menjadi catatan sejarah buruk bagi institusi media sebesar Tempo; bagaimana sebuah institusi yang demikian mapan begitu ketakutan atas hadirnya buzzer!?

Tanpa disadarinya, Tempo kini sedang menjiplak cara-cara Orde Baru yang pernah memberangusnya dengan framing untuk memberangus buzzer. Tempo yang menggelorakan kebebasan berbicara dan berpendapat, kini sedang giat-giatnya mengglorifikasi pemberangusan terhadap opini dan pendapat para buzzer.

Saran saya; berhenti melakukan kepandiran semacam itu!

Baca Juga: Buzzer, The Death of Reporter

Mengapa? Ini demi kebaikan Tempo sendiri. Tempo jangan cari musuh, lebih baik banyak berteman dengan berbagai kalangan, termasuk bisa hidup berdampingan dengan para buzzer, bukan malah menjadikannya musuh. Jangan malah menggali kuburnya sendiri di keramaian warga media sosial.

Jujur, bisnis media massa di era Internet yang sudah memasuki 4.0 ini sangat rentan. Ini karena pembaca atau siapapun bisa membuat beritanya sendiri-sendiri melalui media sosial yang mereka pilih. Media mereka bukan lagi kertas atau televisi, tetapi ponsel di genggaman tangan. Mereka dengan mudahnya membalik media massa menjadi sekadar suplemen atau pelengkap saja, bukan informasi yang utama seperti zaman kuda gigit besi. Kalau sudah begini, saya percaya senjakala media akan segera datang lebih cepat.

Dalam kondisi seperti inilah, di mana media sosial salah satunya dikuasai para warga pewarta, netizen, buzzer dan influencer, sudah seharusnya Tempo tidak mengutak-atik keberadaan "makhluk-makhluk Internet" itu, sebab mereka punya kekuatan dahsyat yang tak terduga, yaitu penggiringan opini dengan memviralkannya secara cepat. 

Apalagi, Tempo harus menjaga nilai sahamnya tetap stabil, menarik minat investor masuk, tidak terjun bebas seperti sekarang ini. Ingat kasus BukaLapak yang aplikasinya pernah drop gara-gara LupaBapak? Jangan sampai ada gerakan dari para buzzer yang terluka ini untuk mendorong "unsubscribe" berlangganan Tempo. Jika ini terjadi, akan sangat berbahaya dibanding sekadar gerakan "uninstall" aplikasi.

***