Buzzer, The Death of Reporter

Ada semacam kecemburuan tersendiri ketika suara buzzer malah menenggelamkan hasil kerja jurnalistik yang jempolan itu, suara buzzer malah lebih didengar publik tinimbang produk jurnalitik.

Selasa, 1 Oktober 2019 | 11:26 WIB
0
10116
Buzzer,  The Death of Reporter
Ilustrasi yang digunakan Tempo saat menulis soal buzzer (Foto: Tempo.co)

Pertama, harus saya deklarasikan sejak awal, bahwa judul di atas, "Buzzer, The Death of Reporter" terilhami oleh judul buku yang ditulis Tom Nichols, "The Death of Expertise", matinya kepakaran.

Kedua, saya tidak ingin reporter mati --setidak-tidaknya mati gaya-- hanya karena kehadiran para pendengung alias buzzer ini, lha wong saya juga mantan reporter jeee...

Ketiga, ikuti dululah tulisan ini sampai selesai. Let's check it out!

Kaget juga saya membaca ulasan majalah Tempo edisi 28 September 2019 berjudul "Saatnya Menertibkan Buzzer" yang saya baca versi online-nya. Dari tulisan itu terbaca keresahan dan kegelisahan luar biasa Tempo atas fenomena para pendengung yang menyesaki media sosial. Kalau meminjam judul lagu Obbie Messakh, Tempo sedang resah dan gelisah pada semut merah. Nah, sebut saja semut merah itu para buzzer.

Mau tidak mau saya mengingat-ingat lagi isi buku Tom Nichols yang sudah saya baca sekitar enam bulan lalu itu. Ndilalah... saya kok menemukan semacam benang merah (tadi semut merah, sekarang benang merah) antara kegeraman Nichols dengan hadirnya para netizen yang sok tahu tetapi bersuara paling keras meski salah. Mereka adalah para warga pendatang di media sosial dengan sebutan "mahabenar netizen dengan segala statusnya" itu.

Sekilas, apa yang diceritakan Nichols itu  intinya adalah, para pakar khususnya di Amerika Serikat itu mati gaya menghadapi postingan dan status-status warganet alias netizen itu dengan segala kesoktahuannya itu. Uniknya, Donald Trump pun menjadi pelaku utama netizen dengan twit-twit-nya yang menggemparkan. Tidak peduli terkandung kebohongan besar di dalamnya, toh Trump dielu-elukan pengikutnya yang jumlahnya jutaan itu.

Nichols tentu tidak harus menyalahkan para pakar yang berbetah-betah tinggal di menara gading bernama kampus universitas-universitas ternama, lembaga-lembaga penelitian, karena mereka memang sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Mereka, para pakar ini, tidak mau terjun ke media sosial membersihkan pendapat warganet yang kotor. Sebab, boleh jadi ada anggapan bahwa Internet dengan media sosial di dalamnya tak lebih dari "sampah busuk" yang harus dibuang jauh-jauh kalau tidak ingin mengotori baju kebesaran dan toga universitas mereka.

Apa yang terjadi? Akhirnya suara pakar kempes di luar (baca: Internet) meski sangat dihormati di lingkungan universitas dan lembaga penelitian. Tapi siapa peduli karya dan penelitian mereka? Di Internet, para pakar itu telah menemui ajalnya meminjam isitilah Nichols, "The Death of Expertise".

Di Indonesia ada satu nama yang sangat fenomenal; Rocky Gerung. Pakarkah dia? Bukan!

Baca Juga: Mengapa Tempo Resah dengan Keberadaan Buzzer?

Tapi apa yang terjadi ketika seorang Rocky mengetahui manfaat besar media sosial dan menggunakannya sebaik mungkin untuk mem-branding dirinya sedemikian rupa. Sehingga, suaranya mengalahkan pakar sekalipun. Suara Rocky --benar maupun salah, nyata maupun hoax-- tetap saja didengar pengikutnya, dipercaya sebagai kebenaran, lalu disebarkan secara suka rela. Virallah semua sabda Rocky Gerung di media sosial.

Apakah Rocky Gerung salah? Ya, tidaklah!

Tanpa maksud menggeneralisir para pakar yang berbetah-betah duduk di menara gading, mestinya ada orang seperti Prof Rhenald Kasali dan Prof Romli Atmasasmita yang mau turun gunung, berdebat untuk mengeluarkan pendapatnya.

Rhenald Kasali misalnya bisa meredam Rocky dengan "kemahabenaran" sabdanya, Romli berani berbeda soal KPK dengan orang-orang yang tidak mau KPK diutak-atik lewat RUU. Mestinya lebih banyak lagi para pakar seperti Rhenald dan Romli yang jalan-jalan di media sosial. 

Belum selesai netizen dengan "kemahabenaran" statusnya, kini hadir fenomena buzzer yang oleh Tempo dalam opininya disebut "produk gagal dari era kebebasan berpendapat".

Tempo demikian resah dan gelisah sehingga menempeli buzzer dengan stigma sedemikian rupa, dipicu oleh ulah apa yang disebutnya "Buzzer Istana" dengan segala sepak terjangnya di media sosial.

Sampai di sini saya tertegun dan bertanya; jangan-jangan Tempo yang memproduksi jurnalisme tingkat tinggi dan nyaris tak tersentuh (seperti KPK) publik itu justru yang telah gagal meyakinkan para pembacanya sendiri dengan produk-produk jurnalistiknya. Jangan-jangan pula suara Tempo kalah oleh suara buzzer ini. Lebih parah lagi kalau Tempo cemburu atas kehadiran para pendengung ini!

Saya tahu, di antara rekan-rekan jurnalis yang bekerja untuk Tempo telah membaca "buku wajib" karya Nichols kalau mau memahami dunia Internet, persisnya opini bebas warga yang berseliweran di Internet. Mungkin ada kekawatiran tersendiri, kehadiran buzzer lambat-laun akan membunuh reporter itu sendiri, sebagaimana netizen membunuh para pakar di Amerika Serikat!

Intinya dalam opini Tempo itu, buzzer digiring ke sisi paling hina, paling gelap dan negatif dari fenomena opini warga di dunia maya (Internet) ini. Jelas ada semacam kecemburuan tersendiri ketika suara buzzer malah menenggelamkan hasil kerja jurnalistik yang jempolan itu, suara buzzer malah lebih didengar publik tinimbang produk jurnalitik.

Baca Juga: Mengapa Saham Tempo Hidup Segan Mati Tak Mau?

Hikmah yang seharusnya dipetik oleh Tempo adalah; jangan-jangan ada yang salah dengan pola pelaporan, investigasi, dan penyajian produk-produk jurnalistik Tempo selama ini. Jangan-jangan harus ada perombakan total dalam cara dan gaya, meninggalkan gaya lama berganti dengan gaya baru yang lebih bisa diterima publik, yang dengungannya lebih keras dari suara para pendengung (buzzer) itu sendiri.

Apakah Tempo masih butuh dan perlu mengiklankan dirinya sendiri di berbagai platform media sehingga produk-produknya lebih dikenal masyarakat luas? Saya kira iya, Tempo butuh dan perlu mengiklankan diri di televisi, majalah, koran, media online dan semacamnya dan karenanya perlu dana marketing khusus yang tidak sedikit.

Tetapi yang belum dicoba Tempo adalah memanfaatkan para buzzer yang dengan narasinya mampu mengubah persepsi masyarakat tentang Tempo, tentang produk-produk jurnalistiknya yang masih enak dibaca dan perlu.

Oh ya jangan lupa, buzzer juga bisa membuat narasi yang bisa menjelaskan secara cerdik dan mengena soal saham Tempo yang makin terpuruk padahal sudah 19 tahun melantai di Bursa.

Jangan malu untuk mencoba!

***