Dari Ruang Kuliah ke Buku, Prima Trisna Aji Raih Penghargaan Dosen Produktif UNIMUS 2026

Selasa, 8 September 2026 | 19:15 WIB
0
0
Dari Ruang Kuliah ke Buku, Prima Trisna Aji Raih Penghargaan Dosen Produktif UNIMUS 2026
Dosen dari Kota Solo Prima Trisna Aji Berhasil Mendapatkan Penghargaan “The Best Papper Presenter Award” di Malaysia

Semarang - Menjadi dosen bagi Prima Trisna Aji bukan hanya tentang berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi kepada mahasiswa. Ada satu prinsip yang terus ia pegang: ilmu perlu meninggalkan jejak. Salah satunya melalui tulisan dan buku yang dapat terus dibaca bahkan ketika proses perkuliahan telah berakhir.

Konsistensi itulah yang mengantarkan dosen spesialis Keperawatan Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) tersebut meraih penghargaan Buku ISBN Terproduktif Tahun 2026 dari UNIMUS.

Penghargaan diserahkan seusai Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Rektorat UNIMUS, Semarang, 17 Agustus 2026. Wakil Rektor I UNIMUS, Prof. Budi Santosa, menyerahkan langsung penghargaan kepada Prima bersama sejumlah dosen berprestasi lainnya.

Pada momentum tersebut, UNIMUS memberikan apresiasi dalam sejumlah kategori prestasi akademik. Selain produktivitas buku ber-ISBN, penghargaan juga diberikan untuk capaian publikasi ilmiah terindeks Scopus, hibah, paten, serta berbagai karya dan prestasi akademik lainnya.

Namun bagi Prima, penghargaan yang diterimanya memiliki makna yang lebih personal. Ia mengaku tidak pernah menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama ketika menulis.

“Saya tidak menyangka mendapatkan penghargaan ini. Alhamdulillah tentu sangat bersyukur. Sejak awal, motivasi saya menulis bukan untuk mencari popularitas. Saya hanya berpikir bahwa ilmu yang kita miliki jangan sampai selesai bersama berakhirnya perkuliahan. Kalau ditulis menjadi buku, pengetahuan itu bisa terus hidup, dibaca, dikritisi, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya,” kata Prima.

Menulis agar Ilmu Tidak Berhenti di Ruang Kelas

Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial, Prima melihat tantangan dosen semakin besar. Informasi kini dapat diperoleh dalam hitungan detik. Namun, menurutnya, kemudahan memperoleh informasi tidak serta-merta menggantikan kebutuhan terhadap sumber pengetahuan yang disusun secara sistematis dan bertanggung jawab.

Karena itu, produktivitas menulis buku perlu bergerak melampaui sekadar mengejar jumlah karya maupun ISBN. Buku akademik perlu memiliki relevansi terhadap perkembangan keilmuan sekaligus mampu menjawab kebutuhan pembacanya.

“ISBN tentu penting sebagai identitas sebuah publikasi, tetapi substansi jauh lebih penting. Tantangannya adalah bagaimana kita menghasilkan buku yang benar-benar dibutuhkan, memiliki dasar keilmuan yang kuat, dan memberikan sesuatu yang bisa digunakan pembaca,” ujarnya.

Cara pandang tersebut membuat proses menulis tidak dipisahkan dari aktivitas tridarma perguruan tinggi.

Pengalaman mengajar dapat memunculkan kebutuhan akan bahan pembelajaran baru. Persoalan di lapangan dapat berkembang menjadi penelitian. Temuan penelitian kemudian dapat diterjemahkan menjadi publikasi dan buku, sedangkan hasilnya dapat kembali dibawa kepada masyarakat melalui kegiatan pengabdian.

Di titik inilah muncul nilai inovatif dari produktivitas akademik: satu kegiatan tidak berhenti sebagai satu luaran.

Dari Satu Gagasan, Lahir Banyak Manfaat

Prima mendorong pola kerja akademik yang menghubungkan pendidikan, penelitian, publikasi, buku, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem.

Menurutnya, penelitian yang hanya berakhir menjadi laporan berpotensi kehilangan kesempatan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Sebaliknya, temuan penelitian dapat dikembangkan menjadi materi pembelajaran, referensi, buku, maupun gagasan inovasi berikutnya.

“Saya selalu berpikir bagaimana satu proses akademik bisa menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Penelitian jangan berhenti menjadi laporan, pengabdian jangan selesai setelah dokumentasi dibuat, dan materi perkuliahan jangan hanya hidup di dalam kelas. Semuanya bisa dikembangkan menjadi pengetahuan baru,” kata Prima.

Dalam satu tahun terakhir, produktivitas tersebut juga berjalan beriringan dengan keberhasilannya memperoleh sejumlah pendanaan akademik.

Prima tercatat memperoleh hibah penelitian internal, hibah pengabdian kepada masyarakat internal, hibah penelitian RisetMu tingkat pusat, serta Hibah Dana Indonesiana dari kementerian.

Rangkaian capaian tersebut menunjukkan bagaimana produktivitas seorang akademisi dapat dibangun melalui berbagai jalur yang saling menguatkan.

Bukan Sekadar Banyak, tetapi Berdampak

Prima menilai orientasi produktivitas akademik ke depan perlu bergeser dari sekadar “berapa banyak karya yang dihasilkan” menjadi “seberapa besar karya tersebut dapat dimanfaatkan.”

Menurutnya, perubahan orientasi tersebut penting karena perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial. Pengetahuan yang dikembangkan di kampus idealnya tidak hanya beredar di lingkungan akademik, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi solusi terhadap persoalan masyarakat.

Terlebih dalam bidang kesehatan dan keperawatan, jarak antara teori dan praktik perlu terus dipersempit.

“Sebagai dosen di bidang kesehatan, saya merasa ilmu yang kita kembangkan harus mempunyai hubungan dengan kebutuhan nyata. Ketika menulis, meneliti, atau melakukan pengabdian, pertanyaan yang selalu penting adalah: siapa yang akan mendapatkan manfaat dari karya ini?” ujarnya.

Menurut Prima, prinsip tersebut juga perlu diperkenalkan kepada mahasiswa. Generasi muda akademik tidak cukup hanya terampil menyelesaikan tugas, tetapi perlu dibiasakan membangun gagasan, membaca secara kritis, melakukan penelitian, dan mendokumentasikan pengetahuan.

“Saya ingin mahasiswa memahami bahwa menulis bukan sekadar mengejar nilai atau menyelesaikan tugas. Tulisan adalah rekam jejak pemikiran. Apa yang kita tulis hari ini mungkin menjadi sesuatu yang dibutuhkan orang lain beberapa tahun kemudian,” katanya.

UNIMUS Apresiasi Produktivitas Dosen

Wakil Rektor I UNIMUS Prof. Budi Santosa menyampaikan apresiasi kepada seluruh dosen yang memperoleh penghargaan. Menurutnya, berbagai capaian tersebut merupakan bagian dari komitmen sivitas akademika dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi.

“Kami mengucapkan selamat kepada seluruh penerima penghargaan. Capaian ini merupakan bentuk konsistensi dan komitmen para dosen dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi. Semoga apresiasi ini semakin mendorong lahirnya karya, penelitian, publikasi, buku, paten, dan inovasi yang memberikan kontribusi bagi institusi maupun masyarakat,” kata Prof. Budi.

Menurutnya, budaya akademik yang produktif perlu terus dikembangkan karena kualitas perguruan tinggi tidak hanya dibangun melalui proses pembelajaran, tetapi juga melalui kemampuan sivitas akademika menghasilkan pengetahuan dan inovasi.

Momentum pemberian penghargaan pada peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia turut menghadirkan makna tersendiri. Bagi dunia pendidikan tinggi, mengisi kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kerja intelektual: membangun sumber daya manusia, menghasilkan ilmu pengetahuan, serta menghadirkan gagasan yang memberikan solusi bagi bangsa.

“Penghargaan Hanyalah Bonus”

Bagi Prima, penghargaan Buku ISBN Terproduktif Tahun 2026 justru menjadi pengingat bahwa masih banyak karya yang perlu dihasilkan dan dikembangkan.

Ia tidak ingin penghargaan tersebut menjadi puncak pencapaian, melainkan momentum untuk meningkatkan kualitas dan kebermanfaatan karya berikutnya.

“Penghargaan hanyalah bonus. Yang jauh lebih penting adalah proses untuk terus belajar dan keberanian untuk terus menghasilkan karya. Saya percaya kita tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai menulis. Mulailah dari ilmu yang kita kuasai, pengalaman yang kita miliki, dan persoalan yang ingin kita bantu selesaikan,” ujarnya.

Prima berharap budaya menulis semakin tumbuh di lingkungan perguruan tinggi, termasuk di kalangan dosen muda dan mahasiswa.

Baginya, seorang akademisi pada akhirnya tidak hanya dikenang dari berapa banyak kelas yang pernah diajar, tetapi juga dari gagasan, pengetahuan, dan karya yang ditinggalkan untuk generasi setelahnya.

“Jabatan memiliki masa, penghargaan juga memiliki masa. Tetapi ilmu yang ditulis dan memberikan manfaat dapat memiliki usia yang jauh lebih panjang daripada kita. Itu yang membuat saya ingin terus berkarya,” pungkas Prima.