Ribet, Ribut, Rebut

Ribet, Ribut, dan Rebut. 3R itulah yang sejatinya menjadi ancaman penanggulangan virus corona di Indonesia. Semua pihak masih belum sepakat untuk satu tujuan: kepentingan bangsa.

Selasa, 12 Mei 2020 | 06:47 WIB
0
384
Ribet, Ribut, Rebut
Mengenakan maskwer di Istana (Foto: pinterpolitik.com)

Teman saya tanya, kenapa saya mutusin pulang kampung setelah sebelumnya turut menjadi penganjur agar semua stay at home?

Saat ini saya memang sudah tinggal di kampung. Berangkat 22 April 2020 pagi, dan sekarang menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.

Begitu sampai kampung, keluarga saya lapor ke aparat desa dan bidan desa. Saya, istri dan 3 anak saya dites suhunya. Normal.

Saya juga cerita ke bidan, kalau selama tinggal di zona merah, Kota Tangerang Selatan, kami sekeluarga sudah mengisolasi diri selama lebih dari sebulan.

Tidak keluar pagar rumah. Asisten rumah tangga dan sopir juga sudah kami rumahkan sejak sebulan lalu, demi keselamatan bersama.

Selama dalam perjalanan, kami bawa mobil pribadi, saya stir sendiri bergantian dengan istri.

Kami pilih bawa mobil Nissan Grand Livina CVT karena bensinnya super irit. Cukup sekali isi di dekat rumah kami, nggak perlu isi ulang, bisa sampai kampung.

Soal keiritan mobil Grand Livina CVT ini dan bagaimana teknis mengemudinya, nanti akan saya ulas di Channel YouTube, Auto Hermas. Tonton ya hehehe....

Selama perjalanan, kami tidak beristirahat makan di rest area, langsung meluncur ke kampung. Bawa bekal nasi, lauk dan minum sendiri dari rumah, demi menghindari kontak dengan orang lain.

Selama perjalanan semua pakai masker, dan handsanitizer sesering mungkin.

Protokol pencegahan corona kami lakukan ketat, agar kami tidak tertular dan menjadi agen penularan bagi orang lain.

Khawatir

Terus terang kami khawatir. Meski sudah ada kebijakan PSBB, laju pertumbuhan orang yang tertular Covid -19 masih tinggi.

Kami stay at home. Disiplin ketat. Tapi orang yang di luar sana, banyak yang belum bisa disiplin.

Kita lihat di media massa maupun media sosial, masih banyak orang berkerumun. Baik tujuannya jelas atau tidak.

Bagi-bagi sembako yang justru mengundang kerumunan, bahkan keributan akibat tidak dikoordinasi dengan baik.

Tingkat kesadaran orang-orang kota untuk tidak menjadi agen penular bagi orang lain juga masih kurang. Ditambah program bantuan dan penyaluran, yang belum bisa membangkitkan rasa percaya bahwa semua berjalan baik: tepat sasaran, tepat jumlah, tepat waktu, tepat kualitas.

Bila kondisinya begitu terus, perang melawan virus corona bakal berlangsung lama.

Makin lama waktu yang dibutuhkan, risiko sosial dan politiknya juga makin tinggi. Hingga saat ini lebih dari 2,8 juta pekerja kena PHK, dan akan terus bertambah.

Baca Juga: COVID-19 dan Kerugian Ambigu

Penyaluran bansos, juga pendataan yang sepertinya R-ibet. Lihat kasus kematian ibu rumah tangga di Serang, Banten akibat lapar.

Tarik-menarik kepentingan antargolongan juga meningkat. Terlihat dari komentar-komentar para politisi, sehingga R-ibut terus.

Belum lagi berbagai program dan skema bantuan, maupun penanggulangan pandemi yang terus menjadi R-ebutan. Karena memang ada duit, dan panggung politiknya.

Ribet, Ribut, dan Rebut. 3R itulah yang sejatinya menjadi ancaman penanggulangan virus corona di Indonesia. Semua pihak masih belum sepakat untuk satu tujuan: kepentingan bangsa.

Melihat kenyatan itu, di tengah tren terus meningkatnya korban virus corona, sejenak mengasingkan diri di kampung menjadi pilihan terbaik kami.

Kami tentu tidak bisa menggantungkan keselamatan jiwa keluarga atas pandemi corona, di tengah banyak pihak yang belum peduli pada keselamatan diri dan orang lain.

Semoga virus corona menguatkan jalinan ikatan kebangsaan kita. Saya yakin, kita semua mampu mewujudkannya.

Salam sehat, jaga jarak, lawan corona.

***