Kota Para Pemberani

Jika ada yang perlu mencari siapa figur yang bisa disetarakan dengan Sun Yat Sen di China atau Jose Rizal di Filipina, maka HOS Tjokroaminoto merupakan yang paling mendekati.

Rabu, 11 September 2019 | 19:00 WIB
0
105
Kota Para Pemberani
Rumas HOS Tjokroaminoto (Foto: Dok. pribadi)

Raja tanpa takhta. Begitulah Belanda menjuluki HOS Tjokroaminoto. Priyayi yang menanggalkan dan bahkan tidak menyukai kebangsawanan ini memang menakutkan Belanda karena kemampuannya mengorganisasikan massa. Pendiri Sarekat Islam ini dipuja-puja orang-orang miskin, dianggap sebagai Ratu Adil yang dia sendiri menolaknya.

Rumahnya menjadi tempat indekos anak-anak muda yang kemudian hari menjadi penggerak perjuangan kemerdekaan Indonesia. Anak-anak kos yang ibarat murid ini kemudian hari mewakili tiga spektrum politik Indonesia. Alimin, Musso, Semaun, dan Darsono, yang kemudian hari memimpin Partai Komunis Indonesia mewakili kelompok kiri. Kartosuwirjo yang belakangan menggerakkan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia mewakili kelompok kanan. Di tengah-tengah ada nasionalis Sukarno, yang tak heran belakangan hari ketika menjadi Presiden, mencoba menyatukan ketiga spektrum sebagai Nasakom.

Tjokroaminoto sampai akhir hayatnya juga seorang yang percaya bahwa sosialisme dan Islam itu memiliki irisan-irisan bersama. "Bagi kita orang Islam, tidak ada sosialisme atau rupa-rupa isme yang lain-lainnya yang lebih baik, lebih elok, dan lebih mulia, selain sosialisme yang berdasarkan Islam," katanya.

Dan ideologi sosialisme itulah yang kemudian hari membelah organisasi yang didirikan Tjokroaminoto. Dari rahim Sarekat Islam, muncullah Sarekat Rakyat yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Komunis Indonesia. Dan sebagian anak-anak kos Tjokroaminoto jugalah yang menjadi penggeraknya.

Sehingga, jika ada yang perlu mencari siapa figur yang bisa disetarakan dengan Sun Yat Sen di China atau Jose Rizal di Filipina, maka HOS Tjokroaminoto merupakan yang paling mendekati. Meski mengawali gerakannya sebagai solidaritas Islam, dia telah menyemai bibit-bibit nasionalisme Indonesia. Dia guru dari semua guru republiken.

**

Rumah Tjokroaminoto ini sendiri terletak di gang kecil yang tak bisa dilalui mobil, Gang Paneleh VII. Namun Anda dengan mudah menjangkaunya karena berada di pusat kota, di pinggir Kali Brantas. Rumah ini tidak besar, malah terasa kecil jika mengingat dulu pernah menjadi rumah kos beberapa pemuda termasuk Sukarno. Belum lagi jika dihitung lima anak Tjokroaminoto juga tinggal di rumah yang sama.

Saya pun iseng bertanya ke penjaga rumah yang merupakan pegawai pemerintah kota Surabaya, tentang berapa jauh rumah ini dari HBS Surabaya, di mana Sukarno (dan juga Minke di 'Bumi Manusia') bersekolah. "Satu kilometeran," katanya. "Sekarang sekolahnya jadi kantor pos," ujarnya lagi. Lalu saya cari kantor pos itu di Google Map, memang ternyata 1,2 kilometer dari rumah Tjokroaminoto.

"Pantesan Sukarno pernah cerita, menghemat uang agar bisa beli sepeda buat ke sekolah," kata saya.

Sukarno memang tinggal di rumah ini di masa bersekolah di HBS atau setara sekolah menengah atas di Surabaya. Selama menetap itu, Sukarno sampai menikahi Oetari, putri Tjokroaminoto. Namun Tjokroaminoto bagi Sukarno bukan sekadar mertua, dia adalah guru.

Kehebatan berorasi Tjokroaminoto menjadi inspirasi Sukarno muda. Namun, begitu tamat HBD tahun 1920, Sukarno merantau ke Bandung untuk sekolah teknik di perguruan yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung.

Surabaya secara umum memang menghasilkan pemuda-pemuda pemberani. Tahun 1945, kurang sebulan setelah Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pemuda-pemuda Surabaya menyaksikan bendera tiga warna Belanda berkibar di atap Hotel Yamato (kini dikenal sebagai Hotel Majapahit) yang menjadi markas tentara sekutu yang hadir pasca-kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

Sekelompok pemuda memprotes bendera itu namun tak digubris. Tak butuh waktu lama kemudian hotel itu didatangi ribuan warga Surabaya. Singkat cerita, beberapa pemuda pemberani memanjat atap hotel itu dan merobek bagian warna biru dari bendera tersebut.

Puncak keributan orang Surabaya dengan tentara sekutu itu di bulan November 1945. Saat itulah muncul nama legendaris, Bung Tomo, yang berpidato berapi-api mengimbau segenap warga Surabaya mengangkat senjata melawan tentara sekutu yang dibonceng Belanda. 10 November 1945 kemudian dirayakan sebagai Hari Pahlawan Nasional, untuk mengenang jasa para pejuang yang mati mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya.

**

Kini Surabaya bukan hanya signifikan secara politik, namun juga ekonomi. Aglomerasi Surabaya yang meliputi 6 kabupaten dan kota lain merupakan yang terbesar kedua setelah Jabodetabek, dihuni lebih dari 10 juta orang.

Jika dilihat dari skala administrasi, Surabaya merupakan kota terbesar di Indonesia. Kini di bawah Wali Kota Risma Tri Harini, Surabaya berbenah menjadi kota modern, layak huni, dan ramah wisata. Sungguh berbeda nuansa Surabaya tahun 2007 saat terakhir saya datangi dan kini 2019 berkat sentuhan tangan wali kota ini.

Menurut saya, trotoar Surabaya adalah yang terbaik di Indonesia. Meski tidak semua ruas jalan memiliki trotoar, namun jalan-jalan utama sudah memiliki trotoar yang standar dan ramah difabel. Anda tidak perlu was-was jika mendorong stroler bayi di trotoar. Ada banyak taman-taman kota yang menarik untuk dikunjungi juga bersama anak-anak hingga malam hari sekalipun.

Memang trotoar dan taman ini menjadi dua jurus dasar Risma membenahi kota ini. Resep ini yang selalu dibagikannya ketika dimintai nasihat oleh wali kota yang baru menjabat. Setidaknya Ridwan Kamil dan Ahok yang pernah mendapat nasihat serupa.

Karena itu, jika ada kota yang wajib Anda kunjungi bersama anak, Surabaya adalah salah satunya. Selain ramah anak, kota ini memiliki banyak jejak sejarah yang menarik untuk dikunjungi bersama keluarga. Mulai dari sejarah Islam, Indonesia, militer, sampai makanan. Dan tentunya, untuk bercerita kepada anak tentang sejarah, Anda hanya perlu sedikit meng-Google.

Namun, andai saja tulisan ini dibaca Bu Risma, ada satu masukan saya buat beliau. Bus wisata keliling Surabaya perlu diadakan tiap hari dengan ritme tiap jam atau setengah jam. Namun untuk menaikinya tak perlu mendaftar. Bikin saja berbayar atau menggunakan plastik yang bisa didaur ulang. Untuk itu, Unit Pelaksana Teknisnya nanti bisa dikirim belajar ke Penang, Malaysia.

***