Kompas Inside [5] Membedah Lemari Koleksi Buku-buku Terlarang

Tidak lebih dari itu. Tetapi kalau soal karya, saya harus menempatkan Pramoedya di pamuncak sastratwan Indonesia paling berpengaruh dari zaman ke zaman!

Senin, 9 September 2019 | 14:06 WIB
0
149
Kompas Inside [5] Membedah Lemari Koleksi Buku-buku Terlarang
Ilustrasi buku (Foto: Okezone.com)

Pernahkah kamu menemukan jamur merang liar di musim hujan saat sedang berjalan di semak belukar?

Saat masa kanak-kanak saya sering menemukannya. Maklum hidup di kampung, akrab dengan segala hal yang tersedia di alam bebas; jamur, lalapan, ikan sungai, belut sawah, bahkan burung yang terbang. Semua gratis, asal mau usaha saja. Jika berhasil menemukannya, jamur adalah kemewahan. Maka ketika jamur berbentuk payung terbuka itu ditemukan, melonjaklah hati setinggi awan.

Demikian gambaran serupa tatkala menemukan tempat penyimpanan buku-buku terlarang di Pusat Informasi Kompas (PIK) di mana pada tahun 1990 saya mulai bertugas di sana. Sebuah lemari kecil bertuliskan "Koleksi Terlarang". Saya menandai lemari itu tetapi tidak tahu di mana kuncinya berada. Namanya juga diberi label "Koleksi Terlarang", ya semakin penasaranlah saya ingin membukanya!

Saya putar otak ibarat menjalankan pikiran yang beku, bagaimana caranya saya bisa membedah isi lemari berisi koleksi buku-buku terlarang itu. Saya tidak tahu isinya. Hanya saja saya menerka-nerka, pasti buku yang saat itu berkualifikasi terlarang oleh Kejaksaan Agung seputar politik, komunisme (PKI), agama atau seks. Soal larangan buku oleh Kejaksaan Agung, saya sering baca beritanya.

Sebagai petugas pelayanan informasi, wajar dong kalau suatu petang sebelum Kepala Layanan PIK Herman Meming pulang ke kediamannya di kawasan Bintaro, saya bertanya mengenai 'Koleksi Terlarang' itu, apa saja isinya. "Oh itu, kebanyakan buku karya Pramoedya Ananta Toer, tetapi ada juga buku tentang ideologi PKI," katanya memberi saya "clue". Saya terus memancingnya.

Saya bertanya di mana kunci untuk membuka koleksi buku-buku terlarang itu, khawatir saat bertugas malam hari ada wartawan yang memerlukannya.

Saya lihat agak ragu juga Mas Meming untuk memberi putusan, apakah kunci itu bisa diserahkan begitu saja kepada saya yang bertugas sebagai pelayan informasi, karyawan baru pula. Tetapi karena wartawan Kompas adalah segala-galanya di lingkup Kompas-Gramedia, Mas Meming luluh (padahal sesungguhnya kena jebak narasi yang saya kembangkan saja hahaha...) dan dia menunjukkan di mana kunci pembuka koleksi buku-buku terlarang itu berada.

"Kamu boleh kasih kalau wartawan (Kompas) minta, tapi ga boleh dipinjamkan, kamu minta petugas fotokopikan saja," demikian Mas Meming memberi arahan, di bagian dada agak dalam, jantung berdentum-dentum kencang saking senangnya. Seraya menemukan jamur merang di antara rerumputan itu!

Mengapa saya girang bukan kepalang menemukan buku-buku terlarang saat itu, saat Soeharto berkuasanya di negeri ini? Tentu ada sejarahnya.

Sekitar tahun 1986-an saat saya baru setahun kuliah, saya mendapatkan beberapa fotokopian novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Fotokopian itu harus dibaca bergilirian di antara teman-teman yang penasaran apa dan bagaimana novel Bumi Manusia itu.

Namanya juga fotokopian, pasti membacanya pun tak sampai utuh. Tetapi dari beberapa fotokopian itu saya menemukan bahasa Indonesia yang luar biasa dahsyat dan kuat dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer, bahkan dalam satu kalimat pendek.

Baca Juga: Kompas Inside [1] Saya Sedang Ingin Bercerita tentang Koran

Ah ya, sebelumnya saya sudah membaca novel Merahnya Merah karya Iwan Sumatupang. Kalau Iwan Simatupang begitu lugas dalam berbahasa, Pram lebih berkelas lagi, saya pikir. Saya jatuh cinta langsung, tetapi putus cinta tatkala saya terpotong tidak bisa lagi membaca fotokopian Bumi Manusia saat saya kuliah dulu.

Tetapi suasananya saat itu menjadi lain sama sekali. Bisa dibayangkan dong ketika pada akhirnya, pada suatu malam yang sepi dari permintaan wartawan akan informasi, kunci itu saya manfaatkan untuk membuka lemari khusus. Dan... tampaklah jamur.... eh bukan, buku-buku karya Pramoedya terbitan Hasta Mitra. Terutama tentu saja "tetralogi" karya masterpiace Pram; Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca!

Buku-buku terlarang lain seperti Manifesto Komunis, Das Kapital-nya Karl Mark, Sobron Aidit, buku-buku spritual dan kepercayaan yang dianggap sesat dan lain-lain saya abaikan. Saya fokus pada tetralogi itu.

Apa yang saya lakukan dengan tetralogi yang saya liat ada dua eksemplar itu? Apakah saya membacanya di tempat saat waktu luang dari tugas? Atau saya memfotokopinya seperti fotokopian yang saya pernah baca dan dapatkan lima tahun sebelumnya?

Diam-diam, tanpa seizin mas Meming tentunya, saya baca buku pertama Bumi Manusia di rumah!

Kok bisa? Bisalah, saya bawa saja ke rumah, toh masih ada satu eksemplar lagi di koleksi buku terlarang itu. Toh statusnya meminjam tanpa izin pimpinan, bukan nyolong. Lagi pula sepanjang empat tahun saya bertugas di PIK, tak seorangpun wartawan Kompas yang memerlukan koleksi buku-buku terlarang itu.

Di lain pihak, saya yang bukan wartawan (saat itu) melahap dengan cepat empat buku serangkai dari Pramoedya itu, tidak sampai dua bulan sudah selesai saya baca semuanya. Aman, tanpa insiden apapun, semua buku kembali pada tempatnya sebagai koleksi terlarang!

Namanya juga menemukan jamur merang di musim hujan, masak tidak langsung dimasak ya, gak? Demikian pulalah saat saya menemukan koleksi buku-buku terlarang karya Pramoedya, saya langsung melahapnya dengan rakus, seperti tidak pernah mengisi perut selama sepekan.

Koleksi buku terlarang tidak saya baca seluruhnya, sesuai minat saja. Hanya saja bagi saya inilah sejarah kecil Orde Baru yang tercecer lewat lemari kecil dengan Soeharto sebagai penguasa tunggalnya.

Meski sebatas lemari kecil, toh ia menjadi sejarah tak berbatas mengenai paranoidnya penguasa saat itu. Bahkan ketakutan yang diciptakan sendiri oleh keberadaan sebuah buku pun menjadi kenyataan paling menggelikan hanya karena secara kesejarahannya Pram pernah tergabung ke Lekra, Lembaga Kebudayaan yang berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia.

Tidak lebih dari itu. Tetapi kalau soal karya, saya harus menempatkan Pramoedya di pamuncak sastratwan Indonesia paling berpengaruh dari zaman ke zaman!

Belakangan ketika kekuasaan Soeharto mulai  goyah dan para aktivis diam-diam mulai bergerak, pada tahun 1994 saya sudah mendapatkan hampir semua buku yang ditulis Pram. Ada pemasoknya, anak muda yang menjadi langganan saya, khusus membawa buku-buku Pramoedya.

Meski sudah membaca tetralogi, saya tetap membeli lagi tetralogi yang sudah saya baca itu sebagai koleksi perpustakaan di rumah, juga buku "Arok Dedes", "Sang Pemula", "Perburuan", "Arus Balik", dan seterusnya.

Ketahuilah, saya memompa diri agar lebih percaya diri itu dari hasil membaca buku-buku Pram. Soalnya, saya menderita minderwaardigheidscomplex alias "kroco jiwo" selepas tamat sekolah dasar sampai saya lulus kuliah.

Pram sudah melepaskan diri dari keterikatan psikologis masa lalu saya, setidak-tidaknya saya lebih berani dan percaya diri, dalam segala hal; menulis, berdebat, berdiskusi,  sampai perburuan perempuan hahaha....

***

Tulisan sebelumnya: Kompas Inside [4] Cara Pak JO Mencari Data untuk Tajuk Rencana