Kunci Penanganan Hepatitis Akut Misterius dengan Jurus PHBS dan Vaksin

Penularan virus Hepatitis akut misterius sendiri tergolong paling cepat menular daripada virus AIDS.

Rabu, 25 Mei 2022 | 15:03 WIB
0
31
Kunci Penanganan Hepatitis Akut Misterius dengan Jurus PHBS dan Vaksin
“Dosen Spesialis Medikal Bedah Prima Trisna Aji ketika melakukan pemeriksaan pada pasien anak dikota Boyolali”

Wabah Hepatitis misterius atau disebut dengan hepatitis akut kembali menjangkit diseluruh dunia. Kurang lebih sebanyak 12 negara sudah terjangkit wabah Hepatitis akut tersebut. Menurut data dari WHO (2022) kasus hepatitis akut misterius sudah menjangkit negara – negara didunia.

Negara peringkat pertama diduduki negara inggris dengan angka kasus sebesar 114 kasus diikuti negara Spanyol sebanyak 13 kasus, Israel sebanyak 12 kasus, Amerika serikat sebanyak 9 kasus, Denmark sebanyak 6 kasus, Irlandia sebanyak 5 kasus, Belanda sebanyak 4 kasus, Indonesia sebanyak 3 kasus, Perancis sebanyak 2 kasus, Rumania sebanyak 1 kasus dan Belgia sebanyak 1 kasus.

Virus Hepatitis misterius sendiri dominan menyerang pada anak, berdasarkan penemuan penelitian didapatkan bahwa virus Hepatitis akut misterius disebabkan oleh Adenovirus. Adenovirus sendiri adalah  sekelompok virus yang umum ditemukan dan biasanya hanya menyebabkan infeksi ringan seperti pilek atau gejala mirip flu pada anak sehat. Menurut pakar dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Virus Hepatitis akut misterius ini menjangkit pada anak dikarenakan pada sistem imun tubuh anak bereaksi kuat terhadap infeksi adenovirus sehingga virus tersebut lebih mudah bermutasi. Teori lain didapatkan bahwa pada sistem imun anak memiliki jejak jejas pada Adenovirus sehingga ketika terjadi mutasi akan mudah menyerang pada organ hati pada anak.

Hal ini terjadi dikarenakan dimusim pandemi covid-19 sehingga pada anak terjaga dari paparan kuman sehingga sistem imun akan bereaksi lebih kuat terhadap kuman adenovirus. Menurut penelitian UK Health Security Agency (UKHSA) menyampaikan data bahwa paparan pada Covid-19 terhadap tubuh anak menimbulkan reaksi imun pada anak sehingga lebih rentan terjangkit hepatitis.

Berdasarkan penelitian terbaru yang lain menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastro Hepatologi RSCM FK UI Dokter Hanifah Oswari mengatakan, penyebab diagnosis awal penyakit Hepatitis Akut Misterius disebabkan oleh adenovirus, SARS CoV-2, virus ABV dan sebagainya.

Sedangkan tanda dan gejala pada hepatitis akut misterius antara lain : Penyakit kuning, sakit perut, diare, urine kecokelatan seperti warna air teh, nyeri pada perut, mual dan muntah, gangguan pencernaan dan warna feces pucat. Hepatitis ini disebut hepatitis akut misterisu dikarenakan ketika dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut tidak ditemukan virus hepatitis tipe A, B,C, D, ataupun E.

Penularan virus Hepatitis akut misterius sendiri tergolong paling cepat menular daripada virus AIDS. Menurut dosen Spesialis Medikal Bedah “Prima Trisna Aji” (2022) mengungkapkan berdasarkan penelitian yang ada untuk penularan hepatitis akut misterius terdiri dua jalur yaitu melalui jalur mulut lewat makanan dan dari jalur udara.

Sehingga, untuk penatalaksanaannya pentingnya melakukan Protokoler kesehatan yang ketat dari mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir, mencuci alat makan dengan bersih, memakai masker dan tidak bersentuhan kulit langsung dengan penderita hepatitis dikarenakan bisa menular melalui keringat, darah, urine dan feces.

Meskipun sangat menular tetapi virus Hepatitis Akut Misterius ini bisa dilakukan penatalaksanaan untuk mencegah dan mengatasi virus tersebut. Penatalaksanaan tersebut antara lain : menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mencuci tangan dengan air sabun mengalir, mencuci alat makan dengan bersih, memasak makanan dengan baik menggunakan air bersih.

Sedangkan untuk penatalaksanaan yang lain adalah pemberian vaksin Hepatitis A kemudian pemberian istirahat yang cukup, minum cairan yang banyak minimal 2 liter per-hari, mengkonsumsi makanan yang bergizi dan tidak mengkonsumsi alkohol.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar H. N., 2007. Hepatitis B in: Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati. 1st ed. Jakarta: Jayabadi pp. 201-4.

Almatsier S., 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Baratawidjaja.K. G., 2009. Immunologi Dasar. 8th ed. Jakarta: FKUI pp. 560 – 83. Cullie M. A. R., Seck A., Njouom R., Chartier L., Sow H. D., Mamadou., Ba., Ka

A.    S., Njankuou M., Rousset D., Vernick T. G., Unal G., Sire J. M., Garin

B.     , Simon F., Vray M., 2012.        Low Immune Response to Hepatitis B Vaccine among Children in Dakar, Senegal. Plos.One. 7: 1-4.

Dardene M., 2002. Zinc and Immune Function. Eur.J.Clin.Nutr. 56: 20-3. Dienstag J. L., Wands J. R., Koff R. S., 1995. Acute Hepatitis, in: Harrison’s

Principles of Internal medicine 1. 11th ed. USA: McGrawHill pp. 1325-38.

Griffin K., 2008. Crash Course: Immunology and Haematology. 3rd ed. USA: Mosby Elsevier pp. 20-60.

Hadinegoro S. R. S., 2011. Jadwal Vaksinasi, in: Pedoma Imunisasi di Indonesia.

4th ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI pp. 49-51.

Hendrarahardja., 2003. Hepatitis Viral Akut, in: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.

1st ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI pp. 253-8.

Iseki M., Miyaki O. M., Xu W., Sun X., Takaki S., Rawling D. J., Ziegler S. F., 2012. Thymic Stromal Lymphopoietin-induced Polyclonal B-cell Activation and Autoimmunity are Mediated by CD4+ T cells and IL-4. Int.Immunol. 24:183-195.

Jackson K. M., 2006. Breastfeeding, the Immune Response, and Long-term Health. J.Am.Osteopath.Assoc. 106:203-207.

Jafarzadeh A., Montazerifar S.J., 2006. Persistance of anti HBs Antibodi and Immunological Memory in Children vaccinated with Hepatitis B Vaccine at Birth. Rafsanjan University of Medical Science and Health Services. PhD Thesis.

 Khalili M., Liao C. E., Nguyen T. T., 2006. Liver Disease, in: Pathophysiology of Disease An Introduction to Clinical Medicine. 6th ed. New York: McGrawHill pp. 373 – 412.

 Kowdley K. V., 2010. Hepatitis B, in: Netter’s Gastroenterology. 2nd ed.

Philadelphia: Saunders pp. 632 – 34.

Kresno S. B., 2010. Immunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. 5th ed.

Jakarta: Badan Penerbit FKUI pp. 98-154.

Marimbi H., 2010. Tumbuh Kembang, Status Gizi dan Imunisasi Dasar pada Balita. 1st ed. Yogyakarta: Nuha Medika pp 108-118.

Marks D. B., Smith C. M., Marks A. D., 2000. Biokimia Kedokteran Dasar. 1st ed.

Jakarta : EGC pp. 49-65.

Matondang C. S., 2008. Aspek Imunologi Imunisasi, in: Buku Ajar Alergi- Imunologi Anak. 2nd ed. Jakarta: IDAI pp 154-60.

McNeeley D. F., Rundles S. C., 2008. Malnutrition and Host. J.pediatry. 4: 261- 268.

Notoatmodjo S., 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Paul., 2003. Fundamental Immunology. 5th ed. USA: LIPPINCOT pp. 47-195.

Parmely M. J., 2012. Medical Notes: Immunologi Klinis. Tangerang: Kharisma Publishing Group pp 254-333.

Prasad A. S., 2000. Effect of Zinc Deficiency on Th1 and Th2 Cytokine Shift.

J.infect.dis. 182:62-8.

Prima Trisna Aji (2022). Kunci Penanganan Hepatitis Misterius dengan Jurus PHBS dan Vaksin. Jakarta EGC

Rundles S. C., McNeeley D. F., Moon A., 2005. Mechanism of Nutrient Modulation of the Immune Response. J.Allergy. 115:1119-28.

Sjogren M. H., Cheatham J.G., 2010. Hepatitis Vaccines and Immunoprophylaxis, in: GI/Liver Secret Plus. 4th ed. Colorado: Mosby pp 151 – 57.

Soedjatmiko., Musa D. A., 2011. Jenis Vaksin, in: Pedoman Imunisasi di Indonesia. 4th ed. Jakarta: IDAI pp 134-140.

Soemohardjo S., 1990. Pengidap Virus Hepatitis B, in: Gastroenterology and Hepatology. Jakarta: CV. Infomedika pp. 291-5.

Soeyitno H., 2011. Tatacara Pemberian Imunisasi, in: Pedoman Imunisasi di Indonesia. 4th ed. Jakarta: IDAI pp 140-158.

Supariasa I. D. N., Bakri B., & Fajar B., 2012. Penilaan Status Gizi. Jakarta: EGC.