Memilah Agama dan Budaya

Menjalankan ajaran Islam tidak berarti mengembalikan budaya saat ini kembali menjadi budaya saat Nabi hidup, tapi bagaimana menerapkan ajaran Islam ke zaman di saat kita hidup.

Jumat, 1 Oktober 2021 | 11:11 WIB
0
86
Memilah Agama dan Budaya
Budaya (Foto: lokadata.id)

Saat Nabi bersabda tentang siwak sebagai pembersih gigi, lalu ada yang mencatat dan memasukkan sabda itu dalam buku hadis, tiba-tiba siwak jadi salah satu ajaran agama. Sekarang masih banyak yang anggap siwak adalah sunnah yang harus diikuti. Menurut saya itu salah kaprah.

Bagaimana misalnya saat Nabi bicara, “Kalau keluar kota naiklah unta,” lalu ada yang mencatat dan memasukkan sabda itu dalam buku hadis? Apakah naik unta jadi ajaran agama?

Atau misalnya saat Nabi bicara, “Kalau masak, pakailah kayu bakar dari kayu apel karena kayu apel adalah kayu paling bagus,” lalu sabda Nabi itu dicatat dan masuk buku hadis, apakah lalu kita harus ikut memasak memakai kayu bakar karena itu kita anggap sunnah Nabi dan ajaran agama?

Perbedaan "kasus siwak" dengan "kasus unta dan kayu bakar" hanyalah ucapan Nabi itu ada yang mencatat dan tidak. Namun hanya karena itu (ada yang mencatat dan tidak), saat ini jadi ada yang merasa bahwa memakai siwak adalah ajaran agama Islam.

Secara logika, pasti Nabi pernah bicara tentang kendaraan, tentang memasak, tentang bangun rumah, atau hal keseharian lainnya namun belum tentu semua dicatat.

Apa benar siwak itu salah satu "ajaran Allah" yang dititipkan lewat Nabi? Kalau kita mau berpikir jernih dengan pikiran terbuka, pasti akan mendapat jawaban yang jelas bahwa ajarannya bukan terletak pada siwaknya, melainkan membersihkan gigi atau rongga mulutnya.

Saat itu Nabi pakai siwak itu ya karena memang siwak adalah pembersih gigi atau rongga mulut yang paling bagus saat itu, di tempat itu. Tapi apakah itu berarti berlaku sepanjang masa? Tentu tidak. Kan jelas bahwa saat itu memang belum ada sikat dan pasta gigi.

Dari contoh itu, kita bisa ambil kesimpulan bahwa seharusnya tak semua yang tercatat dalam buku hadis adalah ajaran agama. Sehingga kita harus berpikir lagi untuk bisa memilah mana hadis Nabi yang merupakan ajaran agama dan mana yang hanya sekadar budaya saat itu.

Ketika Nabi mengajarkan naik kuda dan memanah sebagai keahlian bela diri saat itu, apakah berarti umat Islam saat ini harus belajar berkuda dan memanah? Ketika Nabi mengajarkan sebuah resep masakan yang beliau makan saat itu, apakah resep itu sebuah ajaran agama?

Saat ini sudah saatnya bagi kita untuk bisa memilah dan berusaha memahami, mana itu sunnah Nabi sebagai ajaran agama, dan mana tindakan Nabi yang berdasarkan budaya atau teknologi saat itu. Faktanya, saat ini banyak hadis Nabi tentang budaya yang dianggap bagian dari ajaran agama.

Alangkah terperangkapnya kita pada kebudayaan arab dan teknologi pada masa itu, jika kita tak bisa memilah mana ajaran agama dan mana itu budaya.

Perintah Nabi, bukan kita berpakaian seperti orang arab, tapi agar kita menutup aurat. Kita boleh pakai sarung, dan tetap berarti menjalankan perintah Nabi.

Perintah Nabi, bukan kita belajar memanah, tapi agar kita belajar bela diri, survival dan kemampuan berburu. Kita boleh belajar senapan atau senjata api, dan tetap berarti menjalankan perintah Nabi.

Perintah Nabi, kita menjaga kebersihan termasuk kebersihan tubuh. Kita tak harus pakai wewangian arab atau pun siwak, kita punya banyak pilihan parfum saat ini dan juga sikat dan pasta gigi. Dan semua kita jalankan sebagai perintah Nabi.

Begitu juga dengan berbicara memakai bahasa Arab, apakah itu juga merupakan ajaran agama? Misalnya, di kalangan umat Islam Indonesia banyak yang punya budaya mengucapkan selamat atau ucapan yang lain dengan bahasa arab.

Apakah memberi ucapan “barakallah fi umrik” saat ulang tahun itu lalu seketika menjadi bagian dari ajaran Islam? Tentu tidak. Punya kemampuan berbahasa arab tentu bagus. Tapi kalau mengesankan itu lebih islami, itu yang tidak benar.

Saya tidak menyalahkan pemakaian bahasa arab-nya, tapi mengesankan itu lebih Islami itu yang menurut saya kurang tepat.

Ketidakmampuan membedakan—mana perintah agama dan mana budaya—hanya akan menjebak umat Islam pada masa lalu dan ada yang jadi kearab-araban—yang bahkan orang muslim arab sekarang pun sudah tak seperti itu—. Itulah kenapa sering kali orang Indonesia lebih arab dari orang Arab.

Luasnya Sunnah Nabi

Jika dulu Nabi pernah kerja jadi penggembala ternak dan berdagang, apakah hanya profesi penggembala ternak dan pedagang saja yang disebut profesi yang berstatus sunnah Nabi? Atau semua pekerjaan halal bisa kita sebut sunnah?

Pemikiran sempit tentang sunnah hanya menghasilkan ajaran agama yang sempit pula. Jika kita berpikir luas, maka kita bisa ambil kesimpulan bahwa bekerja sebagai programmer komputer, pekerja pabrik, penjaga toko, polisi, atau yang lain juga sunnah Nabi. Semua itu adalah pekerjaan halal yang tujuannya sama yaitu mencari rezeki.

Jika Nabi pernah memerintahkan untuk belajar memanah, maka belajar pencak silat atau karate juga merupakan ajaran Nabi karena itu bisa diartikan sebagai ilmu bela diri. Jadi, bukan ajaran memanahnya yang harus diajarkan, tapi bela dirinya.

Belajar naik motor, mobil, mengemudikan helikopter atau pesawat terbang, juga merupakan ajaran Islam karena Nabi pernah mengajarkan menguasai kendaraan yaitu kuda. Jadi, bukan ajaran berkudanya yang diajarkan, tapi menguasai ilmu kendaraannya.

Coba kita lihat saat ini, betapa banyak umat Islam saat ini yang terjebak menganggap segala hal yang dicontohkan Nabi dianggap sunnah dalam arti yang sempit tanpa berusaha menggali apa sebenarnya pesan yang disampaikan Nabi.

Misalnya saja saat ini ada gerakan untuk belajar memanah dan berkuda yang dikemas seakan-akan itulah ajaran Nabi yang harus diikuti. Membuat kursus berkuda atau memanah tidak salah, tapi ketika mengesankan bahwa orang Islam harus belajar itu, itu yang kurang tepat.

Salah pola pikir seperti itu bisa berakibat buruk. Umat Islam menjadi lemah dalam penelitian teknologi kendaraan jenis lain. Di saat Jeff Bezos sudah jalan-jalan ke luar angkasa, umat Islam masih sibuk membuat kandang kuda karena merasa itu ajaran agama.

Apakah Anda akan ikut pemikiran sunnah seperti itu? Mengikuti sunnah secara mutlak tanpa berusaha memahami ajaran sebenarnya yang Nabi ingin sampaikan?

Kalau memang begitu cara berpikir Anda, apakah Anda sudah siap jual motor dan mobil Anda untuk beli unta sebagai alat transportasi Anda?

Kalau Anda berpikir sama persis dengan Nabi itu lebih baik, harusnya kita tidak perlu sekolah belajar tentang perkembanhan teknologi, tak perlu belajar tentang cara membangun gedung karena rumah dan masjid Nabi tidak terbuat dari beton. Apa benar pemikiran "harus sama" dengan Nabi adalah ajaran Allah?

Agama Mutakhir, Budaya Tidak

Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menyampaikan ajaran agama dan akhlak dalam versi mutakhir. Agama yang dibawa dan akhlak yang dicontohkan Nabi itu sempurna. Tak ada versi baru lagi hingga dunia ini berakhir.

Namun yang perlu disadari adalah: di luar agama dan akhlak, Nabi tidak diutus atau "tidak dititipi pesan" oleh Allah tentang hal mutakhir lainnya. Misalnya tentang teknologi, kebudayaan, kesehatan, pengobatan, pertanian, fashion, pekerjaan atau bahkan bentuk pemerintahan.

Nabi tidak mengajarkan tentang desain pakaian yang harus umat Islam pakai, beliau hanya memberikan aturan dasarnya yaitu kita harus menutup aurat dan tidak menjadi ajang untuk menyombongkan diri.

Nabi tidak mewajibkan kita naik unta untuk bepergian meski beliau sendiri saat itu naik unta. Akan ada kendaraan yang lebih mutakhir dari unta dan Allah tidak menyampaikan teknologi itu melalui Nabi.

Nabi tidak bilang bahwa habatussauda (jinten hitam) adalah obat paling canggih sampai akhir zaman karena Allah tidak mengajarkan antibiotik dan obat-obat lain kepada Nabi.

Nabi tidak mengajarkan pendidikan dengan cara sekolah dan kuliah namun bukan berarti sekolah dan kuliah itu salah. Nabi berpesan agar kita menuntut ilmu. Tentang bagaimana sistem pendidikan, Allah tidak menyampaikan caranya secara detail kepada Nabi.

Nabi mengajarkan bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik. Namun bagaimana sistem pemerintahan dan bentuk negara, Nabi tidak mengajarkan harus seperti apa.

Nabi berpesan bahwa Allah menjanjikan surga untuk hakim yang adil. Namun untuk membuat undang-undang, kita bisa sepakati dengan masyarakat yang hidup di zaman kita.

Menjalankan ajaran Islam tidak berarti mengembalikan budaya saat ini kembali menjadi budaya saat Nabi hidup, tapi bagaimana menerapkan ajaran Islam ke zaman di saat kita hidup.

Agama dan budaya itu dua hal berbeda, mari kita belajar memilahnya.

***