Asal Muasal Kompas [13] Kompas Minggu

Puncaknya terjadi pada tahun 1986, oplah Kompas edisi Minggu melampaui angka 600.000 eksemplar, oplah tertinggi sepanjang sejarah Kompas sampai kini.

Selasa, 14 Mei 2019 | 13:55 WIB
0
176
Asal Muasal Kompas [13] Kompas Minggu
Rubrik di Koming (Foto: Busy.org)

Penerbitan Kompas edisi Minggu menuai pro dan kontra, tidak saja para agen yang menyalurkan tetapi juga pembaca. Maklum, jika ditilik asal muasalnya memang masuk akal. Kompas yang asalnya identik dengan katolik, pembaca awal terutama tentu saja orang katolik sedangkan agen-agennya idem ditto. Penerbitan koran pada hari Minggu pastilah mengganggu privacy mereka apalagi saat itu media cetak yang terbit hari Minggu masih langka.

Untuk menerbitkan edisi hari Minggu bagi bagian redaksi, apalagi wartawannya, tidaklah masalah. Demikian juga bagian percetakan. Namun bagi bagian yang mengedarkan, bagian sirkulasi, membutuhkan kerja keras yang cukup lama. Mereka harus menyadarkan para agen bahwa pasar membutuhkan koran pada hari itu, masyarakat membutuhkan kesinambungan informasi.

Baca Juga: Asal Muasal Kompas [1] Pintu Besar Selatan

Ketika itu untuk mengubah kebiasaan agen bekerja pada hari Minggu, sungguh susah. Hampir semua agen protes dan mengancam akan memboikot penerbitan edisi hari Minggu. Dan benar, ketika Kompas Minggu edisi pertama terbit pada tanggal 17 September 1978, tidak satu agen pun yang bersedia mengedarkan kepada pelanggan, apalagi menjual eceran.

Kompas edisi Minggu yang isinya ditangani Roestam Afandi dan August Parengkuan ini oleh agen baru diberikan kepada pelanggan bersamaan dengan edisi Senin. Tentu saja ini tidak sesuai dengan sasaran dan tujuan.

Akhirnya karyawan bagian sirkulasi dikerahkan untuk mengkoordinasi pengecer amatiran. Artinya, mereka diminta mencari pengecer dari anak-anak di lingkungan rumahnya karena pengecer yang ada, takut kepada para agen.

Anak-anak itu pagi-pagi berkumpul di suatu tempat untuk dijemput mobil dan kemudian didrop di berbagai tempat keramaian di Jakarta, terutama tempat-tempat rekreasi. Pukul 13.00 mereka dijemput dan dikembalikan ke tempat masing-masing setelah menyetorkan hasil penjualan. Ini berjalan hingga sekitar tiga bulan!

“Saya minta kepada para orangtua di daerah Kemanggisan agar melepas anaknya jadi loper Kompas daripada hari Minggu keluyuran,” kenang Maryono yang saat itu mengepalai bagian sirkulasi. Saat itu ia memang tinggal di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Celakanya beberapa anak ketagihan dan akhirnya tetap jadi pengecer walau bukan hari libur sehingga sekolahnya terabaikan.

Ketika pasar sudah terbentuk dan para pelanggan menuntut agar edisi Minggu diedarkan hari itu juga, akhirnya para agen menyerah. Dan dalam perkembangan selanjutnya, sebagaimana telah diprediksi dan biasa terjadi di banyak negara, oplah edisi hari Minggu itu justru lebih banyak daripada edisi harian. Sejak tahun 1986 perbedaannya lebih dari 100.000 eksemplar.

Kelemahan sistem pemasaran melalui agen ini, penerbit tidak bisa mendapatkan data pelanggannya, apalagi pembacanya. Hubungan langsung dengan pelanggan tidak ada, semua melalui agen dan mereka sangat keberatan memberikan data pelanggan karena data itu merupakan aset yang sangat bernilai baginya.

Beberapa agen bahkan ada yang menjual data pelanggan tersebut kepada agen lain. Ketika boom koran terjadi karena penghapusan izin terbit pada masa reformasi, maka para agen memiliki posisi lebih kuat terhadap para penerbit.

Pada tahun 2010, nampaknya keadaan sudah banyak berubah. Kompas sudah berani mencari pelanggan langsung dengan memberikan diskon lumayan besar. Langganan setahun bayar 9 bulan, langganan 6 bulan bayar 5 bulan dengan harga langganan yang lebih murah dibandingkan agen.

Kini giliran agen mengeluh karena banyaknya pelanggan rontok beralih berlangganan langsung ke Kompas yang jauh menguntungkan. Betapa tidak, di Jakarta langganan di agen sebulan bisa Rp 80.000 sedangkan langsung ke Kompas tidak sampai Rp 70.000! Dapat voucher undian dan hadiah langsung lagi!

**

Penanganan editorial Kompas edisi Minggu semula diserahkan begitu saja kepada kedua pengasuhnya, tanpa punya wartawan langsung. Akibatnya edisi hari Minggu lebih menyerupai majalah ditambah berita aktual yang terjadi pada hari Sabtu.

Namun, karena redakturnya tidak memiliki akses langsung ke wartawan, mereka menjadi kesulitan mendapatkan berita kecuali berita olah raga yang setiap Sabtu selalu ada. Akhirnya mereka kebanyakan mengambil berita dari kantor-kantor berita baik dalam negeri maupun asing.

Baca Juga: Jakob Oetama, Nama Yang Melegenda dalam Dunia Jurnalistik dan Media

Dalam perkembangan selanjutnya, setiap minggu disusun rencana liputan untuk edisi hari Minggu. Tulisan disiapkan oleh masing-masing redaktur bidang sehingga redaktur edisi Minggu tidak kelabakan setiap kali mau terbit.

Dan ketika pada tahun 1986 saya menjadi penanggung jawab edisi Minggu, halaman sudah dibagi dengan rubrik-rubrik tertentu dan masing-masing rubrik ada penanggung jawabnya. Pekerjaan terberat ketika itu adalah harus selalu mengingatkan kepada penanggung jawab rubrik agar mematuhi jadwal penurunan tulisannya. Pekerjaan yang nampaknya ringan tetapi “makan hati”.

Kini Kompas edisi Minggu sudah menyambung dengan edisi harian, kalaupun ada liputan khusus tidak perlu menjadi laporan utama halaman pertama. Selain itu ketika saya pensiun tahun 2004 penanggung jawab edisi itu sudah menjadi satu dengan kepala desk kebudayaan.

Sementara itu kalau bicara perkembangan oplah, memang menakjubkan. Kompas edisi Minggu yang semula ditolak agen dan segelintir pembaca itu, secara pelan tapi pasti terus merangkak naik.

Pada tahun 1984 oplahnya sudah menyamai edisi harian yang berkisar di angka 400.000 eksemplar. Puncaknya terjadi pada tahun 1986, oplah Kompas edisi Minggu melampaui angka 600.000 eksemplar, oplah tertinggi sepanjang sejarah Kompas sampai kini.

(Bersambung)

Mamak Sutamat, wartawan purnatugas Harian Kompas 1970-2004.

***

Tulisan sebelumnya: Asal Muasal Kompas [12] Dilarang Pasang Iklan Besar