Berpikir 1.000

Toh mati urusan masing-masing. Tapi harus juga dicari cara mati yang enak: yang tanpa menularkannya ke orang lain.

Selasa, 24 Maret 2020 | 07:42 WIB
0
2111
Berpikir 1.000
Berpikir 1000 kali (Foto: Disway.id)

Saya berpikir 1.000x untuk menulis DI's Way hari ini. Yang ke-1001 saya putuskan: menulis.

Sepanjang semua orang bisa lockdown secara suka rela, sebenarnya memang tidak perlu lockdown total.

Tapi kita menghadapi kenyataan: banyak orang punya jalan pikiran yang berbeda. Terutama kalau sudah menyangkut agama.

Dan itu tidak mungkin dilawan. Dan sebaiknya memang jangan dilawan. Tidak bijaksana.

Misalnya begitu banyak yang berpikiran 'nyawa itu di tangan Tuhan'.

Mereka tidak salah.

Mereka berpegang pada kitab suci: "kalau sudah waktunya ajal tiba tidak akan bisa dimundurkan atau dimajukan satu detik pun".

Ayat tersebut menjadi salah satu ayat favorit. Artinya: termasuk ayat yang paling sering diindoktrinasikan. Sejak kecil dulu. Saya hafal bunyinya dalam bahasa Arab.

Bisa jadi kepopuleran ayat itu sejajar dengan ayat: bila kalian mensyukuri nikmat Tuhan senantiasa akan ditambah nikmat itu dan bila kalian tidak mengakui nikmat itu kalian akan mendapat laknat.

Jadi, mati itu di tangan Tuhan. Seperti apa pun Anda lari dari kematian, Anda mati juga --kalau memang sudah ditentukan saat itu harus mati.

Sebaliknya untuk apa meniadakan salat Jumat. Kalau memang belum saatnya mati Anda tidak akan mati. Kok sampai mengorbankan salat Jumat!

Dengan berpegang pada prinsip-prinsip seperti itu bagi kami mati itu biasa. Tidak menakutkan sama sekali.

Mati itu sudah ditentukan harinya, jamnya dan detiknya sejak jauh-jauh hari --bahkan sejak sebelum dilahirkan.

Saya ikuti pula pemberitaan di Amerika dengan intensif. Ternyata di sana banyak juga kelompok gereja yang punya pikiran mirip-mirip itu.

Umumnya dari kelompok yang mendukung Donald Trump. Hanya saja jumlahnya tidak sebanyak (dalam persentase) di lingkungan kami umat Islam di Indonesia.

Pun menghadapi Covid-19 sekarang ini. Jangankan virus. Ke medan perang pun kami tidak takut. Kalau belum waktunya mati tidak akan mati.

Yang seperti itu sudah menjadi realitas masyarakat kita. Jangan dimusuhi. Tidak menyelesaikan masalah. Juga tidak bijaksana.

Ketika masjid Al Falah Surabaya tidak melaksanakan salat Jumat (Jumat lalu) ada jemaah yang datang marah-marah. Ia manyatakan: yang menyuruh tidak Jumatan itu pasti PKI (Partai Komunis Indonesia).

Al Falah adalah masjid besar yang letaknya di jalan utama Surabaya. Langkahnya itu sangat mengejutkan, memang. Sampai dikecam sebagai PKI.

Saya juga menerima kiriman WA. Dengan nada bangga --dan ingin menunjukkan kebanggaan itu pada saya: Abah.... Alhamdulillah masjid di lingkungan saya tetap ramai Jumatannya. Di lingkungan kami tidak ada yang sampai paranoid.

Ibaratnya ikhtiar sudah dianggap paranoid.

Dalam kasus Al Falah Surabaya sebenarnya agak mengherankan.

Lihatlah pertanyaan yang disampaikan kepada saya ini: mengapa masjid yang biasanya memegang prinsip kuat keagamaan (Quran Hadis) malah bisa menerima ide tidak perlu ada Jumatan?

Al Falah termasuk dikenal sebagai masjid seperti itu.

Sebaliknya masjid-masjid yang selama ini dikenal berorientasi pada ahli sunnah yang moderat dan akomodatif justru tetap melaksanakan salat Jumat?

Saya tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Apalagi yang bertanya itu seorang intelektual. Maka jawaban saya singkat: justru saya yang ingin menanyakan itu kepada Anda!

Ia lantas menambahkan: mengapa yang selama ini kita kenal sebagai Wahabi (Saudi Arabia dkk) malah bisa menerima ide libur Jumatan.

Sedang yang ahli sunnah malah tidak?

Pertanyaan itu pun menggantung. Saya pilih diam. Saya sebenarnya tahu jawabnya, tapi itu termasuk 1002.

Misalnya lagi: Jamaah Tabligh. Kita mengenal kelompok ini sangat damai. Tidak pernah mau demo, tidak pernah anti pemerintah, tidak pernah terkait terorisme.

Tapi kali ini nama Jamaah Tabligh dicela di mana-mana. Sebagai salah satu komunitas penyebar Covid-19.

Kenapa yang seperti itu bisa terjadi di kelompok Jamaah Tabligh? Saya juga tidak bisa menjawab. Masih harus masuk ke 1003.

Itu awalnya dari acara besar mereka di dekat Kuala Lumpur. Akhir bulan Februari lalu. Berarti Covid-19 sudah mulai merajalela saat itu.

Pertemuan itu diikuti puluhan ribu orang. Media Malaysia menyebut 16.000 orang.

Banyak jamaah dari mancanegara ikut hadir. Termasuk dari Indonesia. Puluhan ribu orang itu berada dalam satu lokasi selama tiga hari.

Tidur di situ --seadanya. Makan di situ --banyak yang masak sendiri. Ibadah bersama. Mendengarkan rangkaian ceramah bersama.

Begitulah memang kebiasaan di aliran Jamaah Tabligh. Selalu pindah-pindah tempat. Dari satu negara ke negara lain.

Akhirnya diketahuilah forum di dekat Kuala Lumpur itu menjadi arena penularan Covid-19.

Separo dari penderita Covid-19 di Malaysia terkait dengan acara Tabligh ini. Jumlah penderita di Malaysia mencapai 1.300 orang --tiga hari lalu.

Tapi peserta dari luar negeri sudah pulang semua. Sudah sulit dilacak. Sebagian sudah siap-siap menghadiri pertemuan besar berikutnya di Indonesia --di dekat Makassar. Yang jadwalnya pekan lalu.

Kelompok ini memang kompak sekali. Saya pernah ikut pertemuan seperti itu di dekat Karawang. Yang hadir puluhan ribu orang. Selama tiga hari. Saya juga pernah ke salah satu pusat kelompok ini di dekat Lahore, Pakistan.

Setelah pertemuan di dekat Kuala Lumpur itu muncul pula berita Covid-19 dari banyak negara tetangga.

Dari Kamboja sangat mengejutkan. Tiba-tiba ada 11 penderita baru. Padahal Kamboja termasuk yang paling sedikit penderita Covid-19-nya.

Sampai hari itu baru ada 11 orang penderita. Tiba-tiba hari itu naik 100 persen. Setelah diteliti semua penderita baru itu adalah orang Khmer muslim. Mereka baru tiba dari Kuala Lumpur itu.

Sampai kemarin jumlah penderita di Kamboja 53 orang dengan tingkat kematian 0.

Pemerintah Vietnam juga sangat menyesalkan mereka. Vietnam --yang berusaha penderitanya seminim mungkin-- merasa kebobolan.

Banyak orang Nha Trang yang tiba-tiba terkena Covid-19. Ternyata itu dari komunitas Islam di kota pantai dekat Da Nang itu. Mereka juga baru pulang dari acara Jamaah Tabligh di dekat Kuala Lumpur.

Kini penderita Covid-19 di Vietnam 94 orang, tidak satu orang pun meninggal. Sampai kemarin.

Berita yang sama muncul dari Thailand, Filipina dan Brunai.

Meski begitu mereka masih ngotot tetap menyelenggarakan pertemuan tingkat dunia di dekat Makassar.

Ribuan orang sudah sempat berdatangan. Untung pemerintah daerah berkeras menghentikan acara itu.

Di Inggris komunitas Islam juga lagi jadi sorotan. Itu karena 50 persen penderita Covid-19 di Inggris terjadi di komunitas Islam di sana. Itu data dua hari lalu.

Di Korea Selatan yang jadi sorotan adalah komunitas gereja. Di Inggris komunitas masjid. Komunitas --agama maupun bukan agama-- memang diketahui sebagai pusat penukaran yang cepat.

Pengurus masjid Al Falah --yang mulai hari ini lockdown total, termasuk tidak ada jamaah lima waktu-- mungkin juga tidak takut mati.

Toh mati urusan masing-masing. Tapi harus juga dicari cara mati yang enak: yang tanpa menularkannya ke orang lain.

Dahlan Iskan

***