Radikalisme Sejak PAUD?

Ada sekolah Islam yang cenderung mengajarkan radikalisme. Sekolah Dasar ini mengajarkan tentang konflik Israel dan Palestina yang tentu saja bukan merupakan kurikulum untuk anak SD.

Rabu, 4 Desember 2019 | 06:11 WIB
0
1241
Radikalisme Sejak PAUD?
Pawai TK di Probolinggo (Foto: ahlulbaitindonesia.or.id)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Al-Hujurat (49:13)

Wapres Kyai Ma’ruf Amin di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (15/11/19) menyampaikan sebuah isu tentang pentingnya upaya melawan radikalisme pendidikan di pengajaran pada anak sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkat Sekolah Dasar (SD).

Melawan radikalisme melalui pendidikan sejak PAUD? Ya. Menurut Kyai Ma’ruf saat ini telah muncul gejala radikalisme di tingkat PAUD hingga SD.

Maka gegerlah dunia persilatan…

Tidak kurang dari Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, yang ikut senewen mendengar tudingan wapres itu. Beliau menilai jika pernyataan tersebut benar maka akan berdampak luas terhadap keberadaan PAUD di Indonesia. Noor menyatakan bahwa jumlah PAUD di Indonesia mencapai puluhan ribu.

Bahkan, Aisyiyah sendiri memiliki sekitar 20 ribu PAUD yang sudah berlangsung satu abad merintis pendidikan usia dini di Indonesia. Ia menekankan, PAUD Aisyiyah dan PAUD pada umumnya mengajarkan nilai-nilai keislaman, keagamaan dan kebangsaan yang luhur. Noor juga menegaskan, tidak mengajarkan dan mengenalkan radikalisme.

Reaksi defensif dari banyak pihak ini membuat saya tidak habis pikir. Ya kalau PAUD Aisyiah tidak mengajarkan dan mengenalkan radikalisme seperti yang dimaksud oleh Kyai Ma’ruf lalu untuk apa bersikap reaktif dan sensitif seolah mendapat tuduhan? Tidak mungkin Kyai Ma’ruf asal ngomong soal radikalisme yang telah muncul gejalanya sejak PAUD itu. Tentu ada dasar dan bukti-buktinya.

Hal itu diketahuinya saat ia melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Menurut beliau banyak sekolah yang masih menggunakan bahan ajar yang di dalamnya mengandung unsur radikalisme. Bahan ajar itu lolos hingga ke tangan anak-anak, bahkan tak jarang dijadikan sebagai bahan atau soal ujian.

Masih ingat kasus pawai di Probolinggo pada 19 Agustus 2019 yang lalu? Pada pawai karnaval anak-anak TK dan PAUD itu ada rombongan peserta pawai anak-anak menggunakan pakaian bercadar hitam dan membawa senjata mainan model AK 47. Padahal selama ini imej pasukan berpakaian hitam bercadar dan membawa senjata seperti itu adalah imej pasukan teroris ISIS. Bagaimana mungkin anak TK diajari untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan pasukan teroris ISIS?

Memapar anak dengan atribut cadar dan replika senjata yang biasa dilekatkan kepada kelompok radikal dalam kegiatan karnaval benar-benar sesuatu hal yang sangat disayangkan. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Siti Hikmawati, menuntut kepolisian mengusut lebih lanjut dan memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah yang dinilai telah memapar anak dengan atribut cadar dan replika senjata yang biasa dilekatkan kepada kelompok radikal dalam kegiatan karnaval tersebut.

Apa hal lain yang membuat Wapres cemas? Ternyata ditemukan beberapa jilid buku pelajaran siswa Taman Kanak-kanak (TK) berjudul Anak Islam Suka Membaca, mengajarkan radikalisme dan memuat kata-kata ‘jihad’, ‘bantai’, dan ‘bom’.

Dalam beberapa jilid buku Anak Islam Suka Membaca, menurut Sekretaris Jenderal GP Ansor, Adung Abdurrahman, terdapat setidaknya 32 kalimat yang bisa dipandang radikal. Misalnya, ‘sahid di medan jihad’ dan ‘selesai bantai raih kyai’.

Buku tersebut pertama kali diterbitkan pada 1999 dan telah dicetak ulang sebanyak 167 kali. Edisi ke-167 dirilis pada 2015 dan diterbitkan oleh Pusaka Amanah di Solo, Jawa Tengah. GP Ansor yang menyelidiki hal ini mengatakan buku itu telah menjangkau anak-anak di seantero Indonesia, khususnya anak-anak yang belajar di TK Islam swasta.

”Buku ini karya Nurani Musta’in. Dia istri Ayip Syafruddin yang merupakan pimpinan kelompok Laskar Jihad di Solo,” kata Adung Abdurrahman. “Saya tidak bisa bayangkan apabila kata-kata ini diserap, dihayati oleh anak-anak usia TK. Kemudian 15 sampai 20 tahun ke depan, ada memori dalam alam bawah sadar dia tentang kata-kata itu. Membentuk pandangan yang keras, yang radikal, yang mengabsahkan kekerasan, bom, pembantaian terhadap kyai. Itu kan, dalam pandangan kami, sangat tidak boleh diajarkan pada anak-anak.”

Repotnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan waktu itu menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa melakukan penarikan buku paket pelajaran TK yang mengandung muatan radikal karena buku-buku tersebut bukan buku resmi yang dikeluarkan pemerintah.

Apakah memang ada sekolah dasar yang cenderung radikal? Ternyata memang ada sekolah Islam yang cenderung mengajarkan radikalisme. Sekolah Dasar ini mengajarkan tentang konflik Israel dan Palestina yang tentu saja bukan merupakan kurikulum untuk anak SD.

Anya seorang anak berusia 9 tahun yang bersekolah di sana tiba-tiba mendatangi ayahnya dan menangis ketakutan dan bertanya apakah kalau Palestina diserang Israel mereka juga akan mati. Ternyata ajaran tentang konflik Israel dan Palestina yang diajarkan oleh gurunya ini begitu mencekam baginya. Di mana ini terjadi? Anya bersekolah di sebuah sekolah dasar Islam yang berjargon sebagai sekolah pencetak Hafizh Qur’an. Di situs resminya, sekolah ini mengklaim telah memiliki 80 cabang di belasan provinsi Indonesia.

Di sekolah Anya ini tidak ada upacara bendera, tidak  menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tidak ada bendera Merah Putih. Sekolah Anya ini juga tetap masuk pada hari libur nasional yang berkaitan dengan hari perayaan agama lain di luar Islam.

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Azyumardi Azra mengungkapkan paham radikal -yang menganggap pemahamannya paling benar- juga telah menyusup ke sekolah menengah melalui guru.

“Saya mengalami sendiri. Putri saya sekolah di sebuah sekolah yang bagus, elite, cukup mahal di Jakarta selatan. Ada satu atau dua gurunya yang kalau mengajar suka menyisipkan pesan-pesan ajaran salafi, yang berpikir hitam putih, atau mengajarkan paham-paham yang kelihatan proradikalisme untuk mengubah keadaan,” kata Azyumardi. “Cuma, saya tidak tahu berapa banyak murid yang bisa terpengaruh,” katanya.

Baca Juga: Mencegah ASN Terpapar Radikalisme

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom. Survei ini menyimpulkan bahwa lebih 63% siswa sekolah menengah pertama dan menengah atas mau melibatkan diri dalam tindakan-tindakan untuk menyegel rumah ibadah umat agama-agama lain.

Di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu sebuah yayasan pendidikan pernah memecat 13 guru karena mengajarkan paham radikal, seperti dijelaskan Ketua Yayasan Assalamah Ungaran, Husein Abdullah.

“Memberikan pelajaran agama yang tidak sesuai syariat yang kami anut, mereka ini tidak sesuai dengan Syafi’i, mengajarkan tak boleh tahlil, ziarah kubur, ini bapak-bapak kamu kalau tahlil itu salah dalam tanda kutip sekarang orang berbicara dengan istilah wahabi itu, mereka tak mau upacara bendera hari Senin, tak mau menyanyikan Indonesia Raya, setelah mereka masuk itu tidak ada,” jelas Husein.

Apakah kita masih akan terus denial dan selalu membantah dengan menyatakan bahwa tidak ada bibit-bibit radikalisme yang ditanamkan oleh sekolah-sekolah tertentu?

Saya sungguh heran dengan apa yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno memaparkan hasil survei lembaganya menyimpulkan bahwa pertentangan antara agama dan negara itu sebetulnya telah selesai di Indonesia ini karena mayoritas masyarakat Indonesia termasuk golongan moderat 81,4% dan yang tidak moderat hanya 15,6%. Kalau yang tidak moderat ini diibaratkan kanker maka nyawa si penderita sudah diujung tanduk dengan keterpaparan 15,6% tersebut.

Pertentangan antara agama dan negara masih terus berlangsung dan bahkan semakin tajam belakangan ini. Lha wong FPI dan HTI sampai sekarang masih terus memperjuangkan khilafah begitu kok dibilang pertentangannya sudah selesai?

Sampai sekarang masih ada teman saya yang menyatakan bahwa dia ingin mati sebagai syuhada dengan berperang melawan kaum kafir. Entah kaum kafir mana yang mau diperanginya sampai dia mati syahid itu. Itu jelas-jelas pandangan radikalis yang mencemaskan jika ditularkan ke mana-mana. Akhirnya mereka akan mencari siapa saja yang bisa dianggapnya sebagai kaum kafir yang akan diperanginya sampai dia mati dan merasa syahid karenanya.

Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian (IIPB) dan salah satu dosen tamu di Rajaratnam School of International Studies Nanyang Technological University Singapura, Noor Huda Ismail, mengatakan para jihadi yang terafiliasi dengan paham radikalisme, pada dasarnya menggunakan dua hal untuk menyebarkan ajaran mereka, dakwah dan jihad, melalui pengajian-pengajian dan pondok pesantren. Dalam sebuah diskusi terorisme Noor Huda memaparkan bahwa setelah Bom Bali, ada sekitar 50 sekolah yang berafiliasi dengan Jemaah Islamiyah (JI) yang ada di Indonesia.

“Tapi sekarang jumlahnya bisa saja berlipat ganda karena sekarang kaderisasi mereka dimulai dari usia yang bahkan jauh lebih muda, bahkan di lingkungan tempat penitipan bayi. Ada tempat penitipan yang dikelola oleh ibu-ibu JI, jadi sosialisasi untuk menjadi sosok yang spesifik ini dimulai dari usia yang sangat dini,” ujar doktor lulusan Monash University yang juga alumni Pondok Pesantren Ngruki asuhan Abu Bakar Ba’asyir ini. Noor Huda menyatakan sosialisasi yang dilakukan kelompok ini terhadap anak-anak usia dini sangatlah halus, melalui dakwah dan doa. “Pelan-pelan lewat hafalan Al-Quran tapi jelas mereka tidak merayakan perbedaan. Misalnya mereka hanya bergaul dengan kelompoknya saja.”

Karenanya, menurut Noor Huda, pendekatan yang dilakukan terhadap kelompok radikalis harus diubah. Mereka harus menjadi agen perdamaian itu sendiri. “Dorong mereka untuk berbicara mengenai alasan mereka untuk hidup. Kenapa? Karena sebagian besar teroris yang pernah saya ajak ngobrol, mereka tak terlahir demikian.”

“Tak ada yang terlahir sebagai teroris. Ada proses menuju ke sana, dan seharusnya ada proses untuk meninggalkannya.”

Baca Juga: Arus Balik Melawan Radikalisme

Apa yang ingin dilakukan oleh Wapres Kyai Ma’ruf? “Kita ingin libatkan secara keseluruhan, terorganisasi, tersinergi, komprehensif, sehingga perkembangan radikalisme (dapat dicegah) dari hulu sampai ke hilir. Mulai pendidikan, bukan hanya SD, dari PAUD juga mulai ada gejala, dari TK tokoh-tokoh radikal itu sudah dikenalkan,” ujar Ma’ruf di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (15/11).

Hal lain yang tak kalah penting, lanjutnya, adalah membangun narasi kerukunan di antara kehidupan masyarakat. Ia mengingatkan agar masyarakat mengurangi narasi-narasi konflik maupun ujaran negatif seperti kafir dan sebagainya. Sebab, ucapan negatif semacam itu justru akan memicu konflik dan menimbulkan permusuhan.

Itulah sebabnya saya sangat bersyukur bahwa telah muncul sekolah-sekolah Islam yang memahami pentingnya merayakan perbedaan yang justru merupakan ajaran dan anjuran dalam Islam itu.

Alhamdulillah…! Puluhan siswa SD Islam Arrahman Perak Jombang dan SD Kristen Petra Jombang, menggelar acara pertemuan lintas iman di dalam Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang. Pertemuan digelar, demi menanamkan toleransi sejak usia dini. Dalam pertemuan yang digelar pada Selasa (5/11/2019) itu, mereka saling mengenal, saling sapa hingga saling bermain bersama.

Para guru yang memandu acara ini berbicara soal agama-agama yang diakui di Indonesia dan bagaimana bentuk rumah ibadah dari agama masing-masing. Achil Rohmawati, guru SD Islam Arrahman Perak Jombang mengatakan, pihaknya memilih mengunjungi SD Kristen Petra karena di lingkungan sekolah terdapat gereja. “Dengan berkunjung langsung, anak-anak tidak hanya mengetahui dari buku. Anak-anak bisa melihat secara langsung bagaimana tempat ibadah agama-agama lain di Indonesia,” kata Achil.

Ini adalah program sekolah Islam yang paling saya tunggu-tunggu, yaitu penerapan Surat Al-Hujurat ayat 13 dalam Alquran.

Jadi saling kenal mengenal itu adalah perintah Tuhan pada umat Islam. Mengapa Islam menganjurkan umatnya agar saling mengenal? Agar timbul kedamaian dan perdamaian. Tatkala antar manusia atau antar suku dan bahkan antar negara tidak saling mengenal maka mereka akan saling mencurigai satu dan yang lainnya.

Kecurigaan akan bisa meningkat menjadi konflik yang akan merugikan semua pihak. Tapi jika kita saling mengenal maka akan timbul rasa kasih sayang yang akhirnya akan saling memberikan manfaat antara satu dan yang lainnya.

Salut untuk SD Islam Ar-Rahman dan SD Petra Jombang yang telah memulainya.

Surabaya, 3 Desember 2019

Sumber :

Republika, BBC, Tempo, Tempo, CNN Indonesia,  dan BBC.

Salam,

Satria Dharma

***

Keterangan: tulisan telah dimuat sebelumnya di blog pribadi Satria Dharma.