Antara Paranoid dan Meremehkan, Ketidakseimbangan Menyikapi Covid19

Perbanyak edukasi tatap muka, mulailah seimbangkan informasi. Jika kita sudah terlalu sering melihat yang ringan, tak ada salahnya seimbangkan dengan yang berat.

Sabtu, 23 Mei 2020 | 06:51 WIB
0
47
Antara Paranoid dan Meremehkan, Ketidakseimbangan Menyikapi Covid19
Ilustrasi ketakutan corona (Foto: topcareer.id)

Selama ini, kebanyakan berita yang beredar cuma di satu sisi ekstrimnya saja. Kalau di awal-awal banyak yang berlebihan dalam memberitakan namun belakangan berpindah ke sisi sebaliknya, menganggap enteng. Keduanya sama-sama tidak baik.

Dari awal saya tak setuju dengan banjirnya narasi hiperbolis dalam menyampaikan berita karena ini bukan cara yang tepat memunculkan kewaspadaan tapi malah menebar ketakutan (fear mongering) dan membuat publik paranoid.

Kini, di tengah kondisi masyarakat yang sudah kadung stres, timbul kutub berbeda menjadi antitesa alias lawannya, meremehkan. Publik yang tengah dilanda stres tingkat tinggi bagai mendapat air di tengah padang pasir, spontan sebagian dari mereka langsung berbalik arah. Bahkan tak sedikit yang malah terjebak di konspirasi tak berdasar yang jauh dari fakta sains.

Logika publik dengan cepat berayun. Pada kondisi tertekan, penalaran seseorang relatif menurun, akibatnya tak sulit diduga, banyak yang malah jadi salah paham, salah ambil kesimpulan. Sesat pikir/logika banyak sekali terjadi.

Dan sudah naluri alami manusia akan mencari kenyamanan, ketenangan. Sehingga waktu mereka menemukan info yang menyenangkan tadi, mereka langsung percaya mentah-mentah walau bisa jadi secara sains berlawanan dengan fakta yang ada.

Selama ini, publik disesaki oleh informasi yang setengah-setengah. Akibatnya, jadi banyak orang justru terjebak di dua sisi ekstrim, sebagian mengalami ketakutan yang amat sangat dan sebagian lain malah anggap enteng.

Korban Covid akan puluhan juta dalam dalam waktu singkat dan siapkan jutaan peti mati kalau pemerintah tidak lockdown. Sebuah narasi yang mengerikan terdengar di telinga. Atau sebaliknya, Covid itu cuma kaya batuk pilek biasa, santai aja jangan mau ditakuti media. Mereka bagian dari konspirasi global untuk menipu. Sebuah narasi yang melegakan didengar.

Baca Juga: Tertangkap Virus

Contoh 2 narasi model ini yang kerap melintas di depan mata. Keduanya adalah sisi ekstrim, sama-sama bercerita cuma dari 1 sisi saja, yang paling mengerikan saja dan yang paling ringannya saja. Ini yang disebut dengan setengah fakta, ia tak bercerita lengkap soal fakta penyeimbang di sisi lain.

Memang Covid bisa menular dengan cepat dan bisa berujung kematian tapi untungnya di dunia ini tak ada satupun pemerintah yang cuma diam. Dan terbukti tanpa lockdown, negara seperti Korea Selatan atau Vietnam ternyata sukses meredam tingkat infeksi dan kematian akibat Covid. Seimbang kan ceritanya?

Covid bisa seringan sakit batuk pilek, bahkan bisa juga tanpa gejala dan sembuh sendiri. Tapi di sisi lain, ia juga bisa separah TBC, menimbulkan sesak nafas berat karena tak seperti sakit batuk pilek biasa, virus ini bisa menyerang paru-paru kita. Hal yang tidak dilakukan oleh virus batuk pilek biasa. Adil kan penjelasannya?

Pasien covid mungkin tidak membludak di suatu daerah, ini tentu kabar baik. Tapi di daerah lain memang ada lonjakan sehingga warga harus tetap jalankan protokol kesehatan. Selalu jaga kesehatan, pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan. Namun andai terkena pun, jangan panik. Ini bukan vonis mati karena justru sebagian besar pasien bisa sembuh tanpa harus mendapat perawatan khusus.

Lebih enak kan mendengar yang begini? Tak membuat lengah tapi juga tak menimbulkan rasa takut berlebihan. Ini yang namanya berimbang.

Setiap informasi yang memberatkan diikuti dengan yang meringankan. Setiap berita yang negatif, disusul dengan berita positif. Ini yang akan membentuk kewaspadaan sehingga publik tidak stres, tidak paranoid, tapi juga tidak anggap enteng, tidak lengah. Seimbang.

Sayangnya, ini yang mungkin jarang kita temui. Penjelasan dari ahli, nakes atau siapapun biasanya terpolarisasi ke salah satu saja. Sekalinya negatif, negatif terus, menyeramkan, seolah dunia mau kiamat. Sementara yang satu lagi positif, positif terus, membuat terlena, seperti tak ada apa-apa.

Percayalah, mendengar langsung bagaimana penderitaan pasien positif Corona yang mengalami demam, pusing, mual, nyeri sendi dan sesak nafas selama berminggu-minggu, ya berminggu, bukan cuma 2-3 hari, akan membuat klaim "kaya batuk pilek biasa" terdengar konyol.

Tapi melihat bagaimana ia mampu bertahan tanpa perawatan khusus ventilator di tengah lemahnya kondisi fisik pasien dan saat ini sudah sembuh total seperti biasa, membuat saya yakin bahwa jika seorang terkena Corona, itu bukan akhir dari dunia. Bukan vonis mati.

Seimbangkanlah informasi karena itulah yang jadi dasar sikap waspada. Waspada itu sikap tak pernah meremehkan tapi juga bukan paranoid, ia tepat di antara keduanya.

Di luar ketidakseimbangan ini, ada juga masalah lain, yaitu soal ketimpangan informasi karena pebedaan perilaku sosial. Ya, masyarakat kita itu tak semua akrab dengan dunia maya. Kasarnya, ada yang melek internet dan ada yang tidak.

Ketika wawasan soal Corona mencapai titik jenuh di benak warganet, sebagian "warga offline" justru mungkin masih belum dapat pengetahuan yang sama. Selama ini edukasi terlihat lebih banyak beredar di dunia maya, sementara di luar sana, ada sebagian yang sehari-harinya memang "tidak gaul" di situ. Mereka masih perlu diberi pemahaman.

Baca Juga: "Peace And Victory"

Memang adanya PSBB menjadi kendala tapi tidak ada cara lain. Justru jika ingin PSBB sukses, maka satu-satunya jalan harus diperbanyak edukasi offline alias tatap muka. Tidak bisa lewat online semata karena justru di sini kondisinya sudah jenuh, bosan, mentok.

Dinkes tiap daerah beserta tokoh masyarakat sebaiknya sering turun ke bawah memberi pemahaman terutama di tempat rawan keramaian seperti pasar. Seringkali, komunikasi tatap muka justru bisa lebih diterima warga, apalagi kalau yang menyampaikan enak dipandang dan bersuara empuk. GPL deh.

Norma baru mustahil dihindari dan ini membutuhkan pemahaman yang menyeluruh di semua lapisan. Jadi, perbanyak edukasi tatap muka, mulailah seimbangkan informasi. Jika kita sudah terlalu sering melihat yang ringan, tak ada salahnya seimbangkan dengan yang berat.

Sebaliknya, jika sudah terlalu banyak mendengar yang negatif, maka seimbangkan dengan yang positif. Sehingga pada akhirnya yang meningkat adalah tingkat kewaspadaan, bukan paranoid dan bukan pula anggap enteng.

***