Kartini, Kosmopolitan yang Bangga Menjadi Kawula Gusti

Di akhir hidupnya, Kartini menulis surat-surat terakhirnya bahwa ia telah menemukan dirinya sebagai seorang "Kawula Gusti", ajaran tertinggi dalam kultur Islam-Kejawen, yang menunjukkan batas antara manusia dan Tuhan sedemikian dekatnya.

Sabtu, 23 April 2022 | 06:00 WIB
0
50
Kartini, Kosmopolitan yang Bangga Menjadi Kawula Gusti
Foto dokumenter (Foto: dok. pribadi)

Setahun lalu, saya menuliskan sumbangan Kartini yang tidak melulu harus dipahami sekedar sebagai tokoh emansipasi wanita. Sesuatu yang mungkin sudah bikin dirinya bersedih, bahwa setelah lebih dari seabad kemudian ternyata kaumnya banyak yang sudah kebablasan, kepinteren, atau malah kemajon. Tapi ya wis, mungkin zamannya memang harus berubah begitu.

Setahun lalu itu, saya menuliskan bagaimana sumbangan besar Kartini untuk menjadikan kota kelahirannya sebagai "kota ukir". Kepeloporannya dalam mempromosikan produk-produk lokal daerahnya agar lebih dikenal hingga manca negara. Bagaimana ia memotivasi masyarakat di lingkungannya untuk menjadi entreupeneur. Membentuk sejenis koperasi, hingga mendirikan sebuah ambachtschool, atau sekolah kejuruan yang khusus ditujukan memajukan industri kerajinan.

Di bulan April, yang kebetulan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan ini. Saya ingin sedikit memberi catatan, bahwa ia juga memberikan sumbangan pemikiran yang cukup besar bagi kemajuan agama Islam di kemudian hari. Sesuatu yang sebenarnya tak pernah dicatatkannya sendiri, tapi justru merupakan kesaksian orang lain yang pernah bersentuhan langsung dengan dirinya.

Suatu legacy, yang sesungguhnya justru berasal dari kehidupannya yang selalu gelisah. Selalu bertanya, selalu menggugat, selalu tidak jenak dengan dirinya, keluarganya, bahkan lingkungannnya. Mula-mula ia menjadi besar terutama karena rajin menulis surat. Sesuatu yang barangkali jadi aneh di zaman ini, perubahan kok dijalankan melalui korespondensi. Namun tak kalah anehnya di zaman itu, bila menyangkut biayanya yang tentu sangat mahal karena dilakukannya dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri.

Di sinilah sisi kosmopolitan yang barangkali hanya Kartini seorang yang melakukannya!

Saya bisa paham, bahwa di masa yang lebih dulu atau setelahnya di banyak daerah lainnya ada tokoh-tokoh lain yang juga memiliki sumbangan yang sama seperti dirinya. Bila konteksnya adalah, sebatas "memajukan kaum wanita". Sebut saja Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, atau Rohana Kudus. Mereka setara dan sama pentingnya. Tapi mereka tidak punya sifat "ngglidig, mbeling, sok pengen tahu, mempertanyakan, lalu menggugat". Dengan mencatat, menuliskannya, lalu berakhir dengan curhat sana curhat sini...

Bahwa Kartini, selalu gelisah dengan agamanya itu sudah sering dituliskan dalam surat-suratnya. Walau ia mengaku sebagai seorang Islam, tapi ia merasa Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Ia hanya merasa Islam karena nenek moyangnya Islam. Ia menggugat bagaimana dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Ia beranggapan bahwa Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun agar lebih bisa dipahami. Ia memberikan kesaksian di masanya tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Ia beranggapan bahwa orang belajar Al Quran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Demikianlah, curhatan dirinya dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899.

Hingga sebuah peristiwa mempertemukannya dengan Kyai Sholeh Darat, dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang tak lain adalah pamannya. Dalam kesempatan itu Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kali itulah pertama kalinya, ia memahami betapa indahnya arti dalam surat yang dapat dianggap sebagai surat pertama dan induk dari kitab suci agama Islam tersebut.

Dalam kesempatan ini pula ia melakukan "gugatan" kepada sang kyai. Kartini bertanya: Bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya? Ia menyatakan keheranannya mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?

Peristiwa ini tak pernah dituliskan oleh Kartini sendiri. Ia hingga masa itu, masih menganggap bahwa dunia Barat adalah prototype kehidupan yang sempurna. Hal tersebut justru dinyatakan oleh Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini. Peristiwa yang menggugah kesadaran Kyai Sholeh melakukan pekerjaan besar untuk menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Yah bahasa Jawa...

Sebagaimana kita tahu Kyai Sholeh Darat adalah tokoh Islam besar pada zamannya. Beliau adalah guru dari para kyai penggerak perubahan sosial di tanah Jawa dan nusantara. Kyai Shaleh Darat adalah guru dari KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Kyai Dimyati (Tremas), Kyai Munawir (Krapyak) dan lainnya. Jadi bukan kebetulan bila sejarah mempertemukan Kartini dengan dirinya.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan dan menuliskan ayat demi ayat, juz demi juz dari bahasa Arab kedalam bahasa Jawa. Sebanyak 13 juz terjemahan tersebut diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia. Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini menerimanya dengan suka cita dan mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya.

Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia. Namun sejak itulah, proses penterjemahan Al Quran ke dalam bahasa Jawa semakin gencar dilakukan, tidak melulu secara verbal tetapi juga dibakukan secara tertulis untuk kemudian diperbanyak melalui proses percetakan modern.

Sejak itu pula lah, Kartini mengalami proses transformasi spiritual yang semakin utuh. Sesuatu yang membuatnya menjadi semakin berimbang secara mental. Hal tersebut tersirat dari korespondensi yang dituliskannya yang semakin meluruh. Ia menjadi lebih mudah memahami bangsanya sendiri. Apa yang dalam bahasa Jawa: perjuangannya menjadi lebih "menep", membumi, mendalam, dan berjejak.

Sedemikian "menep"-nya, hingga Pramudya Ananta Toer menuliskan buku dengan judul "Panggil aku Kartini saja". Ia seolah ingin bersegera melepas segenap derajat kebangsawanannya, ia ingin menanggalkan statusnya sebagai anak dan kemudian jadi istri dari seorang Bupati. Ia ingin melukar dan menukar kegelisahannya, dengan berbuat nyata lebih banyak dan banyak lagi. Walau kemudian justru usia pendek yang menjadi imbalan dan penghalangnya.

Di akhir hidupnya, Kartini menuliskan surat-surat terakhirnya bahwa ia telah menemukan dirinya sebagai seorang "Kawula Gusti". Kawula Gusti adalah ajaran tertinggi dalam kultur Islam-Kejawen, yang sesungguhnya menunjukkan bahwa batas antara manusia dan Tuhan sedemikian dekatnya. Hingga muncul sebuah sinkretisme abadi tentang "manunggaling kawula gusti". Tapi Kartini memaknainya secara lain.

Dalam surat ke Ny Abendanon, bertarikh 1 Agustus 1903, Kartini menulis: "Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu sebagai Hamba Allah".

Kawula Gusti itu bagi dirinya adalah seorang Hamba Allah.....

NB: Mungkin tulisan ini, sedikit menggambarkan kenapa dalam banyak ilustrasi akhir-akhir ini Kartini sudah "dijilbabi". Orang Jawa memaknainya sebagai "dikerudungi' dalam arti diquote sebagai tokoh wanita Islam yang penting. Meninggalkan jauh jejaknya yang asli sebagai seorang kosmopolitan. Seorang dengan karakter cerdas, berjiwa merdeka, terbuka, global, toleran, emansipatif, dst dst...

Tapi ya gak papa toh, anggap saja itu sebagai pengakuan dan kehormatan. Bahwa justru menunjukkan watak inferior dari yang melakukannya, bukankah sudah biasa? Ia tetaplah seorang Kejawen yang bukan kebetulan mempunyai seorang kakak yang bagi saya adalah "the real lelananging jagad": Sosrokartono. Yang bukan saja menguasai 39 bahasa internasional, diplomat internasional terhormat, seorang jenius sekaligus penyembuh. Yang menjadi guru spiritual Sukarno dan banyak tokoh bangsa lainnya.

Ini adalah sebuah cerita dan realita, dimana seorang tokoh itu jika terus menerus digugat, dipertanyakan, digelisahkan. Bukankah dirinya sendiri juga serupa sebangun demikian sepanjang hidupnya. Inilah parameter terpenting bahwa mereka benar-benar tokoh sejati yang tak lekang oleh zaman...

***