Memahami "Citayam Fashion Street" sebagai Subkultur

Alih-alih memasang baliho raksasa yang sudah jelas tersesat dalam ruang maupun waktu, mereka lebih memanfaatkan CFS ini.

Sabtu, 23 Juli 2022 | 06:47 WIB
0
46
Memahami "Citayam Fashion Street" sebagai Subkultur
Bonge dan Paula Verhoeven (Foto: suara.com)

Baiknya terlebih dahulu saya jelaskan mengapa lebih suka menggunakan istilah Citayam Fashion Street (CFS) daripada istilah sebelumya yang sudah kadung populer dan tersimpan di tembolok Google, Citayam Fashion Week (CFW). Alasannya jelas, "street" mengindikasikan ruang, sedang "week" menunjukkan waktu. Dalam bahasa yang lebih filosofis, CFW mewaktu, sedang CFS meruang. Saya lebih memilih meruang.

Kenyataannya, kegiatan anak-anak muda SCBD -pemaknaan baru atas istilah lama- Sudirman Citayam Bojonggede Depok, tidak hanya dibatasi waktu, sebutlah setiap minggu. Ia hadir setiap saat dan "zebra cross" yang kelak akan menjadi penanda (simbol) sebagai "catwalk" jalanan itu adalah ruang di mana aksi unjuk busana dan gaya mewujud. Ia bisa setiap hari ada.

Kemudian selintas saya jelaskan apa yang dimaksud subkultur di sini. Barangkali contoh ekstrem subkultur dan cenderung generik yang sering masuk kajian "cultural studies" adalah kelompok Hippies, Punk, Reagge, belakangan Genk Motor dan sekarang CFS. Kalau kemudian CFS dimasukkan ke dalam subkultur, maka ia sederajat dengan sub-subkultur existing lainnya.

Anda yang akrab dengan ilmu-ilmu budaya kontemporer sudah tidak asing dengan istilah subkultur yang sesungguhnya merupakan arus kebudayaan yang khas dan selalu berseberangan dengan arus budaya dominan atau "mainstream". Bahasa lokalnya "nyeleneh".

Namun demikian, subkultur ini memiliki nilai, norma dan wangun kebudayaannya sendiri. Gampangnya, punya ritual sendiri yang khas, yang berbeda dengan budaya arus utama.

Tidak gampang memasuki kelompok Genk Motor kalau belum melakukan ritual yang mereka ciptakan sendiri dan harus dijalani setiap anggotanya. Misalnya Anda harus menunjukkan keberanian dengan cara berkelahi di depan anggota Genk Motor lainnya sebelum diakui sebagai bagian dari kelompok itu.

Atau Anda tidak mungkin masuk kelompok Punk jika masih menggunakan sepatu kets dengan rambut lepek dan tubuh tanpa tatto. Punk memiliki ritual itu dan simbol-simbol yang mereka ciptakan punya makna. Rambut yang "rancung" ke atas menunjukkan perlawanan kelompok ini kepada kemapanan budaya orang kebanyakan (dominan) dan tatto menggambarkan anggota kelompok ini berdaulat atas tubuh mereka, bukan hegemoni liyan. Masih banyak contoh lainnya, Anda bisa cari sendiri.

Kembali ke Citayam Fashion Street...

Niscaya aktivis atau penggerak CFS yang mengkristal lewat penamaan SCBD itu juga punya simbol dan ritual yang mungkin sulit dipahami budaya arus utama saat ini, termasuk oleh Anda barangkali. Pakaian "nyeleneh" dan tidak biasa yang mereka kenakan adalah simbolisasi eksistensi kelompok mereka. Belum lagi penciptaan istilah baru seperti "slebew" yang secara hermeneutis hanya mereka sendiri yang paham maknanya.

Norak? Mungkin iya. Tetapi jika subkultur CFS menjadi lebih dominan dan diterima khalayak luas sebagaimana Harajuku di Jepang, lambat laun kosakata ini akan menjadi salah satu lema baru kamus besar bahasa Indonesia.

Belum lagi gaya berpakaian mereka, niscaya kaum posmo akan menirunya juga, meski malu-malu pada mulanya.
Sebagai subkultur baru, CFS penuh simbol yang asyik untuk dimaknai baik secara semiotis maupun hermeneutis. Ia magnet baru yang menyedot kaum posmo Ibukota, yang sebelum-sebelumnya menganggap Jakarta seolah-olah milik mereka. Kemudian Roy, Jeje, Bonge "cum suis" datang memberi makna baru tentang ruang dan waktu, bahwa Jakarta itu punya orang Indonesia, termasuk anak-anak muda dari pinggiran Jakarta seperti Citayam, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi dan lain-lain.

Anak-anak aktivis subkultur CFS juga seperti menampar kesadaran para politikus yang masih berpikiran kolot bahwa baliho adalah "ruang" di mana mereka dapat mereguk simpati orang-orang yang melihat baliho itu setiap saat. Alih-alih menangguk simpati, yang terjadi malah sebaliknya, antipati. Buktinya, politikus yang paling sering memasang baliho itu justru yang memiliki elektabilitas "baskom", bawah satu koma. Maka politikus yang merasa masih "baskom", segeralah datang ke mari!

Maka orang-orang seperti Anies Baswedan yang "welcome" terhadap CFS dan Ridwan Kamil yang menggunakan"catwalk" berupa "zebra cross" untuk berlengak-lenggok sembari memamerkan outfit mereka, adalah politikus cerdik -sebut saja demikian- yang memanfaatkan "ruang" maupun "waktu" (meminjam istilah Heidegger "Sein und Zeit") untuk kepentingan politik mereka sebagai pemanasan menuju Pilpres 2024. Alih-alih memasang baliho raksasa yang sudah jelas tersesat dalam ruang maupun waktu, mereka lebih memanfaatkan CFS ini.

Masih akan banyak lagi selebritis maupun manusia posmo lainnya yang bakal memanfaatkan CFS untuk kepentingan mereka sendiri. Termasuk kehadiran polisi seleb Brigjen Krishna Murti, yang seolah-olah memberi pesan dan isyarat kepada korps-nya, "jangan main usir dan asal bubarkan anak-anak SCBD ini!"

Benar, memang ada yang lebih penting dari sekadar membubarkan kerumunan anak-anak SCBD di Dukuh Atas, yaitu menuntaskan kasus "baku-tembak" yang mengakibatkan melayangnya nyawa Brigadir J agar marwah Polri sebagai institusi negara tetap terjaga.

***