Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjari Sekolah

Biarkan pembelajaran yang terstruktur menjadi tugas sekolah formal. Di sini yang rilek saja.

Minggu, 30 Januari 2022 | 12:16 WIB
0
114
Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjari Sekolah
Belajar mandiri (Foto: dok. Pribadi)

Mungkin kata-kata hikmah yang menjadi judul tulisan ini jarang terdengar, apalagi dihayati maknanya. Rupanya, kata-kata ini berasal dari Ki Hajar Dewantoro, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama semasa awal kemerdekaan. Saya sangat setuju.

Di masa pendemi Covid-19, ucapan Ki Hajar Dewantoro bisa jadi semakin relevan direnungkan dan perlu dicoba dipraktikkan.

Ketika saat ini para siswa dibatasi berinteraksi dengan para guru formal di sekolah, ini tak berarti para siswa harus berhenti belajar. Semua orang dapat saling berbagi ilmu. Semua siswa dapat menimba pengetahuan dan ketrampilan dari sumber sumber yang bertebaran di lingkungan masing masing. Mereka bisa berkumpul dalam jumlah terbatas, dalam kondisi yang dipastikan lebih aman. 

Interaksi edukatif yang dinamis harus ditumbuhkan dengan melibatkan semua orang. Tanpa itu, gerak pendidikan akan mengalami kemunduran. Ancaman "hilangnya generasi unggul" benar benar dapat terjadi karena "stock of knowledge and values" yang harusnya digulirkan kepada generasi penerus, tersendat dan bahkan terhenti. Indonesia ke depan bisa mengalami kemunduran luar biasa karena kemampuan berpikir generasi mudanya ambrol. Ada keterputusan yang dapat berdampak panjang.

Saya menjadi semakin yakin bahwa alternatif pendidikan dalam kondisi sulit saat ini harus dibangun. Sebagaimana Ki Hajar Dewantoro katakan, "semua orang (dapat ikut berperan) menjadi guru, dan semua rumah atau tempat (dapat difungsikan) menjadi sekolah".

Lebih jauh, setiap kampung harus ditumbuhkan menjadi sentra sentra interaksi edukatif dan pemberdayaan untuk mengembangkan ilmu, mengasah ketrampilan dan membangun nilai-nilai luhur.

Pembangunan karakter seperti kejujuran, tanggung-jawab, keadilan, dan keberanian dapat menjadi agenda pembelajaran utama. Kuncinya terletak pada kata "gerakan untuk membangun proses pendidikan komunitas yang dilakukan secara bersama."

Bagaimana gerakan itu dapat tumbuh? Apa yang terlihat hanyalah salah satu gambaran saja bagaimana gerakan itu dapat dimulai. Proses pembelajaran yang kita bangun tak harus dilakukan dalam setting formal. Tak harus memakai petunjuk pelaksanaan (cuklak) dan petunjuk teknis (cuknis) yang ruwet dan kaku. Pesertanya juga tak harus berpakaian seragam dengan tata-tertib baku.

Proses pembelajaran ini juga tak harus dilakukan dengan menghadirkan guru formal bersertifikat mengajar. Pembelajaran cukup dilajukan dengan menghadirkan mentor, pendamping, atau edukator yang memiliki kelebihan substantif. Proses belajar juga tak harus secara ketat mengikuti kurikulum yang telah digariskan. Mengalir saja secara alamiah. 

Biarkan pembelajaran yang terstruktur menjadi tugas sekolah formal. Di sini yang rilek saja.

Kalau lelah, ya berhenti, dan digantikan dengan bercanda. Kalau masih semangat, bisa dilanjutkan sesukanya, tak harus dibatasi jam kelas atau jam ajar atau jam pelajaran (jampel). Waktu belajar bisa pagi, siang, sore atau bahkan malam hari. Mana saja waktu yang disepakati. Ini bisa dimungkinkan karena tempat berkumpul untuk berinteraksi memang dekat dari rumah.

Kapan gerakan ini bisa ditumbuhkan? Ini dapat terjadi tergantung pada kita semua. Para penggerak di tingkat lokal perlu berhimpun. Para "champions" yang perduli harus berkumpul dan berembug.

Agar gerakan ini tumbuh, syukur-syukur ada dukungan dari pemerintah sebagai pihak pengelola anggaran negara. Namun bila tidak, ya saweran saja sesama warga. Toh ini untuk anak anak kita juga.

Let's do it!

#iPras2022