Menyingkir dari Lingkungan "Toxic" di Mana Kamu Tersakiti

Jalan dan tegakkan kepala. Sadari bahwa yang menemani kita dari lahir sampai mati itu bukan orang tua, anak, pasangan, teman, dst. Melainkan diri sendiri.

Jumat, 26 Februari 2021 | 06:37 WIB
0
94
Menyingkir dari Lingkungan "Toxic" di Mana Kamu Tersakiti
Pergi (Foto: Metrum.co.id)

Salah seorang teman Facebook mengungkapkan kebimbangan: harus pergi atau bertahan?
Saranku: menyingkirlah dari lingkungan toxic di mana kamu tersakiti, direndahkan, tidak diapresiasi, dan diperlakukan dengan beragam sikap yang menghabiskan stok kesabaranmu tiap hari.

Kenapa?

Datang ke psikolog 1.000 kalipun sia-sia, kalau seusai keluar dari ruang terapi, kamu menghadapi racun-racun yang sama lagi.

Ibarat kamu sakit pilek, kepala pusing, kemudian minum obat, tapi kamu masih hujan-hujanan tiap hari.

Buat apa?

Kalau kamu masih tergantung secara finansial, cari duit yang banyak. Berdirilah di atas kaki sendiri. Selama kamu hidup di bawah atap mereka dan makan dari keringat mereka, secara teknis ya mereka yang punya 'kuasa'. Realistislah. 

Kalau tergantung secara emosional, belajarlah untuk tidak tergantung lagi. Ada 7 miliar manusia di bumi ini. Kenapa harus mempertahankan relasi dengan orang yang toxic? Sakit lho berelasi dengan orang yang salah.

Keluarga bukan mereka yang kebetulan punya DNA sama, keluarga adalah SIAPAPUN yang mencintai kita.

Apa artinya ikatan darah, kalau realitanya kamu tersiksa? 

Satu lagi.

Kita tidak bisa berharap orang lain akan berubah, sekalipun itu orang tua atau anak sendiri, misalnya.

Bagaimanapun, mereka tetaplah orang lain. Ada di luar kendali kita.

Daripada menyuruh orang lain berubah, lebih mudah mengubah keadaan diri kita sendiri yang menghalangi kita untuk bisa pergi.

Misalnya; ketergantungan, ketakutan akan penilaian orang, cemas terhadap stigma lingkungan, dst.

Iya, orang lain akan menghakimimu.

Tapi, sia-sia berusaha menyuruh orang memahami 'neraka' yang tidak sekalipun mereka lewati sendiri.

Singkirkan ekspektasi.

Jalan dan tegakkan kepala. Sadari bahwa yang menemani kita dari lahir sampai mati itu bukan orang tua, anak, pasangan, teman, dst. Melainkan diri sendiri.

Be happy.

Be truly happy.

Asa Firda Inayah

***