Lessons, Creation, Love, Connection, Gratitude, and Money

Setiap orang memang akan menemukan kumpulan huruf acak yang sama. Namun akan menemukan kata yang berbeda. Karena memang nasib manusia itu berbeda-beda.

Kamis, 19 November 2020 | 12:43 WIB
0
56
Lessons, Creation, Love, Connection, Gratitude, and Money
Cinta dan memberi (Foto: greatmind.id)

Suatu hari saya pulang dari rapat guru-guru PAUD di UPTD. Dalam perjalanan pulang, mendadak turun hujan deras banget. Saya memutuskan berteduh, dan meminggirkan motor saya pada sebuah bekas warung. Rupanya ada seorang bapak juga yang berteduh di situ.

Belum berapa lama, saya melihat seorang ibu penjual pecal keliling berlari kecil mencari tempat berteduh, dan sepertinya menuju ke arah saya. Kebetulan, lagi hujan begini, enak nih makan bala-bala dikuah sambel kacang. Saya berhayal dalam hati, serasa tidak sabar menunggu kedatangan si Ibu.

Melihat cara si Ibu berlari, saya sedikit khawatir dengan sarungnya yang menjuntai. Baru saja saya mau teriak memperingatkan si Ibu agar hati-hati, eeehhh udah keburu nyungsep ibu penjual pecal tersebut.

Semua bahan pecal yang disanggu di kepalanya pakai tampah, langsung jatuh berantakan. Saya dan bapak yang sedang berteduh tadi, spontan berlari membantunya. Serta menuntunnya menuju tempat berteduh. Sementara nasib dagangannya sudah tidak karu-karuan lagi.

Saya memperhatikan raut wajah ibu tersebut, antara meringis karena ada luka di lututnya, juga menyimpan kesedihan karena mungkin memikirkan dagangannya tadi. Entah kenapa, saya bisa merasakan kesedihannya itu. Karena saya membayangkan modal yang sudah dikeluarkannya, juga tenaga dan waktu ia pakai untuk mengerjakan itu semua.

Belum lagi harapannya yang mungkin kandas agar mendapat sedikit keuntungan untuk menyambung hidup buat keesokan harinya. Saat saya ajak ngobrol, menurut pengakuan si Ibu, dia baru saja keluar rumah dan mendadak hujan.

Sesaat saya diam, dan merenung. Lalu saya ingat, tadi di dinas UPTD saya mendapat insentive yang belum saya buka amplopnya, dan tidak tau isinya ada berapa. Timbul dalam pikiran saya, si Ibu mungkin muncul di hadapan saya, karena ada rezekinya dalam amplop ini.

Kemudian saya cek isi amplop itu, ada uang dua ratus lima puluh ribu rupiah. Lalu saya bertanya pada si Ibu, habis berapa modalnya semua untuk dagangannya itu. Rupanya semua terpakai seratus dua puluh lima ribu rupiah. Oohh...itu artinya setengah dari uang ini adalah rezeki ibu itu, begitulah saya menyimpulkannya.

Saya pun membaginya, si Ibu sempat bingung. Tapi saya bilang pada si Ibu anggap saja lagi dapat lotere, dan memang begitulah takdirnya makanya kami dipertemukan.

Tamat cerita si Ibu pedagang pecal.

Lain hari, saya sedang ada di dalam angkot. Isinya ada tiga orang. Saya, seorang anak gadis, dan seorang bapak separuh baya, duduk di paling pojok. Matanya nanar menatap sebuah kotak kaca berisi kolong-kolong (donat dikasih tepung gula), yang kelihatannya masih banyak. Sementara dari angkot terlihat hujan deras banget.

Saya kemudian mengajak ngobrol bapak tersebut. Menurut pengakuannya, biasanya bapak tersebut berjualan di dekat sekolah madrasah sore. Tapi hari itu madrasahnya libur, dan mendadak hujan. Maka si Bapak tidak bisa berkeliling menjajakan dagangannya. Serta memutuskan untuk pulang.

Tentu saja mendengar itu, jiwa emosional saya tersentuh tanpa dikomando. Apalagi hari itu adalah hari dimana saya menerima gaji, sebagai guru tamu pada sebuah pesantren. Saya berbasa-basi bertanya berapa modal untuk dagangannya. Kata si Bapak seratus ribu. Saya tersenyum dalam hati. Kok ya kebetulan, duit gaji saya seminggu itu ada tujuh ratus ribu.

Saya kasihlah Bapak tersebut seratus ribu, karena memang kebetulan juga ada hal yang harus saya bayar senilai enam ratus ribu. Berarti fix, memang itu rezeki bapak tersebut. Padahal jika dipikirkan ulang, kami tidak kenal sama sekali.

Saya berdalih memborong semua donat bapak tadi. Meskipun tidak sampai harganya seratus ribu, saya bilang aja itu rezeki si Bapak. Begitu turun dari angkot, donat tadi lalu saya bagi pada sekumpulan anak muda yang lagi berteduh di tempat biasa saya parkirkan motor, mereka juga nongkrong sembari nunggu hujan reda.

Entah kenapa, saya memang seperti punya kecendrungan untuk selalu bertemu orang-orang semacam itu. Tapi sesudah melihat pada huruf acak di bawah ini, saya baru sadar mungkin ada benarnya juga perjalanan hidup saya digariskan begitu.

Baca Juga: Mencari Cinta Online Selama Lockdown

Saya menemukan kata pertama adalah Lessons, selanjutnya Creation, Love, connection, Gratitude, dan money.

Ternyata apa yang saya temukan sangat sesuai dengan apa yang sedang saya jalani dalam hidup ini. Saya menyimpulkannya menjadi serangkaian kalimat yang menggambarkan hidup saya, yaitu: "Saya harus mengambil pelajaran dari setiap hal yang saya alami, kemudian mengkreasikannya dalam bentuk cinta, agar hubungan saya bisa lebih baik lagi, dan mensyukuri semuanya, sehingga rezeki saya akan berlimpah, meskipun bukan dalam bentuk materi."

Dari hal ini juga saya melihat hal yang sesuai, karena ternyata dalam hidup saya uang itu berada pada urutan yang ke-6. Meskipun sebenarnya uang itu salah satu kunci untuk menjalani hidup. Tapi saya ditakdirkan bukan sebagai PENGUMPUL UANG, tapi sebagai tempat MAMPIR UANG.

Kalau kita analogikan, hidup ini seperti kumpulan huruf-huruf yang disusun secara acak, dan pikiran bawah sadar kita yang akan menuntun masing-masing untuk menemukan kata pertama kedua, dst dari kumpulan huruf acak tersebut

Setiap orang memang akan menemukan kumpulan huruf acak yang sama. Namun akan menemukan kata yang berbeda. Karena memang nasib manusia itu berbeda-beda.

Keterangan: Gambar kumpulan huruf di atas diangkut dari laman Ayah Edy Parenting.

***