Tempo 50 tahun [1] Salah Gaji

Kejahilan saya saat itu lebih dominan. Iseng-iseng berhadiah lah, saya membatin. Saya tuliskan angka seperti yang saya ajukan semula.

Senin, 8 Maret 2021 | 12:16 WIB
0
150
Tempo 50 tahun [1]  Salah Gaji
Majalah Tempo edisi pertama (Foto: Blogger.com)

Pertengahan Maret 2001, telepon genggam saya berdering. Sambil memicing-micingkan mata, saya meraba-raba di mana gerangan telepon itu tergeletak. “Hallo saya Malela,” suara lelaki di seberang memperkenalkan diri.

“Malela siapa,” saya menjawab ketus. Ogah-ogahan. Selain pagi itu masih ngantuk berat, saya tidak merasa kenal dan baru mendengar nama tersebut.

“Saya Sri Malela, Malela Mahargasarie dari Tempo,” jawabnya memperkenalkan diri.

“Oh ya, ada apa?” saya menukas. Masih cuek.

“Anda serius gak nih melamar ke Koran Tempo?” ujarnya. Deg.

Saya tersadar. Sepekan sebelumnya, atas bujuk rayu Fajar Wh , saya mengikuti jejaknya melamar ke Tempo. Dua hari sebelum itu, Hanibal Wijayanta mengkonfirmasi apakah saya berminat menjadi anggota timnya di Desk Polkam Koran Tempo. Kedua teman ini sebelumnya berkiprah di Forum Keadilan. Majalah hukum dan politik paling bergengsi pimpinan Karni Ilyas.

“Iya, mas, serius, serius. Saya serius, mas,” saya menjawab tergagap. Tapi Malela sepertinya tak terlalu hirau dengan kegugupan saya. Masih dengan santai dia bertanya seputar rekam jejak saya sebagai wartawan. Dari sederet pertanyaan, satu yang paling melekat di benak. Dia meminta agar saya menurunkan gaji yang diajukan.
Alasannya, Koran Tempo yang akan segera terbit dibiayai investor lokal. Bahkan segenap wartawan di dalamnya bisa ikut menjadi pemegang saham. Beda dengan Astaga.com tempat saya masih bernaung saat itu.

“Oke mas. Saya kurangi satu (juta) deh,” saya mengalah. “Oke, deal ya. Besok Anda temui saya di Kebayoran Center.”

Senin, sekitar jam 10 saya tiba di deretan ruko di Kebayoran Center. Bangunannya jauh dari megah. Juga sangat tidak artistik. Lantai tak berkarpet. Juga tak ada wallpaper. Apalagi lift! Jauh beda dengan Gedung Arcadia, kantor Astaga. Tapi, sudahlah!

Menjelang jam makan siang, saya diizinkan masuk ke ruang redaksi di lantai 3. Beberapa orang terlihat asyik di depan komputer masing-masing. Ada Thantowi Thonthowi Djauhari, Budi Setyarso dan Elik Susanto dari Republika.

Di kantor baru ini, mereka menjadi redaktur. Tak lama Hanibal menghampiri. Dia mengabarkan bahwa Malela tak di tempat. Entah di mana. Saya disarankan untuk langsung ke bagian HRD di Gedung Jaya, Jalan Thamrin.

Di sana saya bertemu dengan seorang pria yang bicara dalam logat Aceh. Wajahnya bulat, rambut tipis tapi berkumis dan berjenggot. Nurlis E Nurlis E. Meuko, dia memperkenalkan diri dengan hangat. Sebelumnya di Forum Keadilan. Seorang staf HRD menghampiri dan menyodorkan beberapa lembar formulir yang harus diisi.

Pas di kolom gaji yang diinginkan, saya gamang. Apakah mengisikan angka seperti yang diinginkan atau angka yang sudah disepakati bersama Malela. Belakangan saya tahu Malela bersama Ivan Haris P Kurnia adalah Redaktur Eksekutif di Koran Tempo.

Kejahilan saya saat itu lebih dominan. Iseng-iseng berhadiah lah, saya membatin. Saya tuliskan angka seperti yang saya ajukan semula. Wajar to, ada peningkatan gaji dari perusahaan sebelumnya. Kalau tidak disetujui, ya akan saya kembalikan seperti yang telah disepakat dengan Malela.

Setelah tandatangan, saya serahkan ke Mba Retno (Manajer HRD?). Selesai. Tak ada koreksi.

Hingga berbulan kemudian, sepulang liputan dari DPR, saya berpapasan dengan Malela. Dia bersama Ivan Haris Prikurnia adalah Redaktur Eksekutif, jabatan tertinggi setelah Pemimpin Redaksi. Di Majalah Tempo, dia adalah Kepala Desain. “Jat, sialan kamu…,” ujar Malela dengan ekspresi lucu. Dia mengaku baru kena tegur BHM (Bambang Harymurti), karena gaji sebagai reporter nyaris sama dengan beberapa redaktur.

“Ya sudahlah, itu rezeki Anda. Saya yang teledor gak periksa lagi,” ujar Malela. Kami bersalaman. Saya tertawa bungah. Cuma sekelebat. Karena sebelum benar-benar melangkah, Malela nyeletuk. “Tapi awas, Anda juga jangan teledor kayak kasus mesin cuci kemarin.” Meski ada senyum di bibirnya, saya tahu dia melontarkannya serius. Rasanya tajam tak bertepi.

***