Meliana, Perempuan Berparas Bersih Itu

Senin, 10 September 2018 | 06:24 WIB
0
645
Meliana, Perempuan Berparas Bersih Itu

Sesaat sebelum menemuinya di Lapas Anak dan Perempuan Tanjung Gusta, sopir mobil on-line yang kami tumpangi dan kebetulan seorang etnis Tionghoa (di Medan dituliskan di bangunan kuno Mansion Tjong Afie, sebagai Tiong Hua). Kami tanya seberapa tahu (padahal tahu belum lagi paham kan) ia tentang kasus Meliana. Ia bercerita blablabla.

Tapi seberapa ia mengenal sosok Meliana? Lalu justru ia berbalik bertanya? Siapa sih sebenarnya dirinya? Pengusaha besar, orang partai, atau tokoh agama tertentu. Menunjukkan betapa minimnya pengetahuan publik tentang siapa sesungguhnya Meliana. Sehingga ia sedemikian mudah dipersalahkan, bukan saja oleh mereka yang dengan serta merta tanpa reserve langsung percaya bahwa ia adalah penista agama.

Kelompok yang hanya menggunakan croc-brain (bagian otak paling mudah diteror dan seketika) mereka, otak paling rendah sedemikian rupa sehingga ia disebut otak buaya. Binatang paling purba yang konon masih hidup bertahan sampai hari ini. Ia tentu saja mengalami evolusi, tetapi hanya dari ukuran. Semakin mengecil tapi paling mudah bereaksi. Sisi otak yang di era sosial media ini, paling mudah diserang oleh berita hoaks, rumor, dan fitnah.

Dalam teks Meliana, bahkan tak sedikit dari kalangan Tiong Hua, ikut mempersalahkannya, sebagai "orang kurang kerjaan, yang bikin gaduh dan bikin repot". Ibaratnya Meliana sudah jatuh tertimpa tangga, lalu publik membiarkannya dihakimi dan berakhir di balik jeruji besi.

Lalu siapa sebenarnya Meliana itu?

Ia adalah perempuan etnis Tiong Hua, asli kelahiran Tanjung Balai 44 tahun yang lalu. Artinya ia bukanlah seorang pendatang, nenek moyangnya telah turun temurun lahir dan dibesarkan di kota yang konon memiliki jarak paling dekat yang menghubungkan wilayah Indonesia dan Malaysia. Ia hanya tamatan SMP, dan seperti umumnya perempuan pelosok, ia menikah pada usia yang sangat belia.

Suaminya Lian Tui, seorang yang juga sangat biasa, juga berasal dari daerah yang sama. Mereka bertemu saat, Meliana bekerja di sebuah toko alat-alat kecantikan. Dapat dipahami bahwa Meliana adalah seorang wanita yang sangat bisa merawat anugerah kecantikannya.

Kedua pasangan ini, adalah penganut agama Budha, tetapi di antara saudara-saudara sekandung mereka telah banyak yang mengalami akulturasi: sebagian besar telah beralih kepercayaan menjadi Muslim, sebagian lain jadi Kristen karena kawin mawin dengan orang-orang yang bukan etnis mereka. Sesuatu hal yang sangat biasa terjadi di kota pelabuhan ini, hal yang lumrah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu.

Sesederhana memahami mereka adalah manusia biasa, dan agama adalah pelengkap dan penyempurna hidup mereka. Dari perkawinannya, mereka beranak empat: saat peristiwa itu terjadi, dua orang masih tinggal dengan pasangan ini, Dua orang yang terbesar telah melanjutkan sekolah dan bekerja di kota Medan.

Lalu apa pekerjaan mereka?

Terakhir Meliana adalah orang yang bekerja pada seorang juragan ikan asin. Apa yang ia sebut sebagai Kedai Ikan. Sedemikian bisa dipercaya dirinya, hingga sejak delapan tahun lalu dipercaya dan dipinjami oleh sang boss, untuk menempati rumah yang "belakangan" ini dibakar oleh massa itu. Artinya ia tidak punya rumah hingga saat ini, ia hanya menempati rumah orang lain. Artinya pula sangat tidak wajar, bila di pengadilan direkonstruksi sedemikian rupa, sebagai bisa bersikap kasar, marah-marah, atau membentak-bentak.

Secara naluriah, tentu ia tahu diri, siapa dia? Cuma orang yang menumpang hidup dan tidur di rumah yang sesungguhnya juga sangat biasa, hingga menguatkan tesis mana mungkin ia bersikap berlebihan. Jangan lupa, hingga peristiwa ini terjadi hubungan antara Meliana, dan warga setempat, bahkan dengan Masjid Al Maksum juga sangat erat. Halaman depan rumah Meliana kerap digunakan untuk aktivitas pengajian anak-anak.

Lalu apa pekerjaan suami Meliana?

Pak Lian Tui adalah seorang dengan pekerjaan dengan (maaf) kasta paling rendah saya pikir. Ia dengan fisiknya yang tidak kekar, berperawakan kurus, dan berpembawaan sangat halus tidaklah memberi banyak pilihan terhadapnya. Pekerjaan terakhirnya adalah penjaga rumah sarang burung walet yang dimiliki seseorang. Sejenis bisnis yang sangat umum, di kota yang terletak tak jauh dari pantai. Ia tentu saja secara berkala, bertugas memanen "air liur burung walet", sebuah pekerjaan yang tidak membutuhkan kerja berat.

Artinya keluarga ini "nothing", bukan siapa-siapa. Bukan orang besar, apalagi bila perbandingannya adalah Ahok. Ia tidak punya daya amplifikasi besar untuk menjadi "kehebohan politik".

Sejak peristiwa rasan-rasan dan keluh kesah pada 22 Juli 2016 di warung Bu Uo, yang memicu peristiwa penggerudukan dan berakhir pada kerusuhan massa pada 29 Juli 2016. Keluarga ini tak bisa lagi pulang ke-"rumah"-nya, hancur mata pencahariannya untuk menafkahi hidup mereka, dan yang paling buruk tercerabut dari tanah kelahiran mereka.

Sebuah harga yang sangat mahal yang harus dibayar untuk sebuah keluarga yang sangat biasa saja ini. Ia harus menanggung peristiwa awal yang terjadi di kotanya, saat sekelompok massa memprotes untuk diturunkannya patung di sebuah vihara. Namun ketika hal itu dituruti, mereka memang butuh sebuah peristiwa lanjutan untuk menunjukkan ke-hegemoni-an mereka. Dan terus, terus berlanjut sampai sidang Meliana, yang akhirnya harus dipindahkan ke Medan, kota yang harus ditempuh 4 jam perjalanan dari situs sesungguhnya peristiwa terjadi.

Massa marah dan beringas yang mengikuti kemana saja keluarga ini pergi. Suatu hal yang menjelaskan, kenapa Meliana selalu menggunakan masker dalam persidangan menutupi paras wajah. Apa yang dilakukan juga oleh suami dan anak-anaknya saat menemani dalam persidangan. Mereka tak ingin dikenali oleh publik. Menunjukkan suatu ketakutan yang memang bukan lagi isapan jempol, apalagi kata-kata kiasan.

Mereka memang sungguh-sungguh mengalami ketakutan yang akut, suatu trauma yang tentu butuh waktu panjang untuk menyembuhkannya. Butuh kepedulian orang-orang di luar sana, di luar entitas, habitat, dan komunitas yang tidak lagi setempat!

Kemarin siang, saya sempatkan mampir ke Mansion Tjong Afie, seorang mayor Tionghoa yang memiliki selera hidup sungguh dahsyat. Rumahnya bukan saja sebuah chinesche heritage terbaik yang ada di kota Medan, tetapi melampaui itu Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Di salah satu ruang ball room, terpampang foto salah satu anaknya bernama Tjong Fock Yin, seorang yang dianggap sangat berjasa untuk menjaga keaslian rumah ini, tetap tegak berdiri melawan gilasan waktu yang kadang sangat kejam atas nama modernisasi.

Hingga hari ini menjadi situs yang wajib kunjung di kota Medan. Rumah yang menunjukkan akar sejarah budaya orang Tiong Hua yang memang sudah nyaris ribuan tahun mewarnai sejarah Nusantara kita. Apa yang hari-hari ini ada sebagian kalangan berusaha menisbikan dan menihilkannya.

Di foto Tjong Fock Yin, saya melihat raut serupa yang mirip sekali wajah Meliana hari ini. Sebuah wajah yang bersih, jauh dari kesan suka bikin ulah apalagi cari masalah. Wajah yang bersuara lirih, nyaris hanya bisa berbisik sebagaimana saya saksikan sendiri saat menemuinya di LP Tanjung Gusta. Wanita yang hanya selalu gelisah (kadang terisak), bukan karena saja karena ia merasa tidak bersalah, tetapi terutama harus terpisah dari anak dan suaminya.

Berkumpul dengan keluarga sebagai hal terpenting dalam hidupnya. Tapi saat ini, untuk maksimal 18 bulan ke depan: ia adalah seorang yang harus menanggung salah, atas apa yang saya anggap selera buruk mayoritas yang sekarang sedang trend, menggejala dan menggurita. Dan itu bernama: tekanan massa.

Sesuatu yang semestinya mengusik rasa peduli dan empati, bagi siapa saja yang masih memiliki hati yang lurus (tentu juga harusnya bersih), mereka yang berkarakter elang yang berani terbang sendirian (dan bukan burung pipit yang hanya suka bergerombol dan berisik), dan tentu saja berjiwa malaikat (walau tentu seperempat juga boleh). Dan saya hanya bisa bilang, mari kita.....

***

Tanjung Balai, 9 September 2018