Nasib "Bumi Manusia" di Tangan Sutradara "Ayat-ayat Cinta"

Senin, 28 Mei 2018 | 23:36 WIB
0
87
Nasib "Bumi Manusia" di Tangan Sutradara "Ayat-ayat Cinta"

 

Kebanyakan pencinta karya-karya (sastra) Pramoedya Ananta Toer tidak terlalu suka buku "Bumi Manusia" yang akan diangkat sebagai karya film ditangani Sutradara Hanung Bramantyo. Kita juga tidak tahu mengapa dia yang terpilih jadi sutradara film yang berdasarkan novel mahakarya Pram itu. Padahal pada tahun 2004 sudah ada perusahaan film, dengan mendapatkan persetujuan Pram dan keluarga, yang akan mengangkat "Bumi Manusia" ke layar lebar di bawah arahan Sutradara Garin Nugroho dan Penulis Skenario Jujur Prananto.

Bagi pencinta fanatik Pram, sebagian besar aktivis yang ikut menumbangkan rezim Orde Baru, buku "Bumi Manusia" adalah semacam "kitab suci yang faktual", bukan kitab fiksi. Dari "Bumi Manusia" para pengagum Pram belajar tentang akidah kebenaran melawan kejahatan dan penindasan yang dilakukan Rezim Orde Baru yang mengandalkan kekuatan militer sebagai alat pemukul yang mematikan kebebasan rakyat.

"Bumi Manusia" adalah sumber api semangat perlawanan menghadapi kesewenang-wenangan pemerintahan (yang bersifat) kolonial seperti yang dipraktekkan orde baru. Buku ini pun menjadi sumber inspirasi mahasiswa dan kaum muda pada tahun 1980-an untuk memberontak.

Karena dianggap berbahaya "Bumi Manusia" dituduh pemerintah Orde Baru sebagai buku yang mengajarkan komunisme, marxisme, dan leninisme -padahal isinya justru mengajarkan nasionalisme- sehingga dilarang pada tahun 1981, setelah setahun beredar.

Pram pun, yang menulis buku "Bumi Manusia" saat ia menjalani hukuman di Pulau Buru karena dituduh komunis, dikucilkan dari kehidupan dan terpenjara di rumahnya.

Bagi fansmania Pram buku "Bumi Manusia" adalah karya filsafat yang berat. "Bumi Manusia" adalah karya ilmiah berdasarkan riset Pram mengenai kolonialisme penjajah Belanda dari tahun 1800-an hingga zaman Orde Baru yang dianggap menerapkan kolonialisme gaya baru yang sempat ia alami sendiri. Terlebih lagi Pram bekerja keras hampir sepuluh tahun menyusun dan menulis buku "Bumi Manusia" ini.

"Bumi Manusia" mahakarya sastra klasik tentang bangkitnya nasionalisme sebuah bangsa yang harus dijaga kesuciannya. "Bumi Manusia" bukan cerita roman seperti halnya "Ayat-ayat Cinta" yang mengangkat tema percintaan dua anak manusia yang sesuai syariat agama karya Habiburrahman El Shirazy.

Ada perbedaan jauh antara "Bumi Manusia" dan "Ayat-ayat Cinta". Pada "Bumi Manusia" terkandung ideologi nasionalisme untuk membangun peradaban sebuah bangsa untuk membebaskan diri dari cengkeraman penjajah. Sedangkan pada "Ayat-ayat Cinta" cuma masalah bagaimana membangun sebuah rumah tangga yang "samawa" (sakinah, mawadah, warahmah) berdasarkan syariat agama supaya terhindar dari dosa dan kelak masuk surga.

Maka, ketika Hanung merendahkan buku "Bumi Manusia" dibanding "Ayat-ayat Cinta" di situlah pangkal persoalannya. Banyak penggemar Pram yang langsung meradang. Mereka tak bisa menerima "Bumi Manusia" dinistakan begitu saja.

[irp posts="16247" name="Baru Mau Dilayarlebarkan, Pemeran Minke Sudah Menuai Pro-Kontra"]

Jika pernyataan Hanung yang merendahkan "Bumi Manusia" merupakan strategi pemasaran yang dengan sengaja menciptakan kontroversi sungguh patut disayangkan. Karena cara ini merupakan teknik pemasaran produk yang sangat murah.

Jika pernyataan Hanung yang mengecilkan "Bumi Manusia" memang atas dasar kemampuan literasinya maka kita akan tahu bagaimana nasib film ini nanti jadinya seperti apa: sebuah film roman picisan yang menjual Dilan sebagai Minke dan berharap sukses ditonton tujuh orang cuma karena Minke adalah Dilan.

***