Martin Heidegger, “Ada” dan Utopia

Rabu, 4 April 2018 | 09:59 WIB
0
58
Martin Heidegger, “Ada” dan Utopia

Ilmu pengetahuan modern lahir dari rahim filsafat. Filsafat sendiri dapat dilihat sebagai upaya manusia untuk memahami segala yang ada secara kritis, rasional dan sistematik. Buah dari filsafat adalah pengetahuan tentang kehidupan. Walaupun begitu, menurut Martin Heidegger, filsafat haruslah bergerak lebih dalam dengan mempertanyakan dasar dari keberadaan segala sesuatu itu sendiri, atau yang disebutnya sebagai “Ada” (Sein).

Filsafat berkembang melalui pertanyaan tentang alam. Inilah yang disebut sebagai kosmosentrisme. Alam menjadi obyek utama berbagai diskusi dan refleksi filosofis. Inilah akar dari ilmu fisika modern, sebagaimana dipahami sekarang ini. Walaupun begitu, alam adalah bagian dari Ada, dan bukan merupakan Ada itu sendiri.

Filsafat pun mengalihkan pertanyaan ke arah Tuhan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Teosentrisme. Tuhan menjadi obyek kajian dan renungan filosofis. Walaupun begitu, ketika Tuhan disempitkan menjadi semata konsep, maka ia pun bukan merupakan Ada yang merupakan dasar dari keberadaan itu sendiri.

Masa berikutnya ditandai dengan pergulatan tentang manusia. Filsafat pun memasuki masa antroposentrisme. Manusia menjadi titik tolak dari renungan dan kajian filosofis. Namun, manusia pun merupakan bagian dari Ada, dan bukan Ada itu sendiri.

Heidegger menyebut filsafat yang gagal memahami Ada ini sebagai Seinsvergessenheit, atau kelupaan akan Ada. Filsafat mencoba mendekati dasar dari kenyataan, namun gagal, karena terjebak hanya pada unsur-unsur dari kenyataan itu sendiri. Filsafat sibuk pada permukaan, dan lupa pada inti. Maka dari itu, Heidegger mencoba mengarahkan kembali filsafat pada apa yang sungguh penting, yakni Ada sebagai dasar dari keberadaan itu sendiri.

[irp posts="13349" name="Ketika Manusia Sudah Tak Peduli dengan Kepeduliannya Sendiri"]

Walaupun begitu, sejauh saya amati, Heidegger pun jatuh pada salah kaprah baru. Ia menyamakan Ada sebagai dasar dari keberadaaan yang bisa didekati melalui manusia, bahasa dan pikiran. Ada pun lalu kembali menjadi konsep dan bahasa. Ini berarti Ada kembali disempitkan pada sesuatu yang bukan-Ada.

Pendek kata, Heidegger jatuh pada apa yang menjadi kritiknya sendiri terhadap filsafat. Ini memang penyakit yang lumrah ditemukan di kalangan filsuf. Contoh paling klasik adalah kritik Immanuel Kant terhadap metafisika tradisional yang justru melahirkan metafisika baru. Walaupun begitu, perkembangan dan perubahan di dalam filsafat justru terjadi, karena hal ini.

Lalu bagaimana dengan Ada itu sendiri? Ada itu, menurut saya, adalah utopia. Dalam arti ini, utopia berarti “tanpa tempat”. Ia tidak ada dalam bahasa ataupun pikiran, karena ia justru menjadi dasar dari bahasa ataupun pikiran itu sendiri.

Ada itu haruslah dicerap dalam keseluruhannya. Ia merupakan pengalaman langsung serentak dengan dunia sebagai keseluruhan. Ketika dikurung dalam konsep dan bahasa, ia kehilangan dirinya sendiri. Dengan kata lain, Ada harus dibiarkan “ada”.

***

Editor: Pepih Nugraha