Kesadaran Yang Sangat Rendah dari Penonton Indonesia

Selasa, 16 Januari 2018 | 14:15 WIB
0
422
Kesadaran Yang Sangat Rendah dari Penonton Indonesia

Tingkat kesadaran atau disiplin masyarakat dalam menjaga fasilitas umum di negeri ini masih rendah, kalau tidak mau dikatakan sangat rendah. Tidak ada rasa memiliki atau menjaga dan merawat fasilitas umum yang dibangun oleh pemerintah daerah dan pusat.

Hari Minggu sore, 14 Januari 2018, Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla dan jajaran menteri, Kapolri, Panglima TNI, ikut meresmikan Stadion Gelora Bung Karno.

Stadion yang direnovasi memakan waktu kurang lebih tujuh bulan dan untuk Asian Games 2018 itu sekarang megah dan mewah, bertaraf internasional dengan dominan warna merah-putih. Stadion ini terlihat elegan.

Semua fasilitas lengkap seperti Stadion-stadion di klub Eropa, dari jenis kursinya, lampu, tempat konpers, jalan evakuasi, semuanya memenuhi standar yang FIFA tetapkan dengan dengan kapasitas tempat duduk 78.000.

Stadion Gelora Bung Karno menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia apalagi yang menyukai sepak bola. Bahkan pelatih Asing Islandia juga memuji kemegahan Stadion Gelora Bung Karno. "Kalau semua Stadion di Islandia digabung-pun masih kalah megah dengan stadion ini," demikian pengakuan sang pelatih.

Selain meresmikan Stadion Gelora Bung Karno, Presiden Joko Widodo juga ikut menyaksikan pertandingan persahabatan antara Indonesia dan Islandia dengan kemenangan untuk Islandia 4-1.

Yang menjadi perhatian adalah sikap atau perilaku penonton terhadap fasilitas yang baru diresmikan, yaitu ulah beberapa penonton yang tidak disiplin atau menjaga fasilitas itu.

Banyak penonton yang duduk seperti duduk di warung remang-remang saenak udelnya sendiri. Sepertinya masyarakat kita susah untuk diajak disiplin, menjaga dan maju seperti negara tetangga, Singapura.

Penonton-penonton seperti ini perlu diberi sangsi sosial seperti kemarin gambar di perlihatkan dilayar yang besar dan disoraki oleh penonton lainnya. Kalau perlu meniru di klub Eropa di mana penonton yang bikin ulah tidak boleh lagi menonton pertandingan dalam jangka waktu tertentu.

Apa perlu menonton sepak bola pakai batik seperti orang mau kondangan biar rapi dan tidak bikin kekacauan setiap menonton pertandingan.

Marilah mencintai negeri ini baik dan buruk adalah negara tercinta kita semua dan ikut menjaga atau merawat fasilitas-fasilitas yang dibangun oleh pemerintah daerah dan pusat. Tanpa ini semua mustahil sepak bola kita bisa menuju piala dunia yang kita harapkan semua.

***