Sketsa

Otentisitas Jokowi

Presiden RI, Joko Widodo, Sosok, Headline, Ulang Tahun
Ilustrasi Joko Widodo (Foto: Facebook.com)
Satu hal yang paling otentik dari Jokowi, yang orang abaikan dan tak pernah dicatat adalah keberaniannya tampil di depan publik, tanpa kawalan berlebihan.

Apakah itu otentisitas? Menurut pandangan eksistensialisme, otentitas adalah keadaan di mana individu berperilaku sesuai dengan karakteristik dan kepribadian aslinya di tengah tekanan dari lingkungan eksternal. Ia berdamai dengan tekanan yang diterimanya, tetapi ia tetap menjadi dirinya sendiri.

Dan, hal inilah problema pokok bangsa ini di hari ini, “takut jadi dirinya sendiri”. Ia harus selalu merasa perlu tengak-tengok kanan-kiri, untuk sekedar jangan sampai menjadi beda. Dan sialnya kalau yang “berani beda”, biasanya malah jadi norak dan lebay banget. Menjadi “kebanci-bancian” contohnya.

Bila benar ia banci, ia akan otentik menunjukkan karakter batu karang yang kokoh, gigih, dan pantang menyerah. Sedangkan epigon-nya biasanya hanya bersisa pada ke-lebay-an dan ke-galau-annya saja. Dalam konteks inilah, para pengecam LGBT, semestinya bisa membedakan antara banci dan kebanci-bancian, mana yang lebih pantas dikecam.

Intinya otentisitas adalah sesuatu yang generik, orisinal, dan independen. Karenanya, ia justru akan tampak sepele, pasaran, dan mass-product. Ia tidak ganteng, suaranya parau, tidak tampak cerdas, seolah mudah ditiru dan disaingi. Dan dalam pusaran, tampilan psikologis seperti inilah Jokowi dilihat oleh para rival, wabil khusus para haters-nya.

Indonesia mustinya bersyukur, pernah dipimpin oleh orang yang biasa-biasa saja, dari kalangan rakyat kebanyakan, dan punya gaya hidup yang biasa?

Jokowi sesederhana itu? Tidak juga!

Dalam suatu kesempatan jalan-jalan, lihat Bursa Mobil bekas, ada sebuah Mobil Mercedez Benz awal 2000-an warna biru yang oleh penjualnya dipromosikan sebagai “bekas Jokowi”.

Penasaran, saya minta lihat STNK dan BPKB-nya. Betul nama dan alamatnya otentik. Kurang ajarnya, si penjual tahu benar nilai pasar non-intistriknya, ia menjual 3 kali lipat dari harga pasarannya. Menurut para tetangga berjualannya, mobil itu telah 2 bulan tidak laku. Mungkin ia menunggu pembeli yang “keblasuk”, tersesat gelap mata pokoke asal bekas Jokowi (halah!).

Baca Juga:  Jenazah Dibonceng Gunakan Sepeda Motor, Benarkah Potret Kemiskinan?

Ia bukan berarti tidak suka barang mewah, ia hanya berhasil memaknainya secra sederhana. Jokowi adalah figur yang berhasil mentransformasi dirinya dari seorang bakul, pedagang menjadi seorang pemimpin warga; ia berhasil mengubah dirinya dari seorang blantik kayu menjadi seorang industrialis dan eksportir; dan ia yang luar biasa ia menapak secara berjenjang dari seorang walikota, lalu gubernur dan akhirnya Presiden. Artinya ia betul-betul otentik menjalani proses merangkak, berjenjang dari bawah.

Banyak yang meragukan, apa ia pernah mengambil gajinya selama ia menjadi birokrat (sejak dari walikota sampai presiden). Bila ia tetap menjalankan bisnis mebelnya, mungkin sinyalemen itu benar. Minimal ia tak pernah mengeluh atau mempermasalahkan berapa gaji yang ia terima. Bandingkan dengan presiden gendut, berkantung mata tebal itu! Sudah pialang utang kelas kakap, penimbun masalah, masih rajin mengeluh masalah dapurnya!

Satu hal yang paling otentik dari Jokowi, yang mungkin orang abaikan dan tak pernah dicatat adalah keberaniannya tampil di depan publik, tanpa kawalan yang berlebihan. Ia sama sekali sangat anti-protokoler. Tidak sebanding dengan laporan dan peringatan intelejen, dengan berbagai rencana percobaan pembunuhan yang akan dilakukan terhadapnya. Ia menantang badai, dan menganggap ancaman itu tak pernah ada. Dan lebih mulia lagi tak pernah mendramatisasinya.

Setidak peduli sikapnya terhadap berbagai hasil survai politik, yang konon walau tidak pernah benar-benar valid tapi berhasil membuat kaya raya para pemilik dan vendornya itu. Ia menyebalkan, setiap kali berbicara tentang ambisinya tentang panjang jalan tol.

Saya kutipkan salah satu kalimatnya: “Saya tidak peduli bagaiman Menteri PUPR dan jajaran di bawahnya, mau kerja Sabtu Minggu, siang malam yang penting 2019 Merak sampai Banyuwangi harus tersambung”. Dan dijawab oleh si menteri dan anggota kabinetnya lainnya dengan “ngeband” bersama. Lebih satir nama band-nya “Elek Yo Ben”. Maksudnya jelek ya biarin atau bisa juga biar jelek tetap band.

Baca Juga:  Serial Jerami Ngambang: Pecundang

Keakraban yang santai dan mengalir seperti ini, yang hanya bisa tercipta berkat otentisitas Jokowi.

Hal yang dibuktikannya lebih lanjut, dalam Lebaran jokowi (tanpa menunggu jadi Lebaran Kuda) yang sungguh sangat mberkahi rakyatnya: nyaris tak ada keluhan dipalak preman jalanan, karena pembagian THR nyaris merata.

Ini sejenis keadilan yang tidak adil, kemakmuran yang tidak sama makmurnya, atau kesejahteraan semu yang sementara waktu. Intinya sebagaimana dikatakan pakyai saya, Isni Wahyudi, saatnya Lebaran menemukan maknanya yang benar-benar lebar!

Karena itulah, mari kita bersama-sama memaafkan saja para pembencinya, wabil khusus para rival politiknya yang dari hari ke hari makin bersemangat buta dan berapi-api itu. Biarkan saja Mbah Amien yang “ilang tuane” itu berambisi jadi presiden. Dalam kultur Jawa apa yang lebih buruk sebagai orang tua kehilangan kebijakannya.

Kita santai saja saat Prabowo bilang ia ditawaari duit banyak untuk tidak nyapres. Mungkin kita harus membaca secara terbalik, ia sudah kehabisan duit, jadi perlu pasokan amunisi segar.

Tentang “Duo F”, kita tonton kepongahannya yang berseri itu. Jangan lupa, bahkan film sequel pun ada tamatnya, minimal berganti pemeran utama (James Bond contohnya). Selama mereka masih bertingkah, meracau gak karuan, merasa paling hebat sendiri: bacalah sebagai pertanda selama itu juga Jokowi baik-baik saja dan Indonesia bisa lebih baik lagi

Untuk itu mari bersama kita rayakan ulang tahun Jokowi ke 57 pada 21 Juni hari ini. Sedikit berterimakasih padanya, tidak membuat kita menjadi hina. Ikut mulia dan bahagia malah!

#HBDJokowiKerjaPakaiHati

***