Wacana

Pilih Temanmu yang Antiterorisme, Awasi Musuhmu yang Teroris

Ilustrasi teroris (Foto: UGM.ac.id)
Ilustrasi teroris (Foto: UGM.ac.id)
Partai dan tokoh partai yang menggoreng isu pembelaan terhadap terorisme, bukan dengan minyak, tetapi dengan darah rakyat, tidak pantas lagi untuk dipilih.

Puluhan orang mati mengenaskan di Depok, Surabaya dan Sidoarjo. Para simpatisan ISIS menjagal dan meledakkan bom untuk membunuhi orang tidak bersalah. Mereka meyakini, ladang jihad harus diciptakan. Bagi mereka jihad hanya punya satu arti : jerit tangis, darah yang muncrat, kematian, dan perang. Jihad mereka adalah kengerian kita. Jihad mereka adalah duka kita.

Untuk terbentuknya ladang jihad, mereka wajib punya musuh. Al Qaedah menusuhi segala sesuatu dari Barat. Target serangannya segala sesuatu yang bersentuhan dengan AS atau Eropa. Begitupun mengikut Alqaedah Indonesia, selalu mensasar target orang-orang bule.

Lihat saja aksi mereka: bom bali I dan II. Bom Mariot, kedutaan Australia dan sebagainya. Semuanya menyasar warga asing.

Alqaedah dibentuk pasca perang Afganistan. Kini pamor Alqaedah agak surut. Perannya digantikan ISIS yang dibentuk setelah berdesirnya Arab Spring.

ISIS yang jauh lebih gila dibanding Alqaedah. Jika Alqaedah memusuhi kepentingan Barat, ISIS justru memusuhi siapa saja. Doktrinnya semua yang tidak berhukum dengan hukum Allah dianggap sesat dan musuh. Hukum Allah yang dimaksud tentu saja sesuai dengan pemahamannya sendiri. Jadi siapapun Anda, apapun agama Anda, jika tidak masuk dalam kelompoknya dianggap musuh oleh ISIS.

Di Indonesia, JAD yang menjadi otak serangan beruntun kemarin telah menyatakan diri berbaiat dengan ISIS. Jadi melihat pola serangannya, ini adalah jenis penyakit gila agama level 9, yang suka main gorok, menyerang siapa saja, membunuhi siapa saja. Makanya pola serangan berubah. Jika Alqaedah menyasar warga bule dan kepentingan barat, sasaran ISIS lebih beragam. Ada gereja, polisi, atau rakyat biasa.

Bagi ISIS musuh utamanya adalah mereka yang berbeda agama. Kemudian polisi yang dituding sebagai pengawal toghut. Mereka yang seagama tapi tidak mau ikut menentang apa yang mereka tentang juga dianggap musuh. Bagi teroris semua halal darahnya

Jadi jika para barbar itu beraksi kita semua adalah calon korban. Orangtua kita calon korban. Anak-anak dan saudara kita calon korban. Teman-teman kita adalah calon korban. Tetangga dan rekan kantor kita, semua calon korban. Sebab ketika melaksanakan aksinya binatang buas itu tidak memilih sasaran.

Lantas siapa teman mereka?

Baca Juga:  "Loving Vincent" William van Gogh "Made In" Polandia

Pertama adalah orang yang masuk dalam kelompoknya. Ada yang ditugaskan menjadi ‘pengantin’ untuk melaksanakan amaliyah membunuhi orang. Ada yang bertugas koordinasi semua langkah itu. Ada juga yang bertugas di media sosial, menyebarkan informasi palsu dan pembelokkan opini.

Lalu ada lagi kelompok yang jikapun tidak termasuk langsung kelompok teroris, adalah orang-orang yang melakukan pembelaan kepada para teroris. Termasuk yang menggoreng isu kejadian barbar itu, untuk mengaburkan persoalan.

Ada saja cara kerjanya. Membelokkan kejadian ini ini dengan menimpali isu lain seperti soal Palestina, sehingga seolah-olah aksi teroris ini harus dinaklumi karena Palestina juga dijajah Israel. Atau yang lebih pekok, malah menuding aparat keamanan sebagai penyebabnya.

Saya punya banyak bukti screenshot postingan yang dikumpulkan teman-teman kemarin. Intinya mereka seperti bersimpati pada teroris, membelokkan isu menyalahkan pemerintah, malah mengangkat isu Palestina, atau semacam apologia lain yang memuakkan.

Teman teroris yang lain adalah para politisi ngehe yang justru membuat statemen dengan tujuan membelokkan rasa duka publik ke isu yang lebih politis seperti ganti Presiden atau masalah Ahok.

Atau mereka yang tidak bereaksi apa-apa, tetapi diam-diam menikmati berita pemboman di berbagai gereja. Sesungguhnya dalam diri mereka bersemayam monster yang tinggal menunggu waktu untuk mewujud dalam tindakan.

Sekarang waktunya kita menyiangi kehidupan kita. Mereka yang bersimpati pada teroris bukan teman kita. Mereka yang mencoba membelokkan isu terorisme ke arah lain untuk mengaburkan masalah sesungguhnya adalah para pendukung teroris. Partai dan tokoh partai yang menggoreng isu ini, bukan dengan minyak, tetapi dengan darah rakyat, tidak pantas lagi untuk dipilih.

Terhadap teroris dan kaum barbar, kita tidak bisa lagi berdiri di tengah. Kita harus bersikap. Kamu termasuk golongan yang bersorak atas tragedi ini atau termasuk golongan yang mengutuk. Mengutuk, ya mengutuk. Tunjukan ketidaksetujuanmu. Bukan malah berdalih ini-itu seperti Cinta Luna yang ngaku jadi perempuan sejak lahir.

Baca Juga:  Kaum "Nasionalis" Yang Persekusi Abdul Somad Termakan "Hoax"

Sekarang saatnya kita tegaskan. Siapa saja musuh dan teman kita. Tidak bisa lagi kita berdiri di wilayah abu-abu.

***