Romansa

Muslihat Hakim Sarmin (11): Tabir yang Terbuka

Novel, Fiksi, Cerita Bersambung, Headline
Ilustrasi polisi (Foto: Tribunnews.com)

Cerita bersambung ini diadaptasi dari naskah pertunjukan Agus Noor berjudul Hakim Sarmin

Calm down, Komandan,” kata dr. Putra begitu memasuki ruangan Pak Walikota. “Tidak perlu emosi dan terburu-buru. Kita punya cukup waktu untuk mengobrol sebelum terjadi pertumpahan darah.”

Komandan Kuncoro, Pak Walikota, dan sekertarisnya terkejut dengan kemunculan dr. Putra. Secara otomatis Komandan Kuncoro mengarahkan moncong pistolnya ke arah dr. Putra. Pak Panjaitan menghembuskan nafas lega.

“Kita tidak sedang berperang kan, Komandan?” tanya dr. Putra dengan tenang sambil mengangkat tangannya. “Di tengah ancaman pikiran yang sedemikian mendesak, Anda justru mengangkat senjata. Tau kah Anda, Komandan, kalau seribu tembakan tidak akan bisa membunuh pikiran?”

Dr. Putra berjalan mendekati Komandan Kuncoro tanpa gentar walaupun Komandan Kuncoro jelas-jelas mengacungkan pistol ke arahnya. Dr. Putra terus mendekati Komandan Kuncoro hingga moncong pistolnya tepat berada di kening dr. Putra. Semua orang terdiam dalam tegang.

“Turunkan pistolnya, Komandan,” perintah Pak Walikota memecah kesunyian. “Sebelum menghancurkan kepalanya, saya ingin tau pikiran jahat apa yang membuatnya ingin meracuni saya.”

Perlahan walaupun dengan geram, Komandan Kuncoro menurunkan pistolnya.

“Anda benar-benar punya nyali, Dokter,” kata Pak Walikota kemudian.

Secara mengejutkan, dr. Putra memukul keras tangan Komandan Kuncoro yang memegang pistol hingga pistolnya terlepas ke lantai. Dengan cepat dr. Putra mengambil pistol itu dan menodongkan ke Komandan Kuncoro, Pak Walikota, dan sekertaris walikota secara bergantian. Dr. Putra tertawa dengan penuh kemenangan.

“Punya nyali dan pintar memainkan strategi,” kata Pak Walikota. “Anda adalah kombinasi yang sempurna untuk sebuah pengkhianatan. Seharusnya saya tidak menyelamatkan Anda.”

Dr. Putra menatap Pak Walikota sambil tersenyum manis.

Baca Juga:  Catatan Serius untuk Presiden (1): Dua Jenderal Baru TNI di Istana

“Ya… ya… ya…Saya sampai lupa mengucapkan terimakasih pada Anda, Pak Walikota,” kata dr. Putra sambil tergelak. “Terimakasih sudah mengirimkan loyalis Anda, Hakim Ngatiman, untuk membuka sel yang mengurung saya. Tapi sayangnya saya kemari membawa kabar buruk. Hakim Ngatiman sudah tamat riwayatnya. Dia mati dieksekusi oleh anak buah Komandan Keamanan.”

“Benarkah itu?” tanya Pak Walikota terkejut dan kini ia menatap tajam pada Komandan Kuncoro.

“Saya hanya mengendalikan keadaan, Pak,” jawab Komandan Kuncoro berusaha menghindari tatapan mata Pak Walikota.

Tawa dr. Putra semakin keras. Ia merasa situasi ini benar-benar lucu sekarang.

“Mengendalikan keadaan atau mau memanfaatkan keadaan?” tanya dr. Putra nyinyir.

“Anda sendiri seperti orang yang tidak tau terimakasih, Dokter,” potong sekertaris walikota. “Saya tidak mengerti dengan Anda yang sudah diselamatkan oleh Pak Walikota tapi bisa-bisanya menodongkan pistol ke arah beliau.”

“Wuhooo,” seru dr. Putra ganti menodongkan pistol ke arah sekertaris walikota. “Dengarkan itu penggemar setiaku berbicara.”

“Saya bukan penggemar Anda,” kata sekertaris walikota sambil mengangkat kepala menantang dr. Putra.

“Anda tidak menyukai saya karena masalah Proyek Rehabilitasi itu yah?” kata dr. Putra sambil menyentuh pipi sekertaris dengan pistolnya. “Tidakkah Anda tau siapa yang diuntungkan dalam proyek itu?”

“Anda,” jawab sekertaris walikota dengan tenang.

“Semua orang,” kata dr. Putra mengoreksi jawaban sekertaris walikota.

Dr. Putra mengatakan hal itu dengan mengangkat kedua tangannya, menunjuk langit, dan menengadahkan kepalanya.

Sekertaris walikota jadi semakin jijik dengan dr. Putra karena gerakan tersebut mengingatkannya pada seseorang di TV, yang menontonnya saja selalu membuatnya geram.

“Mari kita analisis semua ini dengan bijak,” kata dr. Putra. “Komandan Kuncoro, mengapa Anda mau bergabung dengan kelompok Hakim Sarmin?”

Baca Juga:  Seberapa Banyak Kaum Intoleran Itu?

“A…apa maksud Anda, Dokter?” kata Komandan Kuncoro tergagap-gagap.

“Jadi Anda belum mau mengakuinya, Komandan?” ledek dr. Putra. “Kalau begitu, biar saya saja yang menjabarkannya. Saya dan Pak Panjaitan sebenarnya memang mau mengambil keuntungan dari Pusat Rehabilitasi itu. Dan Hakim Sarmin juga memanfaatkan dengan baik Pusat Rehabilitasi itu. Sampai disini, tidak ada yang rugi kan?”

“Saya pun melakukan Uji Pemikiran pada Hakim Sarmin dan harus diakui, Hakim Sarmin telah membawa kita menuju gagasan yang baru tentang keadilan,” lanjut dr. Putra. “Krisis hakim yang terjadi saat ini, merupakan titik balik untuk membenahi kondisi politik kita. Proyek Rehabilitasi membuat kita memiliki hakim yang bisa dipercaya sehingga semua berjalan tertib dan sesuai koridor hukum yang benar. Ini juga untuk menyeleksi mana hakim yang militan dan mana yang gadungan. Pak Walikota tidak mau tau, siapa yang menghabisi hakim yang tidak masuk Pusat Rehabilitasi?”

Semua mata kini tertuju pada Komandan Kuncoro. Sedangkan Komandan Kuncoro menolehkan kepala untuk menghindari tatapan mata orang-orang.

“Jadi sepertinya kalian berasal dari kubu dan latar belakang yang berbeda tapi kini bersatu untuk mencapai tujuan yang sama,” kata sekertaris walikota memecah kesunyian. “Mengharukan ya?”

“Apa sebenarnya yang kalian inginkan?” tanya Pak Walikota kini dengan suara meninggi.

(Bersambung)

***

Cerita sebelumnya:

Muslihat Hakim Sarmin (10) : Muslihat Obat