Wacana

Yang Tak Disadari: Konflik Islam-Negara Itu Diciptakan

Pancasila, Negara, Khilafah, Ideologi, Opini, Headline, Aksi 212, Islam
Kelompok kelas menengah peserta Aksi 212 (Foto: Dream.co.id)
Jangan memusuhi kelompok Islam bila negara ini akan tetap utuh, kuat dan aman. Gerakan 212 bisa jadi adalah geliat macan tidur yang bisa lebih ganas.

Kita semua tahu, sebagai ekspresi kekhalifahan manusia di muka bumi, bentuk kepemimpinan dan pengelolaan manusia atas lingkungannya, dalam bentuk sistem politik kenegaraannya, bisa macam-macam: bisa negara khilafah dengan hukum syariat Islam, bisa negara kerajaan/kesultanan dengan Undang-undang kerajaan/kesultanan, bisa negara republik dengan demokrasi dan Pancasila dan lain-lain. Itu soal kondisi sejarah, kondisi sosiologis politik dan pilihan-pilihan umat.

Islam Indonesia sudah bersepakat sejak kemerdekaannya menerima bentuk republik dengan Pancasila sebagai dasar atau prinsip penyelenggaraan negaranya. Muncul beberapa persepsi: ada yang mengatakan itu kekalahan politik Islam, ada yang mengatakan itu bentuk toleransi Islam tidak memaksakan kehendak, dan Pancasila adalah hadiah dari umat Islam.

Sebab, saat peralihan dari Piagam Jakarta yang memuat kewajiban menjalankan Syariat Islam ke Pancasila yang sekarang, kalau mau sebenarnya bisa ditolak. Akan terjadilan keributan ideologis, kegaduhan republik dan turbulensi politik nasional yang menyebabkan perpecahan. Tapi umat Islam tidak melakukannya dengan pertimbangan menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Sejak itu, Islam dan negara Indonesia hampir tidak ada masalah, sudah menerima dan menyatu, kecuali ketidakpuasan-ketidakpuasan kelompok kecil yang hasratnya belum terekspresikan ingin bersistem Islam seperti gerakan DI/TII yang memberontak dan gerakan-gerakan kecil seperti NII. Tapi sekali lagi itu hanya kelompok minoritas di tubuh umat, bukan mayoritas.

Walaupun sudah menerima dan menyatu, sisa-sisa ketidakpuasan itu masih ada, masih berbekas dan akan muncul sekali-sekali bila ada yang memanas-manasi atau menggorengnya. Luka lama akan muncul dan umat Islam akan bersikap terhadap bentuk negara.

Baca Juga:  NU Tolak Rizieq Shihab sebagai Imam Umat Islam Indonesia

Sekarang ini, muncul upaya-upaya imaginasisasi atau tuduhan-tuduhan seolah-olah Islam anti NKRI, anti Pancasila, anti pemerintah dan sebagainya. Bila ini terus-terusan diembuskan oleh lawan-lawan politik Islam, ini berbahaya bagi negara, bagi persatuan, bagi NKRI dan bagi Pancasila.

Apa bahayanya? Umat Islam akan bangkit luka lamanya, mengambil sikap dan menegaskan diri. Apalagi bila, embusan-embusan itu diperkuat oleh lemahnya negara dan tidak responsif terhadap aspirasi-aspirasi Islam.

Bangkit dan menguatnya kembali aspirasi syariat Islam dan khilafah sebenarnya muncul dari kondisi itu: ada yang membentrokkan Islam dan negara dengan isu seolah Islam anti Pancasila dan NKRI, pemerintah yang dikuasai kepentingan asing dan lemahnya pemerintan dalam menyelenggarakan keadilan politik dan supremasi hukum yang adil dalam menyelesaikan berbagai persoalan negara dan bangsa. Pengambilan sikap itu sekarang saja sudah kelihatan walau baru skala kecil.

Jadi sebenarnya, konflik Islam dengan negara, kesan Islam anti NKRI dan Pancasila kemudian munculnya aspirasi syariat Islam dan khilafah, itu sebenarnya diciptakan dan diundang oleh kelompok-kelompok yang ingin mementahkan kembali hubungan Islam dengan negara yang sudah tercipta lama. Mereka inilah yang tidak bertanggung jawab ingin menjauhkan politik dan pemerintah dari Islam!

Bila negara kemudian juga memperkuat isu ini dengan lebih mementingkan aspirasi dan kepentingan kelompok non Islam ketimbang umat Islam, ditambah ketidakmampuan sistem negara demokrasi-kapitalistik sekarang yang tidak mampu mensejarahterakan umat dan impotensi hukum yang membuat frustrasi banyak kalangan, maka umat Islam seperti diberi pilihan: memilih NKRI dan Pancasilanya atau sistem Islam?

Di sinilah masalah muncul: umat Islam pasti akan lebih memilih agamanya yang primordial sebagai keyakinan ketimbang negara yang sekuler dalam bentuk perhadapan antara syariat Islam dan khilafah dengan negara NKRI, Pancasila dan demokrasi yang duniawi.

Baca Juga:  Indonesia Bisa Jadi "Role Model" Islam Moderat dan Toleran di dunia

Bagi keyakinan umat Islam, NKRI, Pancasila dan demokrasi itu tidak penting, yang rugi adalah bangsa dan negara Republik Indonesia yang sudah menyatu dan dibangun lama harus hancur berkeping-keping bila umat Islam digoreng dan dipancing dan dipanas-panasi seolah anti negara, anti NKRI dan Pancasila. Umat Islam akan sangat mudah mengambil ultimatum: “Ya sudah, elo inginnya gimana?”

Kesimpulan dan pesan intinya: Jangan memusuhi kelompok Islam bila negara ini akan tetap utuh, kuat dan aman. Gerakan 212 bisa jadi adalah geliat macan tidur yang bisa lebih ganas bila kesan-kesan Islam anti NKRI dan anti Pancasila terus menerus diciptakan oleh mereka yang menginginkan Indonesia ini pecah hancur lebur berantakan berkeping-keping, kemudian tiba-tiba datang kekuasaan asing dengan wajahnya yang ramah “ingin menyelamatkan” kita yang sudah terseok-seok dan hancur lebur.

Dalam ketidakberdayaan bangsa, dalam mata buram, kita bangun lagi sambil sempoyongan, dalam sekejap, ternyata yang kita lihat bukan Indonesia lagi, bukan kita lagi, tapi sudah kekuasaan asing yang bercokol sebagai penguasa kita, mungkin mereka bermata sipit, persis seperti zaman kolonial dahulu di mana pemerintah kita adalah pemerintahan asing karena Indonesia sudah hilang.

Sadarlah!

***