Fakta

Bahaya Tersembunyi di Balik Memidanakan dan Memenjarakan Jonru

Jonru, Media Sosial, Kriminalitas, Headline, Hukum, Pidana
Jonru (Foto: KOmpas.com)
Ada bahaya tersembunyi ketika Jonru dipidanakan, yaitu kemungkinan munculnya Jonru-Jonru baru yang ingin menyamai popularitas Jonru di media sosial.

Ini sejenis balapan antara keong dan kancil. Tentu saja kancil, selalu merasa menang, tapi akhirnya keong juga bisa dianggap sebagai pemenang. Terserah, kita mau jadi kancil atau keong-nya, yang jelas posisi itu bisa berganti-ganti peran sesuai situasi dan kondisi yang kita pilih atau tanpa sengaja kita berada di dalamnya.

Akhirnya Jonru, pesohor Facebook dipolisikan, setelah sekian lama dibiarkan berkicau seenak udelnya sendiri. Main tabrak sana-sini. Jangankan dengan etika permisi layaknya orang Timur, tapi justru dengan kemaki penuh arogansi, serta menghajar nalar manusiawi.

Dia seolah menang, ketika pengikutnya “konon” mencapai 1,5 juta orang, setiap cuitannya di-share ratusan ribu orang, mungkin tanpa dibaca dan dipahami terlebih dahulu oleh pengikutnya. Ia bisa terkenal, karena konon menggunakan ilmu yang meminjam pepatah Arab kuno (sic!), “Kencingilah air zamzam, lalu dunia akan meledakkan dirimu”. Ledakan dalam arti negatif tentu saja, sehingga wajahnya seolah mantra yang bisa membuat semua orang langsung bereaksi tergantung pretensi masing-masing.

Saat, polisi akhirnya menahannya, maka seolah para pembencinya merasa menang dan terbelai perasaannya. Pendukungnya senyap, karena tentu saja mereka ini “para pengecut”, yang ingin mulutnya tetap wangi dan tangannya tetap bersih. Karakter penyebar ujaran kebencian itu sama di mana-mana, mereka anonim dalam arti menyembunyikan rapat identitas mereka. Cenderung spontan, berwatak inferior dan sama sekali tidak memiliki gagasan baik.

Apa yang diharapkan dari mereka? Hingga sebuah pendapat netral muncul, “Kasihan anak istrinya ya. Siapa yang harus menyantuninya? ‘Kan ia kepala keluarga. Kan ia hanya penjual sprei, dan seorang yang bercita-cita jadi motivator tapi gagal. ‘Kan ia penulis, tapi bukunya tak laku? Ia masih ngontrak, dan bla bla bla….

Baca Juga:  Antara Gloria, Arcandra, dan Basuki Tjahaja Purnama

Intinya: ia sangat perlu dikasihani, jauh dari tampang menantang dan tak kenal salah yang terus memancar dari wajahnya. Ternyata ia tidaklah sebatu karang yang kita duga, ia ternyata bukanlah sekaya sebagaimana mestinya orang yang memiliki pengikut 1,5 juta.

Suka tidak suka, jonru itu memang fenomenal. Istilah Jonru sendiri, telah masuk dalam kosa kata bahasa Indonesia. Makna Jonru adalah kabar bohong, fitnah yang sengaja disebar, dst dst. Dari sini saja kalau boleh jujur, itu sudah hukuman pribadi yang sangat berat. Ia sebagaimana pepatah Arab di atas, telah berhasil membuatnya menjadi seorang yang “populer”.

Sesaat ia telah menjadi penanda zamannya untuk kemudian dilupakan. Karena itu, berhati-hatilah dengan kata populer, karena biasanya usianya sangat pendek. Ia tak akan pernah jadi legenda, karena untuk sampai pada titik itu diperlukan jangka waktu yang lebih lama.

Jonru itu satu generasi dengan pemilik First Travel, satu gendang satu tabuhan dengan Saracen, satu semangat dengan penggerak demo yang berjilid-jilid itu. Satu nafas dengan Imam besar yang kini berada di Arab Saudi.

Mereka sama-sama pejuang yang tak kenal lelah. Sayangnya hanya satu: mereka tidak memiliki watak “kerelawanan sejati”, walau tentu saja mereka akan selalu memaksa dianggap demikian. Relawan sejati: itu tidak mengenal bayaran, lintas SARA, tanpa pamrih dan tidak butuh publikasi (apalagi pengikut).

Jonru and the gank-nya itu adalah penanda jaman mileneal, di mana realitas komunikasi sosial dicampuraduk dengan agama, politik, budaya, hingga hilang wujud aslinya. Karena apa? Rerata mereka berasal dari segala yang berkategori pas-pasan: ya ekonomi, ya intelektual, ya keimanan, latar belakang sosial, dan sebagainya. Karena yang berlebih, tentu saja akan menjauh dan menghindar, sedangkan yang berkekurangan akan cenderung tutup mulut dan manut.

Baca Juga:  Fahri Hamzah, Menakar Loyalitas Politik Sang "Pembangkang"

Dalam bahasa gaul hari ini mereka ini yang disebut “kelas menengah ngehek“!

Sebagai mana prolog tulisan ini, seekor kancil yang selalu merasa lebih cerdik tapi pongah itulah, yang pada akhirnya membiakkan keong. Ia lupa keong lebih banyak dan lebih cepat tumbuh, ada di mana-mana, dan jangan kaget juga punya solidaritas diam yang tinggi.

Tanpa kita sadari dengan mem-pidana-kan kita telah membiakkan Jonru-Jonru lainnya, yang ingin menggantikannya dan pengen sama populernya. Apa boleh buat!

***