Anak Pelabuhan Teluk Bayur Lulus 'Summa Cumlaude' Kabinet

Ia memiliki banyak buku sebagai kekayaannya sebagai intelektual. Saya cemburu, karena buku-buku saya tidak sebanyak yang dimilikinya.

Kamis, 25 Februari 2021 | 14:55 WIB
0
51
Anak Pelabuhan Teluk Bayur Lulus 'Summa Cumlaude' Kabinet
Andrinof Chaniago dan saya (Foto: Dok. pribadi)

Tidur di perpustakaan. Bukan hanya karena sekadar hobby membaca saja. Melainkan, karena tidak punya tempat tinggal. Bahkan tidak punya uang untuk membayar kost. Ia mahasiswa 'gembel' jurusan ilmu politik Universitas Indonesia (UI) tahun masuk 1983.

Mengalami shock culture saat kuliah di salah satu kampus terbaik di Negeri ini. Banyak orang berada dari kelas sosial mampu secara ekonomi. Dia hanya dilirik sebelah mata.

Mahasiswa 'kere' itu kemudian bersekongkol dengan petugas perpustakaan dan satpam kampus agar diizinkan tinggal di dalam perpustakaan. Tidur di atas meja maupun kursi perpustakaan. Berbantal buku. Berteman buku-buku dan hasil riset. Membuatnya gigih ingin menjadi peneliti.

Ia memang tidak dianggap oleh teman-temannya di kelas, lantaran indeks prestasinya pas-pasan saja. Tak sanggup untuk membayar fotocopy bahan kuliah.

Ketekunannya di perpustakaan membuahkan hasil, tulisannya dimuat di salah satu media mainstream terkemuka. Membalikkan keadaan, dosen pun mulai meliriknya sebagai salah satu mahasiswa berbakat.

Keberhasilannya membuatnya mulai dilirik teman-temannya di FISIP. Ia pun menjadi aktivis hingga menjadi ketua senat mahasiswa di FISIP UI.

Ia ingin membalas nilai-nilai mata kuliahnya yang pas-pasan itu dengan skripsi yang terbaik. Skripsinya menjadi perhatian seorang doktor peneliti dari Australia yang sedang riset di Singapura.

Sarjana baru itu pun diundang menjadi research fellow. Padahal umumnya research fellow adalah para kandidat doktor atau yang sudah doktor. Sering disebut pula postdoct.

Ujungnya dia pun menjadi peneliti di FISIP UI. Juga sempat menjadi periset di Majalah Umat dan Harian Ekonomi Neraca. Bergaul dengan dunia kewartawanan. Namun mengundurkan diri saat krisis ekonomi dan moneter. Media massa bergelimpangan.

Sempat juga diawal menjadi asisten dosen di almamaternya, tapi dipecat. Saat itu terjadi rivalitas di kampusnya. Dia jadi korban dengan alasan lulus S1 dengan IPK-nya pas-pasan. Sehingga diangggap tidak memenuhi syarat.
Merasa tidak percaya diri hanya bergelar doktorandus. Ia melanjutkan kuliah lagi. Setelah menyelesaikan S2 di FE UI, ia diajak dosen senior Dr Isbodroini menjadi dosen FISIP UI hingga saat ini. Terutama mata kuliah ekonomi politik dan kebijakan publik. Bidang yang dikuasainya.

Siapakah dia?

Itulah sebagian kecil perjalanan Andrinof Chaniago, mantan menteri perencanaan pembangunan nasional. Ia lulus 'summa cum laude' di kabinet pertama Presiden Jokowi.

Summa cumlaude, maksudnya? "Saya termasuk yang selesai tercepat sebagai menteri direshuffle kabinet," kata Andrinof sambil tertawa, saat saya mengunjungi perpustakaannya di kawasan asri di Kalibata, Rawa Jati, Jakarta Selatan.

Terinspirasi Rendra

Banyak kisah mengapa dia dipecat begitu cepat. Tentu saja setelah kurang dari satu tahun, alias 10 bulan saja. Setelah dia memecat alias tidak menyetujui beberapa proyek yang bernuansa bisnis pihak-pihak tertentu. Mereka berkolaborasi dengan kekuatan politik.

Andrinof mendapatkan tekanan-tekanan hebat. Kurang dari 10 bulan saja dia menduduki pos orang nomor satu di Bappenas. Kendati bermodal sarjana ilmu politik dan magister kebijakan pembangunan publik, ternyata di kancah politik praktis ia tergagap. Barangkali seperti di dunia kriminal, penjahat selalu selangkah lebih maju daripada polisi.

Andrinof pernah menjadi karyawan penjual sate padang untuk membiayai kuliahnya. Tidur berhimpitan dengan pegawai lainnya di ibu kota.

Masa kecil dan remajanya getir. Saat sekolah dasar sempat menjadi kuli pelabuhan. Tujuannya agar bisa makan dengan lauk telur dan daging serta punya uang. Sempat tak ingin melanjutkan sekolah dasar, karena merasa sudah dengan mudah mendapatkan uang di pelabuhan Teluk Bayur di kampung halamannya, Padang, Sumatra Barat.

Juga sempat ingin kabur, merantau ke Jakarta pada usia 10 tahun. Sudah membawa dua helai pakaian dan bersembunyi di atas kapal barang. Namun sang ibunda mengetahuinya. Sang Ibu naik ke kapal barang dan menyeretnya turun dari kapal. Gagallah bocah ingusan itu pergi merantau.

Hingga akhirnya saat sekolah di madrasah tsanawiyah negeri (setingkat SMP), ia diizinkan merantau. Naik kapal barang dan mabuk laut.

Kemudian lanjut ke SMP Islam di ujung Jakarta Barat. Di situ, ia terinspirasi dengan karya-karya penyair WS Rendra. Keras mengkritik pemerintah soal ketidakadilan. Di sinilah ia tertarik dengan dunia politik. Saat SMP puisinya berhasil tembus di koran Kompas pada tahun 1978.

Di SMA, ia menumpang di rumah temannya dan membantu pemilik rumah sebagai pembuat spanduk. Ia belajar materi soal-soal ujian masuk PTN di tukang buku loak di Pasar Senen.

Tentu saja, karena tak mampu untuk mengikuti bimbingan belajar. Ya, belajar dari tukang buku loak. Hingga berhasil diterima di jurusan ilmu politik FISIP UI.

Kini ia memiliki perpustakaan yang disebutnya studio aksi literasi. Rabu (17/2/2021) sore, saya mengunjungi Bang Andrinof. Tak terasa mengobrol hampir empat jam. Tentu saja paling banyak membahas soal politik dan integrasi nasional.

Penuh perdebatan dan tidak selalu harus satu pemahaman. Debat seperti di kelas pascasarjana.

Ia memiliki banyak buku sebagai kekayaannya sebagai intelektual. Saya cemburu, karena buku-buku saya tidak sebanyak yang dimilikinya.

Hidangan kopi campuran arabika dan robusta membuka awal percakapan kami. Tak lupa hidangan kue-kue dan sate menjadi asupan makan malam bersama.

Terakhir, ia memberikan buku ' Evolusi Mimpi Menata Indonesia'. Buku karya Ade Wiharso dan Lina M Komarudin, antara lain mengulas perjalanan hidup Andrinof.

Terima kasih banyak, Bang Andrinof. Kita akan berdebat lagi di lain waktu dan kesempatan. Salam Aksi Literasi.

***