Catatan Biasa Orang Biasa [10] Legenda Salim dan Bojem

Di dekat Kebonkiray kini berdiri bangunan SMP negeri yang cukup megah. Boleh jadi Si Bojem kalah bersaing dengan kehidupan moderen.

Selasa, 13 Oktober 2020 | 10:19 WIB
0
47
Catatan Biasa Orang Biasa [10] Legenda Salim dan Bojem
Ilustrasi kuntilanak (Foto: okezone.com)

Suatu hari, sehabis subuh, kami sedang mengaji di rumah. Bapa membimbing anak-anaknya membaca Alquran surat-surat pendek (juz ‘amma). Tiba-tiba gorden di ruang tamu bergerak-gerak sendiri ke kiri dan ke kanan, sreek…sreek…sreek. Padahal pada pagi yang masih gelap itu tidak ada angin atau apapun yang membuat kain penutup kaca jendela itu bergerak.

Kami saling pandang, lalu sontak bangkit dari duduk dan berhimpun di sekitar Bapa. Tidak berani melihat ke arah gorden. Bapa hanya tersenyum, membuka kopiahnya, menggaruk kepala. “Alaaah biasa, eta mah paling oge Si Salim. Ngabejaan aya nu rek datang ka dieu. Ulah sieun. Sok teruskeun ngajina (Alaaah biasa, paling juga Si Salim. Memberi tahu ada yang akan datang ke sini. Jangan takut. Teruskan mengajinya),” ujar Bapa.

Kami pun mengaji kembali. Walaupun saya masih deg-degan dan sudut mata mencuri-curi pandang ke arah jendela. “Assalamualaikum….,” tiba-tiba sebuah suara yang agak parau terdengar dari balik pintu depan. Kembali kami saling pandang. “Waalaikum salam, mangga linggih,” jawab Bapa seperti sudah hapal dengan suara itu.

Ya ternyata yang datang seorang pria bersorban, yang biasa kami sapa Aki Haji Munir. Dia adalah kakak dari Nenek Unaisyah (ibunya Mamah). Hubungan Aki Haji Munir dan Mamah memang dekat. Pada masa kanak-kanak, Mamah berada dalam asuhannya selama beberapa tahun dan sempat tinggal di bilangan Kramatjati Jakarta. Aki sengaja ingin menengok cucu-cucunya.

Setelah tamu itu pulang, baru Bapa dan Mamah bercerita ihwal gorden yang bergerak tadi. “Aki Haji Munir itu punya khodam jin, namanya Salim. Nah Si Salim ini terkadang memberi kode pada tuan rumah, jika Aki Haji Munir akan berkunjung ke rumah tersebut. Ya seperti gorden tadi itu,” kata Mamah menjelaskan.

Sejak itulah kami akrab dengan nama Salim. Wa Endang Iskandar (kakaknya Bapa) pernah berkisah, suatu malam dibuat sibuk menangkis laku usil Si Salim. Makhluk gaib tersebut berusaha menggelitiki saya dan Kang Entis S Sind yang malam itu tidur di kamar Wa Endang.

Uwak yang satu ini juga dikenal paham pada dunia seperti itu. Ternyata kerabat kami di kompleks Pesantren Cintapada, keluarga besar Aki Haji Munir, menyimpan banyak cerita tentang Salim.

Sekali waktu saya diajak Bapa berkunjung ke rumah Aki Haji Munir di Karawang dan bermalam di sana. Ada rasa senang dibawa jalan-jalan, tapi juga diam-diam muncul rasa takut diusili. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. Meski mata terpejam, tetap saja terjaga dan berdebar-debar. Takut kalau-kalau Si Salim datang mengganggu, apalagi dalam wujud menyeramkan.

Kata Mamah, Aki Haji Munir pernah berniat menyerahkan khodamnya kepada Bapa. Namun Mamah dan Bapak tidak mau. Suatu ketika saya menemukan kertas-kertas bertuliskan huruf Arab. Mamah menyuruh saya membakarnya. Katanya, itu rangkaian doa yang ada hubungannya dengan Si Salim.

Jurig Kebonkiray

Di bagian timur kampung kami, ada tempat yang disebut Kebonkiray. Kiray atau nipah adalah pohon yang daunnya pajang dan sering digunakan untuk atap rumah di masa lalu. Kebun di tepi Sungai Cipeucang itu (batas kampung) tidak terlalu luas. Terdapat puluhan pohon kiray yang tumbuh subur.

Tempat itu terkenal dengan kisah-kisah “penampakan”. Penghuninya popular dengan mama Si Bojem. Tidak jelas, siapa yang memberi nama tersebut. Namun kata para orangtua, sejak lama nama Bojem sudah ada. Banyak cerita tentang keisengannya. Katanya, menjelang magrib di tepi Cipeucang sering muncul sosok perempuan berambut panjang duduk di pilar jembatan.

Ada juga kisah tukang bubur kacang yang pulang tengah malam, dicegat makhluk tinggi besar di jembatan itu. Pedagang tersebut lari pontang-panting meninggalkan barang pikulannya sambil berteriak minta tolong. Bapa pernah bercerita tentang pasaran (keranda) melayang seperti ada yang menggotong. Masih banyak lagi cerita horor lainnya.

Saya belum pernah mengalami kejadian aneh berkaitan dengan Si Bojem. Namun ada satu peristiwa menimpa orang lain yang saya saksikan sendiri, berkaitan dengan Kebonkiray itu. Suatu hari saya dan beberapa warga sedang duduk-duduk di dekat masjid sekitar pukul 11.00. Tiba-tiba ada yang lari dari arah timur sambil setengah menangis. Ternyata Wa Encum, wajahnya pucat pasi lalu terduduk lemas.

Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tenggorokannya seperti tersumbat. Telunjuknya tertuju ke ke arah Kebonkiray. Setelah ditenangkan warga dan diberi minum, Wa Encum pun bercerita apa yang terjadi. Menurutnya, saat itu dia sedang asyik mencuci pakaian di kolam yang berbatasan dengan Kebonkiray. Pandangannya terfokus pada kayu penggilasan.

Begitu dia mengangkat wajahnya, sekitar semeter di depannya ada wanita berambut panjang dengan wajah menakutkan. Kemudian tertawa cekikikan. Wa Encum kaget bukan kepalang. Tanpa pikir panjang lagi, sekuat tenaga dia berlari meninggalkan tumpukan cuciannya dan beberapa kali terjatuh di pematang sawah. Bulu kuduk saya merinding mendengarnya.

Meskipun sering mendengar cerita-cerita serupa itu, tapi sering pula muncul keisengan saya yang berhuhungann dengan "dunia lain". Di seberang barat kampung saya ada batu besar di tepi sawah. Terkadang ada orang yang menyimpan sesaji setiap Kamis sore, jelang malam Jumat.

Saya dan Kang Entis sering mengendap-endap di sawah, menunggu pengirim sesaji pergi. Lalu kami ambil makanannya, terutama telur ayam rebus dan paha ayam bakar. Enak juga menyantap menu makanan untuk makhluk halus itu.

Entahlah, apa kabar Si Bojem sekarang. Tidak terdengar lagi keusilannya. Di dekat Kebonkiray kini berdiri bangunan SMP negeri yang cukup megah. Boleh jadi Si Bojem kalah bersaing dengan kehidupan moderen. Bisa saja dia frustrasi, bermigrasi dari Kebonkiray ke tempat lain. Tidak terdengar pula kabar Si Salim.

Wallahu 'alam.

***
Tulisan sebelumnya: Catatan Biasa Orang Biasa [9] Gelegar Bedil Karbit, Beduk Raib