Kang Jalal, Beras Dua Ton dan Uang Kontrakan

Meski sering memberi jalan keluar ketika kami mendapat kesulitan saat berkegiatan, Kang Jalal kerap meminta maaf karena merasa belum bisa banyak membantu.

Selasa, 16 Februari 2021 | 20:45 WIB
0
40
Kang Jalal, Beras Dua Ton dan Uang Kontrakan
Saya bersama Jalaluddin Rakhmat (Foto: Dok. pribadi)

Saya pertama kali mengenal KH Dr. Jalaluddin Rakhmat di ruang kuliah Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad pada sekitar tahun 1986. Kang Jalal –demikian sapaan akrabnya- memberikan kuliah penelitian komunikasi. Setiap Kang Jalal hadir di kelas, mahasiswa berdesakan. Banyak yang sengaja datang meskipun tidak mengambil mata kuliah tersebut.

Kang Jalal adalah magnet yang menyedot perhatian sedemikian rupa. Kemampuan berbicara dan menulisnya sama hebat. Tidak banyak orang yang memiliki kepiawaian seperti ini. Buku fenomenal “Psikologi Komunikasi”, adalah salah satu contoh yang menunjukkan kemampuan istimewa itu.

“Pertemuan” kemudian berlanjut di berbagai kesempatan termasuk forum ilmiah dan kegiatan rutin setiap Ahad pagi di masjid belakang rumahnya. Bagi jurnalis seperti saya, Kang Jalal adalah narasumber yang baik dengan isi wawancara bergizi. Bisa berbincang langsung di rumahnya atau cukup melalui telepon.

Banyak catatan yang kembali muncul dalam ingatan. Tapi saya ingin menuliskan yang berkaitan dengan kerja kemanusiaan pada sekitar empat tahun terakhir ini. Meskipun Kang Jalal bukan pengurus organisasi yang kami jalankan, namun dukungannya begitu besar. Respons serupa itu muncul karena kami dipertemukan melalui kata kunci yang sama: mustadhafin.

Baca Juga: Jalaluddin Rakhmat dan Islam Syiah

Ya, kaum mustadhafin (kaum papa, kaum yang dilemahkan) adalah kelompok masyarakat yang sejak lama menjadi perhatian Kang Jalal. Aktivitasnya berkhidmat kepada mereka datang dari hati yang tulus. Berkali-kali beliau menitipkan bantuan untuk yang membutuhkan, tanpa sedikit pun “membebani” kami dengan kepentingan lain. Padahal saat itu Kang Jalal adalah seorang politisi yang sudah duduk di DPR.

Dalam obrolan-obrolan dengan kami yang beragam latar belakang, Kang Jalal tidak pernah mengampanyekan apa yang menjadi keyakinannya dalam beragama. Perbincangan seringkali mengalir ke mana saja, ke tema-tema yang sebelumnya tidak kami kenal. Setiap berbincang bersamanya, kami seperti sedang mengikuti kuliah dengan berbagai disiplin ilmu.

Uang kontrakan

Teritorial kerja kami berada di kawasan Bandung utara, lokasinya berbukit-bukit. Beberapa kali Kang Jalal bersama kami menapaki turun naiknya jalan dari kempung ke kampung. Melihat langsung kondisi warga yang membutuhkan bantuan. Termasuk bantuan untuk pengadaan air bersih.

Sebetulnya kami tak enak hati, melibatkan beliau yang sudah sepuh blusukan seperti itu. Apalagi Kang Jalal pernah berbicara tentang penyakitnya. Tapi kami juga tidak mungkin melarangnya. "Jalan-jalan di sini enak. Udaranya segar ya. Beda dengan di tengah kota," tuturnya.

Pada suatu ketika, kami menemukan sebuah keluarga yang karena kemiskinannya harus hidup di samping temat pembuangan sampah. Suami istri dengan tiga anak yang masih kecil, tinggal berdesakan di sebuah gubuk reyot berlantai tanah, tanpa listrik, minus air. Mereka menumpang di lahan orang lain.

Kami harus segera mengevakuasi mereka dan menempatkannya di rumah yang layak. Jika dibiarkan, khawatir ketiga anak itu terserang berbagai penyakit. Kami berembuk, lalu menyampaikan informasi tersebut kepada Kang Jalal. “Segera cari kontrakan, saya yang menanggungnya,” begitu pesannya. Maka berpindahlah keluarga itu ke rumah yang pantas.

Sekali waktu sebuah masjid kecil di tepi hutan pinus ingin menggelar acara Muludan (Maulid Nabi) dengan mengundang penceramah dari kota. Pengurus masjid itu meminta bantuan kami. Maka di hadapan warga pelosok itu Kang Jalal menyampaikan kisah teladan Nabi dengan kepaiawaian seorang pakar komunikasi.

Beras dua ton

Setiap awal dan menjelang akhir Ramadan, kami biasa menemui warga yang membutuhkan dengan membawa beras dan lainnya. Bantuan itu berasal dari para dermawan yang menitipkannya pada kami. Lokasi mereka tersebar di berbagai kampung. Para relawan mengetuk pintu rumah mereka terkadang hingga larut malam.

Suatu hari di penghujung Ramadan, sebuah truk berhenti di sekretariat kami. Kendaraan itu bermuatan penuh beras, total berjumlah 2 ton. Pengirimnya adalah Kang Jalal. Tentu kami bergembira, tapi juga kaget dengan kiriman sebanyak itu. Maka kami pun kerja lembur untuk mengepaknya, memasukkan beras itu masing-masing ke dalam kantong plastik 5 kilogram dan membagikannya.

Meski sering memberi jalan keluar ketika kami mendapat kesulitan saat berkegiatan, Kang Jalal kerap meminta maaf karena merasa belum bisa banyak membantu. Kang Jalal selalu merendah, santun, tapi juga ingin melayani orang sebaik mungkin. Memang, kalau sudah urusan kaum mustadhafin, Kang Jalal “tanpa kompromi”.

Dermawan bersahaja ini pada Senin (15/2/2021) telah pergi jauh, memenuhi panggilan Sang Pemilik. Menyusul belahan jiwa tercintanya, Bu Euis. Tentu kami kehilangan teramat sangat. Semoga kami bisa menjaga, agar orang-orang yang membutuhkan tidak kehilangan kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan Kang Jalal selama ini. Supaya mereka tetap terhibur dan bisa tersenyum.

Wilujeng angkat, Kang. Mugia Gusti Allah nempatkeun Kang Jalal miwah Ibu Euis di sawarga.

***