Rahman Tolleng (1937-2019)

Rabu, 30 Januari 2019 | 19:30 WIB
0
93
Rahman Tolleng (1937-2019)
Rahman Tolleng (Deutsche Welle)

Saya belum pernah bertemu Rahman Tolleng. Namun, namanya sering dibicarakan oleh eks tokoh-tokoh Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) yang pernah saya temui. Paling banyak tentu saja berasal dari almarhum Imam Yudotomo, eks tokoh Gemsos Yogyakarta. Gemsos adalah underbouw Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Selain aktivis kawakan, Tolleng adalah pendiri Tabloid Mahasiswa Indonesia yang legendaris itu. Sejak masih hidup, ia telah disebut sebagai “legenda aktivis politik Indonesia”. Hari ini Sang Legenda, orang yang saya kira paling bertanggung jawab telah mencetak banyak sekali aktivis muda berlabel "anak-anak PSI" sejak dekade 1970-an, telah berpulang.

Saya masih menyimpan arsip wawancara Tolleng di Majalah TIARA No. 89, 10-23 Oktober 1993, ketika dia menyebut bahwa Prabowo adalah pelopor gerakan LSM di Indonesia. Ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, kebetulan adalah tokoh PSI.

“Prabowo itu anak istimewa juga. Baru tamat SMA dia sudah mendirikan sebuah LSM. Barangkali dialah yang pertama kalinya membuat LSM gaya baru di Indonesia, Lembaga Pembangunan. Di Jakarta Prabowo mengajak Dr. Alfian hingga Prof. Dr. Emil Salim, dan banyak aktivis lain, termasuk Ciil [Dr. Sjahrir—Red.]. Lalu membuka cabangnya di Bandung, dan saya menjadi salah seorang direktur (1970-1972) dalam Lembaga Pembangunan Jabar. Salah satu usaha LSM itu, menggarap Desa (sepatu) Cibaduyut," demikian ujarnya.

Penilaian Tolleng itu sepertinya tak berlebihan. Bina Swadaya, yang bisa disebut sebagai LSM tertua dan masih eksis hingga kini, baru berdiri pada tahun 1967. LP3ES, LSM tua lainnya, yang juga dibidani oleh ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, berdiri pada 1971. Maka tak berlebihan jika Lembaga Pembangunan yang didirikan Prabowo pada medio 1969 dianggap sebagai salah satu pelopor gerakan LSM di Indonesia.

Nama Rahman Tolleng pastilah akan dikenangkan. Dan ia memang patut mendapatkannya.

Selamat jalan, Om.

***